Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Belajar dari Vietnam Jalan Raya sebagai Prioritas

Hanif PP • Selasa, 20 Mei 2025 | 12:44 WIB
William Chang
William Chang

Malam, 31 Januari 2025. Pendaratan mulus di Ho Chi Minh Airport. Penerbangan bersama Singapore Airlines (SQ 957) dari Bandara Sukarno-Hatta Jakarta ke Ho Chi Minh menelan waktu dua jam lima menit.

Ho Chi Minh, sebuah kota berpenduduk 9.816.000 jiwa (2025), yang jugadisebut Saigon, telah berusia 300-an tahun dan tidak pernah tertidur. Sebagai kota terbesar, Ho Chi Minh sangat dinamis di Vietnam. Kota ini terletak di sepanjang Sungai Saigon (Song Sai Gon) di sebelah utara delta Sungai Mekong, sekitar 50 mil (80 km) dari Laut Cina Selatan. Pusat komersial Cho Lon terletak tepat di sebelah barat Kota Ho Chi Minh. Wilayah yang sekarang diduduki oleh Kota Ho Chi Minh telah lama menjadi bagian dari kerajaan Kamboja. Orang Vietnam pertama kali masuk ke wilayah tersebut pada abad ke-17. Hubungan dengan Perancis dimulai pada abad ke-18, ketika para pedagang dan misionaris Perancis menetap di daerah tersebut. Pada tahun 1859 kota ini direbut oleh Perancis, dan pada tahun 1862 diserahkan ke Perancis oleh kaisar Vietnam Tu Duc.

Sebagai ibu kota Cochinchina, Saigon diubah menjadi kota pelabuhan utama dan pusat metropolitan dengan vila-vila indah, gedung-gedung publik yang megah, dan jalan-jalan raya yang diaspal dengan baik dan ditumbuhi pepohonan. Jalur kereta api yang membentang di utara dan selatan kota dibangun, dan Saigon menjadi titik pengumpulan utama ekspor beras yang ditanam di delta Sungai Mekong. Kekhasan budaya Timur tak luntur walaupun masyarakat mulai hidup dalam modernitas kebudayaan mondial. Pernak-pernik khas Timur tampak dari sudut bangunan, ukiran, perhiasan, makanan, dan kegiatan harian. Kekayaan kebudayaan tetap terawat sampai sekarang.

 

Taat Berlalu Lintas

Ternyata benar cerita teman-teman UWDP (Universitas Widya Dharma Pontianak) yang pernah melakukan semacam kegiatan kampus ke Vietnam. Penataan kota Ho Chi Minh yang baik menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Keteraturan ini disertai pemeliharaan kebersihan lingkungan. Sepintas, terkesan kota ini terawat. Suasana kota berkembang seiring irama zaman digital. Kemacetan lalu lintas pada jam-jam tertentu dapat dipahami. Hanya, kemacetan ini belum separah di beberapa kota besar di kawasan Asia Tenggara, seperti Manila dan Jakarta. Kuncinya sederhana. Tata kelola lalu lintas ditangani secara profesional. Azas taat hukum diterapkan dengan sungguh-sungguh.

Keteraturan lalu lintas tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak pengguna jasa lalu lintas, tetapi terutama terletak pada para pengelola dan penanggung jawab lalu lintas dalam dinas terkait. Jumlah jalan, penduduk, kendaraan, dan peraturan lalu lintas sangat menentukan keteraturan lalu lintas di sini. Tentu, sanksi untuk para pelanggar lalu lintas tidak dapat diabaikan. Sebenarnya, yang sangat penting dalam sebuah kota (termasuk ibu kota Provinsi Kalbar) atau kabupaten-kabupaten adalah penyediaan sarana tanspor publik berupa bus-bus kota yang beroperasi dengan disiplin (tepat waktu), teratur, bersih, dan aman untuk menolong warga masyarakat yang ingin ke sekolah, tempat kerja, dan berbelanja. Jika sebuah kota tertata baik, umumnya pemerintah daerah akan lebih memprioritaskan kendaraan-kendaraan umum yang aman dan nyaman yang dapat menolong warga masyarakat dan wisatawan asing untuk mencapai lokasi-lokasi yang diperlukan.

