Oleh: Khairul Fuad*
Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), Iduladha, termasuk Idulfitri yang telah berlalu, selalu dibarengi oleh segala aspek kehidupan dan tentunya aspek agama tetap dominan. Menandakan bahwa agama sebenarnya kompatibel dengan hal-hal yang dipandang di luar agama sekalipun. Agama selalu menghadirkan aspek lain sehingga terdapat sisi keagamaan secara tak kasat mata meski dahulu pernah hadir mewarnai aspek kehidupan sehingga sering tak disadari terselip nilai-nilai keagamaan.
Demikian juga, aspek kebahasaan ikut berpartisipasi hadir dalam ruang keagamaan sehingga antara kasat dan tak kasat mata justru saling berpadu, bukan beradu. Pisah, sambung, dan ejaan setidaknya memberi warna sisi keagamaan selama ini, misalnya Iduladha dan Idulfitri ditulis sambung, bukan dipisah Idul Adha dan Idul Fitri, demikian juga Halalbihalal, bukan Halal Bihalal. Memang tampak profan secara kasat mata terkait kebahasaan dalam koridor kaidah penulisan, namun secara tak kasat mata tersimpan sisi keagamaan yang mendasari salah satu wacana kebahasaan, bahasa Indonesia,
PHBI Iduladha tidak luput dalam sorotan kacamata kebahasaan, tetap dalam kaidah penulisan yang sesuai dan tidak menurut kaidah tata bahasa Indonesia. Dua kata kurban dan korban merupakan wacana kebahasaan yang sering dikedepankan di ruang publik melalui sebuah media, sudah tentu kanal-kanal media sosial di era sekarang. Dua kata ini sering dipertukarkan tempat peruntukannya padahal memiliki arti yang berbeda. Kurban lebih terkait dengan Iduladha, sedangkan korban sama sekali tidak, terkait dengan sebuah peristiwa berujung dampak, baik bersifat material maupun immaterial.
Namun demikian, kurban dan korban tidak semata tersemat pada seputar kebahassan, tetapi tersemat juga sisi keagamaan. Mengingat agama terpumpun, baik kulit lahiriah maupun kulit batiniah atau eksoteris maupun esoteris. Misalnya, melihat tersemat arti secara kasat mata dan makna secara tak kasat mata, yaitu antara penggunaan mata telanjang dan mata batin. Basar bermakna melihat melalui dua cara berbeda, dan bahkan diperkuat dengan konstruk kata berbeda, yaitu absar (mata telanjang) dan basa’ir (mata batin) dalam konstruksi jamak (plural).
Kurban dan korban dapat diiriskan, atau istilah sekarang ini, upaya interdisipliner dengan kontesktualisasi kekinian melalui maraknya demam media sosial. Tampaknya, tidak lagi demam, tetapi media sosial sudah merasuki individu dan komunal sampai tulang sumsum. Bahkan kemungkinan besar merusaki jaringan interaksi dan hubungan tatanan sosial selama ini.
Buktinya, di ruang publik atau di setiap kesempatan, individu-individu selalu menenteng dan bahkan asyik-masyuk dengan gawainya. Tidak cukup di situ, sistem pengelolaan apapun itu, tidak lepas dengan media sosial, terutama aplikasi elektronik sehingga tidak cukup alasan untuk menyalahkan jika masyarakat hampir mayoritas selalu menenteng gawainya.
Di sisi lain, media sosial bukan semata kambing hitam persoalan kekinian, melainkan fenomena kekinian untuk diantisipasi atau diimbangi melalui sebuah pendekatan agar tidak merasuki apalagi merusaki. Kurban dan korban sebuah pendekatan kebahasaan dan keagamaan sebagai upaya tersebut untuk meminimalisasi dampak akibat media sosial. Ibarat sebuah sampan di atas sungai, media sosial perlu dinaiki karena eranya, tetapi perlu dayung sebagai pandu bermanuver demi tidak terbawa arus salah yang justru nantinya menenggelamkan.
Kurban sejatinya serapan dari bahasa Arab, qurban berarti dekat, yang sering dipertukarkan dengan Iduladha, terutama adha atau udhiyyah berarti sembelihan. Saat perayaan pascasalat Iduladha dilaksanakan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.
Hewan sembelihan sejatinya bukan untuk Allah, melainkan takwa sebagai parameter dan tolok-ukur penghambaan, yaitu patuh perintah dan menjauhi larangan-Nya. Inpirasi Nabi Ibrahim, Nabi Ismail putranya, dan Siti Hajar istrinya, menghadirkan ketakwaan saat mendapatkan perintah-Nya untuk menyembelih putranya. Atas kepatuhan diganti dengan sembelihan besar (dzibhin ‘adzim) sebagai ganjaran.
Oleh karena itu, pendekatan sebagai upaya demi tidak terjerumus apalagi terjerembab ke dalam arus media sosial. Ibarat riak Kapuas, media sosial itu permukaannya terlihat tenang menyegarkan pandangan, tetapi turbulensi arus potensi menggulung saat terjerembab di dalamnya. Hati-hati, saring sebelum sharing upaya pendekatan agar media sosial jutru tidak menjadi senjata makan tuan. Dulu mulutmu harimaumu, kini jempolmu harimaumu sebagai peribahasa menjadi renungan agar tidak terjebak turbulensi arus media sosial yang siap menggulung tanpa ampun.
Man behind the gun, manusia di balik kendali senjata, merupakan ujaran cocok yang menilai bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) turut berperan antisipasi media sosial. Demikian juga, SDM berperan memaknai atau mengiris kurban sebagai kontekstualisasi Iduladha, ibarat dayung yang mengarahkan sampan di tengah arus media sosial. Pada gilirannya, turbulensi arusnya tidak mampu menggulung, yang berujung korban era milineal serba digital.
Kurban adalah mendekati dengan ibarat berdayung sampan di atas permukaan Sungai Kapuas yang tenang lagi luas dan panjang. Sebagaimana media sosial yang massif berdampak luas dan berjaring panjang sampai ke seberangnya seberang. Akan tetapi, perlu hati-hati saat di permukaan karena di bawahnya mengalir riak Kapuas siap menjadikan korban yang diketemukan jauh saat awal tenggelam. Sebagaimana media sosial, semenjak awal berkibar telah banyak korban bertumbangan karena kurang pekanya saring sebelum sharing sebagai dayung di tengah arus elektronik yang memudahkan lagi menyenangkan. Selamat Hari Raya Iduladha 1446 Hijriah.**
*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).
Editor : Hanif