Oleh: Sholihin HZ*
Diceritakan dari Anas ra, bahwa suatu hari ada seorang sahabat yang menemui Nabi Muhammad saw lantas bertanya. “Ya Rasulullah, aku hendak berpergian. Berikan kepadaku bekal”. Rasulullah SAW lantas menjawab, “Zawwadakallahut taqwa.”
Lantas sahabat itu bertanya lagi, “Tambahkan lagi Ya Rasulullah sebagai bekalku.”
“Ghafara dzanbaka,” ujar Rasulullah saw menambahkan.
Ternyata tidak sampai disitu, sahabat itu berkata lagi, “Zidni (tambahkan).”
Rasulullah SAW bersabda, “Wayassaralakal khaira haitsuma kunta.” Demikian Rasulullah SAW mengakhiri perkataannya.
Pesan Rasulullah SAW di atas menyiratkan kepada kita bahwa dialog ini mengajarkan bahwa siapapun yang mengadakan perjalanan (apalagi perjalanan jauh sehingga masuk kategori musafir), maka pesan ini menjadi penting. Sahabat ini mengawali pernyataannya dengan mengatakan bahwa aku akan mengadakan perjalanan dan apa yang harus kupersiapkan. Rasulullah saw mengawali jawabannya dengan zawwadakallahut taqwa yang artinya berbekallah dengan takwa. Taqwa sebagai wujud ketaatan atas perintah-Nya dan meninggalkan larangannya harus selalu dijaga dalam kondisi apapun baik saat berada dalam kondisi normal (mukim) maupun bagi yang mengadakan perjalanan dalam kondisi apapun. Hal ini menunjukkan bahwa taqwa atau berbuat kebaikan tidak dibatasi oleh waktu dan oleh siapapun. Hanya memang untuk musafir diberikan beberapa keringanan terkait dengan hukum agama yang berbeda kala saat berada di tempat. Bagi musafir diperbolehkan untuk menjama’ atau qashar sholat yang dilakukan ketika ia musafir, bagi musafir juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan semuanya tetap harus mengacu kepada ketentuan agama yang berlaku, jadi meskipun musafir tetap tidak boleh meremehkan hukum agama.
Mengapa Rasulullah berpesan kepada sahabat (dan kita semua) untuk berbekal dengan takwa? Jawaban ini kiranya dapat ditemukan kala Umar bin Khaththab bertanya kepada salah seorang sahabat nabi yang bertanya tentang takwa. Umar bertanya tentang makna takwa. Sahabat tersebut menjawab pengertian takwa dengan illustrasi berikut, “Wahai Saudaraku, ketika anda berjalan di jalanan yang penuh dengan pecahan kaca dan duri, bagaimana sikapmu saat menjalaninya?”
Umar menjawab bahwa kalau ia berjalan di jalanan yang demikian maka ia akan bersikap hati-hati. Sahabat tersebut lantas mengatakan, “Ketahuilah bahwa sikap hati-hatimu itulah yang dinamakan dengan takwa.” Jadi bekal yang dimaksud oleh Rasulullah dengan takwa adalah bisa bermakna hati-hati dalam bersikap, berbicara dan tetap memperhatikan apa yang menjadi perintah dan larangan agama.
Dalam perjalanan, seorang muslim harus tetap menjaga kualitas keagamaannya dengan menjaga salatnya, menjaga amalan-amalannya dan kebiasaan baiknya. Sesungguhnya di sinilah letak kemampuan seorang muslim dalam menjaga iman dan amalnya. Pesan berikutnya adalah ghafara dzanbaka (semoga Allah mengampuni dosamu).
Perjalanan dengan berbagai keadaan bisa menjadi faktor yang menyebabkan berkurangnya amal ibadah kita bahkan diselingi dengan salah dan khilaf. Memohon ampunan dan merenungkan kesalahan agar hati dan sikap selalu terjaga adalah bagian dari anjuran agama. Semoga Allah mengampunkan dosa kita bermakna dalam setiap perjalanan hati dan sikap ini untuk selalu dijaga, mengucapkan istighfar dan adanya sikap an nadamah atau penyesalan harus selalu mengiringi setiap langkah kita dan dalam konteks ini adalah bagi para musafir.
Pesan ketiga adalah wayassaralakal khaira haitsuma kunta maksudnya sebagai doa agar Allah SWT mempermudah kita untuk selalu berada dalam jalan kebaikan dimanapun berada. Pesan ini mengingatkan pada kita baik saat berlangsungnya perjalanan (haji) kita dituntun untuk menjadi pribadi yang bermanfaat yang memudahkan kita untuk menebarkan kebaikan. Terlebih lagi seseorang yang sudah menyelesaikan ibadah haji maka harapannya adalah menjadi haji mabrur. Mabrur bisa bermakna maqbul. Prof. Quraisy Syihab (2020: 137) mengemukakan adanya pendapat yang memaknai haji mabrur adalah haji yang maqbul (diterima oleh Allah SWT). Mabrur menurut ahli tafsir Indonesia saat ini, mabrur berarti benar, diterima dan keluasan dalam kebijakan.
Tiga pesan Rasulullah, menjadi relevan bagi saudara-saudara kita yang saat ini diizinkan Allah SWT mengunjungi Baitullah dengan iringan doa semoga perjalanannya, selama di haramain dan pulangnya dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun dan segala aktifitasnya tergolong mabrur (diterima oleh Allah SWT).**
*Penulis adalah penulis Buku “Rumus Hidup Bahagia”.
Editor : Hanif