Tata kelola lalu lintas bertaraf internasional umumnya dan selalu mendahulukan kepentingan umum dan tidak membiarkan masyarakat bingung atau sulit mencari kendaraan umum yang terjangkau dengan harga relatif murah. Keseriusan pengelolaan lalu lintas di Vietnam memungkinkan Saigon dan daerah-daerah wisata lain terjangkau denganmudah. Koneksitas lalu lintas antarwilayah terkelola dengan baik sehingga wisatawan tidak mengalami kesulitan untuk bepergian dan menikmati daerah-daerah yang menarik. Secara tidak langsung penanaman modal dalam bidang pengelolaan lalu lintas akan mempermudah seluruh akses ke daerah-daerah indah walaupun terpencil. Wisatawan tidak jemu atau bosan berkunjung ke Vietnam karena lalu lintas dan infrastruktur tertata dengan baik. Kedatangan wisatawan ke daerah-daerah turis pun pada dasarnya ikut mendongkrak keadaan ekonomi masyarakat lokal.

Kendaraan-kendaraan pembawa wisatawan atau pengunjung dari luar daerah umumnya berkelas dan masih baru. Selama perjalanan ke daerah-daerah di Vietnam tidak ada kendaraan yang mogok di jalan karena kerusakan teknis. Pemerintah secara rutin memantau kelayakan pakai sebuah kendaraan dan tidak segan memberikan peringatan atau sanksi bagi pengguna kendaraan dianggap sudah kadaluarsa dan tidak layak pakai.Daya tampung kendaraan pengangkut barang tidak melampaui ketentuan yang berlaku. Bahaya kecelakaan dihindari sedapat mungkin. Pengendara yang berani meneguk minuman beralkohol akan disanksi dengan denda yang tidak ringan. Seorang pengendara sepeda motor yang meneguk minuman beralkohol akan dikenakan sanksi sebesar Rp.3.000.000,00. Ini termasuk salah satu sistem pendidikan bagi pengendara untuk mengikuti ketentuan peraturan lalu lintas di Vietnam. 

 

Utamakan Pembangunan Jalan-jalan Raya

Harus diakui, pembangunan infratruktur berupa jalan raya yang bermutu menjadi prioritas negara ini. Dalam negara seluas 331.211,6 kilometer persegi akan ditemukan jalan-jalan yang dirancang dengan matang. Jalan raya dalam sebuah provinsi umumnya terdiri dari dua jalur dan masing-masing jalur terdiri dari dua jalan raya. Ukuran jalan lebar. Kemacetan parah teratasi. Kecelakaan sangat jarang karena pengendara taat aturan dalam berlalu lintas. Keadaan jalan memungkinkan pengendara untuk tidak kebut-kebutan. Proses pembangunan jalan raya tidak tambal sulam. Perencanaan matang dan terpadu. Pemerintah tidak segan-segan mengambil tanah yang diperlukan demi pembangunan jalan raya yang mendahulukan kepentingan umum. Sistem ganti rugi (bukan ganti untung!) dilaksanakan dengan baik sehingga rakyat merelakan tanah mereka demi kepentingan nusa dan bangsa.

Ini bisa dipahami. Jalan raya menjadi urat nadi hidup sosial, kemajuan ekonomi, dan seluruh negara. Tanpa jalan raya yang bermutu baik, seringkali rencana apa sehebat apa pun akan terbengkalai. Keadaan jalan raya yang baik mendatangkan banyak dampak positif dalam hidup masyarakat. Rakyat senang kalau memiliki jalan raya yang baik. Kendaraan tidak cepat rusak. Waktu perjalanan dapat dihemat. Kecelakaan dapat dihindari sedapat mungkin.Rencana bisnis dapat berjalan dengan baik. Optimisme sosial terbangun dan terpelihara melalui keadaan infrastruktur jalan raya yang tertata baik.

