Oleh: Sholihin HZ*
Dalam rukun Islam, posisi ibadah haji menempati urutan terakhir. Dilihat dari kesiapannya, maka tepat jika haji berada urutan kelima. Jika sholat adalah ibadah fisik namun bisa dipermudah karena kondisi pelakunya, salat harus dilakukan dengan berdiri namun jika tidak bisa diperbolehkan duduk dan seterusnya. Zakat, adalah ibadah harta karenanya yang memiliki harta yang diwajibkan untuk ber-ZIS (Zakat, Infaq dan Sadakah). Orang yang memberi karena diberi keluasan harta maka dia masuk kategori muzakki dan jika ia pada kategori tidak mampu maka ia masuk dalam kategori mustahiq. Demikian juga puasa, diberikan keringanan untuk tidak berpuasa berdasarkan QS. Al Baqarah/2: 184. Haji adalah ibadah yang merupakan gabungan dari ritual, ibadah fisik, kesehatan, keuangan dan keamanan perjalanan. Sebagai ibadah yang memerlukan beberapa kemampuan maka penempatan haji sebagai rukun Islam terakhir dapat dilihat sebagai sudah "membaiknya" salatnya, puasa dan zakatnya.
Perjalanan haji yang sangat jauh dan biaya yang tidak murah menjadikan calon jemaah haji merasakan haji sebagai perjalanan yang penuh dengan kesan. Kesan perjalanan spiritual. Sesungguhnya haji yang dijalani tidak sekedar berhenti pada kesan tapi pesan apa yang harus dimaknai sehingga puluhan hingga ratusan juta rupiah kita tidak berlalu begitu saja apalagi ibadah haji tuntunan dan tuntutannya sangat jelas dalam Alquran dan hadits.
Tulisan ini mengangkat tema terkait dengan ibadah tahunan yang melelahkan sekaligus membahagiakan. Pesan yang dapat diambil dalam prosesi tahunan ini adalah pertama, banyak tempat di area haji (haromain) sebagai tempat yang penuh dengan sejarah kenabian. Nabi Ibrahim khalilulllah dan Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah diantara dua kisah nabi yang sarat dengan jejak sejarahnya. Tapi jangan lupa, bisa diantara tempat yang kita tempati adalah tempat musyawarahnya para tokoh kafir Quraisy untuk membunuh Nabi Muhammad SAW, bisa saja tempat berdiri kita adalah tempat berkumpulnya kafir Quraisy dalam mengabdikan diri pada Tuhannya. Tetapi bahwa bisa saja tempat kita duduk adalah tempatnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu dan banyak lagi. Allah SWT mengingatkan betapa indah dan tertatanya Makkah - Madinah saat ini sangat jauh berbeda dengan 1400-an tahun yang lalu. Ini menunjukkan kerasnya geografis saat itu betapa besarnya tantangan dakwah Rasulullah dan para sahabatnya. Jika saat ini Makkah - Madinah bisa ditembus dengan beberapa jam perjalanan betapa kala itu hanya ada kendaraan unta dan kuda. Dakwah memang memiliki tantangan tersendiri.
Pesan kedua bahwa haji menuntut pelakunya memperhatikan sikap, ucapan dan perilakunya baik saat menunaikan ibadah haji lebih-lebih saat kedatangannya sudah ditanah air. Mabrur yang sering didekatkan dengan kata haji atau umrah, menurut Prof Quraisy Shihab bermakna benar atau diterima. Haji yang mabrur berarti haji yang diterima. Apa ukurannya? Jika usai menunaikan ibadah haji dalam hal ketaatan dan perilaku mencerminkan sebagai seorang yang arif, bijak dan istiqamah.
Pesan berikutnya dari perjalanan haji adalah bahwa kadang untuk mencapai kedudukan atau maqam tinggi mesti melewati tahapan dan langkah yang membutuhkan keseriusan dan fokus. Perjalanan haji adalah perjalanan tertinggi sebagai puncak keberimanan seseorang. Di sebagian daerah predikat haji atau hajjah menempati posisi terhormat dan karena terhormatnya dan penghormatan itu ada lebih didasarkan keilmuan seorang terutama ilmu agama. Seorang haji adalah seorang yang bisa diandalkan dalam hal memimpin kegiatan keagamaan dan akan lebih baik lagi lebih dari bidang itu setidaknya sebagai tempat bertanya.
Seorang haji adalah seorang yang bisa dimajukan sebagai imam masjid, pemimpin doa, penyampai kebenaran bahkan kadang wilayah kerjanya lebih luas daripada lingkungan masjid di mana ia berada.
Terakhir, perjalanan haji mengajari kita untuk menapaktilasi perjuangan dakwah para nabi dan rasul. Betapa sedihnya Siti Hajar bersama puteranya Ismail kala ditinggal suami tercinta Nabi Ibrahim di tempat yang sunyi dan tiada satu orangpun kecuali mereka berdua. Betapa paniknya Siti Hajar lantaran Ismail kehausan di tempat yang tidak ada kolam dan sumur. Saat ditanyakan kepada Ibrahim tentang kondisi ini. Ibrahim menjawab, "Ini perintah Allah." Tenang dan nyaman perasaan Siti Hajar karena ia sangat yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya tanpa dalam pengawasannya.
Haji bermakna ziarah. Mengunjungi dua kota suci sebagai bentuk menghambakan diri. Haji harus difahami dan digali makna sedalam-dalamnya karena haji bukanlah menambah panjang nama dengan huruf 'H' di depannya. Haji bukanlah berbangga dengan kopiah putih dan sorban membungkus badan. Haji adalah ibadah yang siapapun pernah melakukannya maka memaknai haji sebagaimana diuraikan di atas akan nampak dalam kesehariannya. Semoga jemaah haji Indonesia dan Kalimantan Barat khususnya menjadi jamaah haji yang hajinya diterima dan benar disisi Allah SWT. **
*Penulis adalah Ketua PW Pergunu Kalimantan Barat.
Editor : Hanif