Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Implikasi Transformasi Digital terhadap Kesenjangan Pendidikan

Hanif PP • Kamis, 19 Juni 2025 | 15:01 WIB
Ilustrasi Transformasi Digital
Ilustrasi Transformasi Digital

Oleh: Adetia Revanda

Di era digital yang terus berkembang pesat, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir semua sektor mengalami kemajuan teknologi, termasuk bidang pendidikan. Munculnya berbagai platform pembelajaran daring, aplikasi interaktif, video edukatif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pembelajaran telah mengubah wajah pendidikan secara drastis. Namun, di balik perkembangan yang mengesankan ini, kita perlu merenung apakah teknologi benar-benar telah meningkatkan kualitas pendidikan? Atau justru menciptakan bentuk-bentuk ketimpangan baru yang lebih kompleks? Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa teknologi dalam pendidikan adalah alat, bukan jawaban utama. Teknologi bisa menjadi jembatan kemajuan, tetapi juga bisa menjadi jurang pemisah bagi semua tergantung bagaimana, oleh siapa, dan untuk siapa digunakan.

Tak dapat dipungkiri, teknologi membawa potensi besar dalam mempermudah proses pembelajaran. Salah satu contoh nyata adalah saat pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Seluruh aktivitas pembelajaran harus beralih ke sistem daring secara mendadak. Dalam situasi tersebut, kehadiran teknologi menjadi penyelamat. Guru, siswa, dan orang tua bergantung pada berbagai platform seperti Zoom, Google Classroom, hingga WhatsApp untuk tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi memiliki peran penting dalam menjamin keberlanjutan pendidikan di masa krisis. Bahkan pasca pandemi, penggunaan teknologi dalam pendidikan terus berkembang. Banyak sekolah mulai mengintegrasikan pembelajaran digital sebagai bagian dari kurikulum, memanfaatkan media interaktif, sistem manajemen pembelajaran (LMS), dan aplikasi asesmen daring untuk menunjang kegiatan belajar.

Selain itu, teknologi memungkinkan personalisasi pembelajaran. Setiap siswa memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Teknologi memberi ruang bagi siswa untuk belajar dengan cara dan ritme masing-masing. Dengan konten yang tersedia kapan saja dan di mana saja, siswa lebih leluasa mengeksplorasi materi pelajaran secara mandiri. Guru pun dapat menggunakan data dari aplikasi pembelajaran untuk menganalisis perkembangan siswa secara lebih akurat dan cepat. Di daerah yang kekurangan guru atau memiliki keterbatasan fasilitas, pembelajaran berbasis teknologi bahkan bisa menjadi solusi yang menjanjikan. Melalui kelas virtual atau konten digital, siswa tetap bisa belajar meski tidak memiliki akses ke guru atau sekolah secara optimal.

Namun, meski teknologi menjanjikan banyak kemudahan, realitas di lapangan tidak seindah teori. Salah satu tantangan terbesar adalah ketimpangan akses. Di daerah terpencil Indonesia, akses terhadap listrik dan internet masih menjadi masalah serius. Banyak siswa yang tidak memiliki perangkat seperti laptop atau smartphone yang memadai. Bahkan, di sejumlah wilayah, sinyal internet masih sangat lemah atau bahkan tidak ada sama sekali. Ketimpangan ini menciptakan digital divide atau jurang digital, yang memisahkan kelompok anatara yang bisa menikmati manfaat teknologi dengan yang tidak. Akibatnya, alih-alih menjadi alat pemerataan, teknologi justru memperlebar kesenjangan pendidikan antara daerah maju dan tertinggal, antara siswa kaya dan miskin.

Selain itu, tantangan lain yang tak kalah penting adalah literasi digital. Banyak guru, terutama di sekolah-sekolah pedesaan, belum terbiasa menggunakan teknologi dalam proses belajar mengajar. Mereka belum mendapatkan pelatihan yang cukup, sehingga teknologi yang ada tidak dimanfaatkan secara maksimal. Sementara itu, banyak siswa juga belum memiliki kesadaran untuk menggunakan teknologi secara produktif. Gawai yang seharusnya menjadi alat belajar justru lebih sering digunakan untuk bermain game atau mengakses media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat atau jaringan internet, tetapi juga harus disertai dengan peningkatan kemampuan dan kesadaran digital bagi semua pihak.

Di sisi lain, perlu ditegaskan bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan peran guru. Meskipun berbagai aplikasi atau chatbot berbasis AI dapat menjawab soal atau menjelaskan materi pelajaran dengan cepat, hubungan antara guru dan murid tetap menjadi inti dari proses pendidikan. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing, motivator, dan teladan. Guru mampu membentuk karakter, membangun nilai, dan menanamkan etika kepada siswa serta hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. Maka dari itu, teknologi harus diposisikan sebagai pendukung peran guru, bukan pengganti. Teknologi dapat meringankan beban administratif, memperluas sumber belajar, atau mempermudah evaluasi, tetapi nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan tetap harus dijaga oleh sosok guru yang hadir secara nyata.

Agar teknologi benar-benar bermanfaat dalam meningkatkan mutu pendidikan, dibutuhkan ekosistem yang manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan. Pemerintah perlu memastikan bahwa seluruh daerah, termasuk yang paling terpencil sekalipun, memiliki akses terhadap listrik dan internet. Penyediaan perangkat belajar bagi siswa dari keluarga kurang mampu juga harus menjadi prioritas. Selain itu, pelatihan literasi digital bagi guru dan siswa harus dilakukan secara masif dan merata. Kurikulum pun perlu disesuaikan agar mampu mengintegrasikan teknologi secara relevan dan bermakna, tanpa mengabaikan aspek karakter, budaya, dan nilai-nilai lokal. Tak kalah penting, regulasi perlindungan data dan etika penggunaan teknologi harus ditegakkan agar penggunaan teknologi dalam pendidikan tidak menimbulkan dampak negatif, seperti penyalahgunaan data atau eksploitasi komersial terhadap siswa.

Pada akhirnya, teknologi pendidikan adalah peluang besar yang bisa membawa kemajuan luar biasa, tetapi hanya jika digunakan dengan bijak dan merata. Kita tidak bisa menolak kehadiran teknologi, namun kita juga tidak boleh menyerahkan sepenuhnya nasib pendidikan pada teknologi semata. Pendidikan bukan hanya soal mentransfer pengetahuan, tetapi juga soal membentuk manusia yang utuh, cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kuat secara moral. Maka, teknologi harus menjadi alat yang memperkuat tujuan itu, bukan menggeser atau menggantikannya. Di tangan yang tepat, teknologi dapat menjadi jembatan menuju masa depan pendidikan yang lebih baik, masa depan yang tidak hanya modern, tetapi juga adil, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.**

 

*Penulis adalah mahasiswi FKIP Untan Prodi PGSD.

 

Editor : Hanif
#kecerdasan buatan #Implikasi #kesenjangan pendidikan #ai #LMS #Transformasi Digital