Pembangunan jalan raya yang bermutu baik membuat Ho Chi Minh cepat berkembang. Data Januari 2025 menunjuk bahwa Vietnam berhasil menarik wisatawan mancanegara sebanyak 17,6 juta dalam tahun 2024. Ini berarti dalam setahun jumlah wisatawan mancanegara mengalami kenaikan setinggi 39,5 persen. Kantor Statistik Umum (General Statistics Office) mengatakan bahwa dalam tahun kemarin jumlah wisatawan mancanegara yang datang berkisar 17-18 juta orang. Tentu, jumlah ini tidak sedikit kalau dibandingkan dengan ukuran negara Vietnam. Sementara itu, jumlah turis mancanegara yang berkunjung ke Indonesia berkisar 13,9 juta dalam tahun 2024. Data di atas menunjukkan bahwa sebagai sebuah negara, Vietnam menyimpan rahasia menarik turis-turis asing. Salah satu di antaranya adalah keadaan negara yang tertata baik, masyarakat sebagai tuan rumah, infrastruktur, dan objek wisata yang memikat hati wisatawan. Bukan hanya jalan-jalan raya penghubung antarkota, tapi juga jalan-jalan yang bagus pun sudah menembus kawasan-kawasan pinggiran. Kepedulian negara dalam membangun infrastruktur sangat terasa dan pantas dijempoli. Masyarakat kecil, walaupun tinggal di daerah-daerah pinggiran tetap merasa nyaman. Taksi akan mengantar mereka sampai ke depan rumah mereka karena infrastruktur jalan sudah tertata dengan baik. Persentase jalan rusak memang relatif lebih sedikit karena dalam arah pembangunan negara seluas 331.211,6 kilometer persegi ini sungguh memprioritaskan pembangunan infrastruktur berupa jalan-jalan dan tempat-tempat umum yang indah dan dapat menarik wisatawan luar negeri. Dengan infrastruktur yang baik inilah wisatawan asing dapat merambah daerah-daerah piknik yang indah dan bersejarah dengan bangunan pagoda, gereja, tempat-tempat ziarah rohani dan bersejarah, pemandangan berupa gunung, sungai, dan pantai, dan kekayaan alam yang masih terpelihara dengan baik. Semangat merawat dan memelihara alam termasuk salah satu keistimewaan warga Vietnam.

 

Pembenahan Tempat Wisata

Perhatian negara terhadap daerah-daerah wisata termasuk prioritas pembangunan. Sangat disadari bahwa pengelolaan wisata yang profesional akan mendatangkan dan meningkatkan penghasilan masyarakat lokal. Daerah wisata dapat mengikis kemiskinan masyarakat. Mengapa? Kendaraan seperti taksi, bus wisata, dan tradisional akan dimanfaatkan oleh wisatawan dalam menjangkau daerah-daerah wisata. Dinamika dalam lapangan kerja bergerak terus. Pendapatan dunia transportasi didongkrak dan keadaan ekonomi masyarakat ikut ditingkatkan.

Hanya dalam waktu sekitar dua jam dari Ho Chi Minh kami sampai di daerah Song Vinh, Provinsi BaRia-Vung Tau dengan sebuah mobil pengantar wisatawan. Jarak kedua kota sekitar 125 km. Kecepatan kendaraan sekitar 60 km per jam. Jalan mulus dan lebar. Bebas hambatan. Tidak macet. Vung Tau adalah salah satu tujuan wisata yang paling menarik dan memiliki pantai-pantai yang indah dan luas. Tujuan wisata ini terawat dengan baik. Daerah ini terletak di perbatasan antara Vietnam Selatan dan Barat. Ribuan orang akan datang mengunjungi daerah turis ini terutama pada akhir pekan dan waktu liburan. Keindahannya tak tersangkalkan. Kesempatan berenang dan bersantai tersedia.

