PONTIANAK POST - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama RI telah menetapkan dalam sidang isbat bahwa 1 Zulhijjah 1446 Hijriyah jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025. Itu artinya, umat Islam di tanah air akan merayakan Hari Raya Iduladha 10 Zulhijjah 1446 Hijriyah pada Jumat, 6 Juni 2025.
Hari Raya Iduladha atau Hari Raya Kurban merupakan peristiwa yang mengingatkan kita pada kisah seorang khalilullah (kekasih Allah SWT), Nabi Ibrahim AS yang Allah SWT uji kecintaannya, antara cintanya kepada keluarga (Nabi Ismail as dan Siti Hajar) dan cintanya kepada Allah. Hal ini membuat kita harus mengambil pelajaran darinya. Allah SWT. Berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita untuk belajar takwa kepada Allah SWT. Betapa tidak, di usianya yang masih muda, ketauhidan Nabi Ibrahim sudah muncul ketika ia mencari Tuhannya. Bulan dan bintang dikira ‘Tuhan’, tapi ia kecewa ketika bulan dan bintang menghilang di siang hari. Matahari dikira ‘Tuhan’, namun ia juga kecewa ketika malam tiba, matahari lenyap di gelap malam. Ia sangat yakin bahwa Tuhan tidak akan mungkin hilang atau lenyap. Inilah salah satu ciri ketakwaan seorang Nabi Ibrahim yang di usia mudanya sudah tampak.
Kita juga bisa belajar takwa dari Nabi Ibrahim, bagaimana ia menghancurkan berhala yang disembah oleh Raja Namruz dan para pengikutnya, akibatnya Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup. Namun, atas izin dan kehendak Allah SWT. Nabi Ibrahim tidak hangus dibakar api sebagai mukjizat Nabi Ibrahim. Bagaimana belajar takwa dari Nabi Ibrahim dalam kehidupan di zaman modern sekarang ini? Kita bisa belajar takwa dari kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Pertama, berbaik sangka kepada Allah SWT. Ahmad Bahjat dalam kitab Anbiyaa Allah (Nabi-Nabi Allah) dijelaskan bahwa pada suatu hari, Nabi Ibrahim terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba dia memerintahkan Siti Hajar untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan yang panjang. Pada saat itu Ismail kecil masih belum disapih. Mereka berjalan sampai akhirnya tiba di padang sahara, pegunungan, dan masuk ke daerah jazirah Arab. Akhirnya menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan, tidak ada minuman, singkatnya tempat itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Di tempat itu Nabi Ibrahim menurunkan istri dan anaknya tanpa berkata-kata. Mereka berdua hanya dibekali sekantong makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu. Siti Hajar terperangah diperlakukan demikian, dia membuntuti suaminya sambil bertanya, “Wahai Ibrahim hendak pergi ke manakah engkau? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?”
Nabi Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Siti Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Nabi Ibrahim tetap membisu. Akhirnya Siti Hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?” Nabi Ibrahim menjawab, “Benar.”
Kemudian istri yang solehah dan beriman itu berkata, “Allah SWT. tidak akan menyia-nyiakan kami di sini.”
Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bagaimana Nabi Ibrahim dan Siti Hajar mampu berbaik sangka kepada Allah SWT, mereka meyakini bahwa selagi mereka bersama Allah SWT, maka tidak akan ada yang menyengsarakannya, tidak akan ada yang dapat mencelakainya, tidak akan ada yang dapat melukainya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah SWT.
Kedua, mencari rezeki yang halal. Setelah Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya, Siti Hajar menyusui Ismail sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas matahari menyengat sehingga mengeringkan tenggorokan. Setelah dua hari, air yang dibawanya habis, air susunya pun kering. Siti Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis, kegelisahan dan kekhawatiran membayangi Siti Hajar.
Ismail mulai menangis karena kehausan. Kemudian sang ibu berlari-lari kecil sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian dia naik ke atas bukit itu. Dia mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang ditemuinya. Kemudian bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari-lari kecil sampai di bukit Marwah. Dia naik ke atas bukit itu, tetapi tidak ada apapun yang ditemuinya.
Siti Hajar turun dari bukit Marwah untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Melihat anaknya seperti itu, dengan galau dia kembali ke bukit Shafa dan naik ke atasnya. Kemudian dia ke bukit Marwah dan naik ke atasnya, Siti Hajar bolak-balik antara dua bukit, Shafa dan Marwah, sebanyak tujuh kali.
Ada rahasia yang jarang dikupas dari kejadian ini, yaitu kesungguhan Siti Hajar dalam mencari air. Dikeluarkannya segala tenaganya bolak-balik dari Shafa dan Marwah, walaupun belum mendapatkan air, tapi dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki dengan mengeluarkan segala kemampuan yang dimiliki, karena kita diperintahkan bagaimana usaha untuk mencari rezeki yang halal. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang muslim itu, jika ia memberi nafkah kepada keluarganya, maka itu akan menjadi sedekah untuknya.” (HR. Ibnu Hibban)
Ketiga, berkorban untuk Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar.”” (QS. Ash-Shaaffat: 102)
Renungkanlah bentuk ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim. Ia hanya berpikir tentang putranya, apa yang harus beliau katakan kepada Ismail, saat hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih? Nabi Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata yang jujur dan lemah lembut kepada putranya. Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail dan Nabi Ibrahim, walaupun yang dikorbankan adalah putranya sendiri, Ismail. Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya tentang makna pengorbanan kepada Allah, sebagaimana yang dimaksud dalam QS. Al-Kautsar: 2, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” Wallahu a’lam.**
*Penulis adalah Guru MAS GERPEMI Tebas, Kabupaten Sambas.
Editor : Hanif