Oleh: Sigit Aprisama*
Teknologi berkembang dengan sangat pesat pada saat ini. Teknologi juga telah menguasai segala aspek kehidupan tidak terkecuali di dalam dunia pendidikan. Pembelajaran tidak lagi terikat di dalam ruang kelas fisik akan tetapi dapat dilakukan di mana saja melalui ruang kelas virtual. Guru di era ini dihadapkan pada tantangan untuk mampu memanfaatkan berbagai platform digital, seperti Learning Management System (LMS), aplikasi pembelajaran interaktif, hingga kecerdasan buatan untuk mendukung proses pembelajaran yang dilakukannya.
Di sisi lain, kemampuan siswa dalam menguasai teknologi yang beragam menjadi kendala tersendiri yang harus diatasi oleh guru dengan pendekatan pedagogis yang tepat. Selain itu, kebutuhan untuk mengintegrasikan konten pembelajaran dengan teknologi secara efektif juga menjadi tantangan utama dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Oleh karena itu, guru masa depan harus dipersiapkan dengan baik agar mampu beradaptasi dan berinovasi di tengah dinamika perkembangan teknologi pendidikan.
Guru masa kini dituntut untuk tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga mampu menjadi fasilitator pembelajaran yang kreatif dan adaptif terhadap perubahan. Tanpa kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi dan menggunakannya untuk menyampaikan materi pelajaran, seorang guru berisiko kehilangan relevansi dalam proses pembelajaran yang semakin menuntut penggunaan teknologi.
Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan membekali calon guru dengan menguasai pendekatan Technological Pedagogical and Content Knowledge atau yang biasa disingkat TPCK. Pendekatan TPCK menawarkan solusi strategis dalam menyiapkan calon guru yang profesional dan relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Melalui TPCK, calon guru tidak hanya dibekali pemahaman mendalam tentang materi pelajaran (Content Knowledge), tetapi juga keterampilan mengelola strategi pengajaran (Pedagogical Knowledge) yang efektif, serta kemampuan memanfaatkan teknologi pendidikan (Technological Knowledge) secara optimal. Integrasi ketiga aspek ini memungkinkan calon guru untuk merancang pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan kontekstual sesuai dengan perkembangan zaman dan karakteristik peserta didik. Dengan demikian, menguasai pendekatan TPCK tidak hanya mendorong lahirnya guru yang cakap dalam mengajar, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam mengembangkan budaya belajar berbasis teknologi di sekolah. Penerapan TPCK secara sistematis di lembaga pendidikan guru diyakini dapat meningkatkan kualitas lulusan yang siap menghadapi tantangan pembelajaran abad ke-21.
Menurut Mishra dan Koehler (2006), TPCK adalah kerangka kerja konseptual yang menggambarkan jenis pengetahuan yang dibutuhkan guru untuk mengintegrasikan teknologi secara efektif dalam pembelajaran. TPCK menekankan bahwa selain menguasai teknologi guru juga harus memahami bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara tepat dalam konteks materi pelajaran (konten) tertentu dan strategi pengajaran (pedagogi) yang sesuai. Dengan kata lain, TPCK adalah hasil dari interaksi dinamis antara tiga komponen utama, yaitu Content Knowledge (CK), Pedagogical Knowledge (PK), dan Technological Knowledge (TK). Ketiga elemen ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan membentuk pengetahuan yang utuh untuk mendukung pembelajaran yang efektif di era digital.
TPCK terdiri dari tiga komponen utama yaitu Technological Knowledge (TK), pengetahuan tentang berbagai teknologi, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software), serta bagaimana penggunaannya dalam kegiatan pembelajaran; Pedagogical Knowledge (PK) pengetahuan tentang teori, metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang efektif, termasuk pengelolaan kelas dan pemahaman terhadap cara siswa belajar; dan Content Knowledge (CK), penguasaan materi pelajaran atau bidang ilmu yang diajarkan, termasuk struktur konsep dan prinsip-prinsip dasarnya.
Dari tiga area tersebut menghasilkan tiga area baru yang saling berinteraksi yaitu Pedagogical Content Knowledge (PCK), pengetahuan tentang bagaimana mengajarkan suatu materi dengan pendekatan pedagogis yang tepat; Technological Content Knowledge (TCK), pengetahuan tentang bagaimana teknologi dapat merepresentasikan atau memvisualisasikan materi pelajaran secara lebih efektif; dan Technological Pedagogical Knowledge (TPK), pengetahuan tentang bagaimana teknologi dapat mendukung dan memperkaya metode dan strategi mengajar. Selanjutnya dari tiga area tersebut menghasilkan satu area yang mengintegrasi semuanya yang dikenal dengan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPCK).
Dalam hal ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang melaksanakan pendidikan untuk calon guru memegang peran strategis dalam menanamkan kompetensi TPCK kepada calon guru sejak awal masa pendidikan mereka. Sebagai institusi pencetak guru profesional, fakultas tersebut bertanggung jawab untuk merancang kurikulum, program pelatihan, serta pengalaman pembelajaran yang mendorong integrasi teknologi, pedagogi, dan konten secara seimbang. Melalui berbagai kegiatan seperti workshop, microteaching berbasis teknologi, penggunaan Learning Management System (LMS), serta praktik mengajar di sekolah mitra, kampus dapat melatih calon guru agar terbiasa memilih, memanfaatkan, dan mengadaptasi teknologi untuk mendukung proses pembelajaran. Dengan peran aktif ini, FKIP/FTIK diharapkan mampu menghasilkan lulusan guru yang siap menghadapi tantangan pembelajaran digital dan mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik mereka nantinya.
Implementasi TPCK dalam pendidikan calon guru tidak terlepas dari berbagai tantangan dan harus diatasi secara sistematis. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur teknologi di sebagian FKIP/FTIK, seperti akses internet yang kurang memadai, keterbatasan perangkat digital, atau minimnya ketersediaan software pembelajaran interaktif. Selain itu, masih terdapat mahasiswa yang memiliki literasi digital yang rendah, sehingga kesulitan dalam mengintegrasikan teknologi secara optimal dalam proses pembelajarannya.
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan solusi berupa pelatihan intensif dan berkelanjutan bagi calon guru agar mampu menguasai berbagai aplikasi dan platform pembelajaran digital. FKIP/FTIK juga dapat memperkuat kolaborasi dengan sekolah mitra untuk menyediakan lingkungan praktik yang mendorong penerapan TPCK secara nyata. Selain itu, pengembangan kebijakan internal yang mendukung budaya inovasi dan pembaruan teknologi di lingkungan kampus menjadi langkah penting agar implementasi TPCK dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Selanjutnya, dengan pola ini diharapkan calon guru tidak hanya menguasai teknologi secara teknis, tetapi juga mampu menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Sebagai penutup, TPCK menjadi pendekatan penting dalam membentuk guru yang kompeten di era digital. Sinergi antara pengetahuan materi pelajaran, strategi pengajaran, dan pemanfaatan teknologi harus terintegrasi dalam proses pendidikan calon guru, sejalan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang kian menekankan peran teknologi informasi. Melalui penguasaan TPCK, calon guru diharapkan dapat merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi proses pembelajaran secara inovatif, kreatif, serta sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik masa kini. Oleh sebab itu, penerapan TPCK secara terencana dan konsisten merupakan langkah krusial untuk menghasilkan guru profesional yang responsif terhadap perkembangan zaman, terampil menggunakan teknologi secara optimal, dan mampu bersaing di kancah pendidikan global.**
*Penulis adalah pegawai IAIN Pontianak.
Editor : Miftahul Khair