Yang menarik adalah bagaimana keindahan alam ini dipadukan dengan karya tangan manusia berupa perkebunan nenas, bangunan-bangunan rumah ibadah seperti pagoda, gereja, dan biara. Wisatawan datang tidak hanya menikmati keindahan alam, tapi mereka juga menikmati hasil kebudayaan mereka. Keahlian seniman untuk memahat dan menghiasi bangunan dengan kebudayaan khas Vietnam sangat menonjol. Sebuah gua telah diubah menjadi sebauh tempat tinggal yang menarik. Sebuah kolam bekas bom atom yang jatuh dijadikan sebuah kolam ikan yang bersih dan menarik perhatian para pengunjung.

Namun, satu hal yang sangat mengesankan adalah kesadaran masyarakat luas bahwa perawatan dan pengelolaan daerah wisata adalah tanggung jawab bersama. Ini sangat terasa. Bersih, teratur, indah, menawan hati, dan membuat mereka betah untuk tinggal lebih lama di daerah wisata. Keamanan terjamin. Sanksi akan diterima oleh mereka yang mengganggu keamanan wisatawan. Ini termasuk unsur penting yang membuat wisatawan merasa kerasan di Vietnam.

 

Pertumbuhan Ekonomi yang Cepat

Pertumbuhan ekonomi yang cepat tak terlepas dari keadaan infrastruktur yang terencana dengan baik sejak awal. Fasilitas kendaraan umum terjamin. Masyarakat, walaupun berekonomi lemah, tetap bisa menikmati kemudahan-kemudahan sosial yang sungguh diperhatikan oleh negara. Perhatian sosial sangat menonjol. Data menunjukkan bahwa sebagai Republik Sosialis, Vietnam telah menoreh kemajuan ekonomi yang cepat. Negara berpenduduk sekitar 101.598.527 jiwa ini atau 1,23 persen penduduk dunia, menurut Bank Dunia, tergolong sebagai negara yang berpenghasilan menengah rendah dengan pendapatan per kepala sekitar 4.282 dollar AS per tahun.

Mengapa bisa begitu? Etos kerja masyarakat Vietnam memang menonjol. Kadar pengangguran dalam tahun 2024 berkisar 2,24 juta jiwa, atau 1,06 juta jiwa. Angka ini mencerminkan bahwa sistem pemerintahan dan pengaturan yang baik sungguh diperhatikan sehingga jumlah penganggur dapat dikatakan relatif kecil. Pengangguran umumnya mendatangkan kemiskinan. Konsekuensi sosial sangat terasa kalau angka pengangguran kecil. Konflik sosial, tingkat kejahatan, dan keresahan sosial dapat dikatakan relatif kecil. Kebudayaan kerja keras memang terasa. Tanah yang tersedia sungguh diolah dengan baik sehingga swasembada pangan terasa kuat. Keadaan ekonomi kaum tani kian meningkat karena hasil kerja mereka masuk ke dalam pasar dunia.

Petani-petani di Vietnam umumnya bekerja keras, kreatif, dan inovatif. Mereka selalu memikirkan bagaimanakah caranya untuk mendongkrak mutu tanaman sehingga layak dijual dan bahkan diekspor ke luar negeri. Martabat seorang petani tetap dihargai karena tanpa mereka manusia akan sulit hidup dan berkembang.

Jika pemerintah sungguh peduli dengan hidup dan perjuangan petani, maka aparat pemerintah tidak akan membiarkan tengkulak dan pihak lain untuk mempermainkan harga tanaman sesuka hati. Kepedulian dan keterlibatan pemerintah untuk memperjuangkan hak petani akan menjadi salah matu mata pencaharian yang tidak ditinggalkan, tapi justru dikembangkan dengan baik, sehingga sebuah negara agraris tidak mungkin harus mengimpor bahan makanan dari luar.

Nah, dalam hal pembangunan jalan, pengaturan lalu-lintas, pengelolaan tempat wisata, dan pendongkrakan ekonomi kita masih perlu belajar dari Vietnam, yang sedang menyiapkan diri sebagai seekor naga kuat di kawasan Asia Tenggara.**

 

*Penulis adalah Rohaniawan Katolik.

Editor : Hanif
#jalan raya #pembangunan #bandara #prioritas #infrastruktur #vietnam #Ho Chi Minh