Oleh: Sholihin HZ*
Dalam kitab “Tanbighul Ghafilin” (2) disebutkan diantara kebiasaan Nabi Irahim AS yang menyebabkan Allah SWT ridha dan memberikan predikat Khalilullah kepada beliau adalah beliau memiliki kebiasaan (sangat mudah dilakukan) yakni senantiasa menebarkan salam. Menebarkan salam adalah aktivitas biasa dan mudah. Namun, ternyata ini bisa menjadi media menjalin kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.
Salam, umumnya adalah mengucapkan kalimat yang sarat dengan doa. Keselamatan atasmu, rahmat Allah dan (semoga) dalam keberkahan, inilah makna salam yang sering kita ucapkan dan sering didengar. Jika dipahami lebih jauh, salam memiliki dua definisi yakni definsi sebagai kosakata keagamaan yang wujudnya adalah ucapan salam seperti disebutkan di atas. Pada sisi ini, seorang muslim diajarkan untuk mendoakan saudaranya untuk selalu dalam keselamatan. Selalu dalam rahmat Allah SWT dan dalam keberkahan hidupnya. Saling mendoakan kebaikan sesungguhnya adalah ajaran Islam yang harus tetap dilestarikan karena kadang kita melihat pertemuan antara dua orang atau selebihnya, berpisah tanpa saling mendoakan apalagi mengucapkan salam. Filosofis salam sebagai pembatal salat juga menjadi tuntunan bahwa umat Islam yang disimbolkan dengan salam maka seorang muslim harus aktif menebarkan salam.
Makna berikutnya dari salam adalah dimanapun seorang muslim harus memerankan diri sebagai pelopor keselamatan, ajakan untuk selamat dunia akhirat, menghadirkan pribadi sebagai seorang yang selamat diri sendiri dan menyelamatkan orang lain. Kehadirannya ditunggu sebagai penyemangat dan si penebar keselamatan. Bukankah seorang muslim yang baik adalah muslim yang sekelilingnya aman dari gangguan tangan dan lisannya. Dimanapaun seorang muslim berada, makai a harus menjadi penebar keselamatan baik dengan ucapan salamnya maupun memahami salam secara maknawi.
Ahli tafsir Indonesia, Prof. Quraisy Syihab dalam Tafsir al Mishbah (2002: 499), menyebutkan bahwa kata ‘salam’ dapat diartikan sebagai kebebasan dari segala macam kekurangan termasuk kekurangan dalam pengertian kekurangan lahir dan batin. Kata ‘salam’ diulang sebanyak 42 kali yang digunakan untuk berbagai maksud antara lain salam sebagai ucapan doa. Salam sebagai kondisi keadaan (selamat dan sehat). Salam sebagai gambaran aktif seorang muslim untuk mencari keselamatan dunia dan hidup dalam damai serta salam sebagai sifat Allah SWT.
Seorang yang memahami salam, sebagai pelopor kedamaian maka sejatinya ia sedang belajar giat untuk mewujudkan nilai-nilai Ilahiyah atau sifat Allah untuk disebar dalam kehidupan sehari-harinya. Bagaimana wujud kasih Allah SWT dalam menebarkan keselamatan? Siapapun itu, manusia beriman atau ingkarkah ia, Allah SWT menurunkan hujan tanpa pilih kasih. Siapapun yang sungguh-sungguh bekerja maka hasilnya akan ia dapatkan. Seorang yang mendoakan orang lain maka malaikat di sekitarnya juga mendoakan mereka. Apa diantara harapan dan doa kita untuk orang-orang yang kita cintai dan siapapun ia, salah satu diantaranya adalah iringan doa keselamatan.
Saudaraku, penulis memahami secara sederhana sesungguhnya tidaklah sulit untuk keselamatan kita pribadi. Jika ingin hidup sehat, selamat dan bahagia salah satunya adalah dengan mendoakan siapapun. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim disebutkan, "Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab (dikabulkan). Di atas kepalanya ada malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat itu berkata, “Aamiin, dan bagimu juga yang serupa."
Jadi ketika seseorang mendoakan saudaranya maka malaikat juga mendoakan hal yang sama untuk orang yang mendoakan tersebut. Simpel bukan? Mari saling mendoakan.**
*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak; penulis Buku “Di bawah Bimbingan Ilahi, Menajamkan Spiritual”.
Editor : Hanif