Oleh: H. Abdul Hamid *
Jumat 27 Juni 2025 ini, umat Islam mulai “melayari” Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 H. Muharam adalah salah satu dari empat bulan mulia/haram selain Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab; bulan yang penuh dengan limpahan pahala/rahmat dari Allah SWT. Bulan yang setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, dan setiap keburukan/kejahatan juga dibalas dengan dosa sepuluh kali lipat.
Setiap memasuki bulan Muharam, umat Islam diantaranya diingatkan tentang hijrah, berpindah, perpindahan. Kata ini erat hubungannya dengan sejarah Islam, tentang perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, ketika Makkah dianggap tidak kondusif untuk mensyiarkan Islam kala itu. Jadi bukan sekadar migrasi, perpindahan biasa. Hijrah mengandung pesan moral mendalam tentang perlunya perubahan, transformasi menuju ke arah kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tuntunan-Nya, dan Rasul-Nya. Hijrah pun mengandung ukuran keimanan, ketakwaan, dan perjuangan/jihad, guna menuju manusia yang takwa, mutakin.
Menurut para ahli tafsir yang dimuat dalam sejumlah buku/tulisan, setidaknya ada sekitar 31 kata dalam Alquran yang menggunakan kata hajara atau hijrah itu, diantaranya dua terjemahan firman-Nya dalam Kitab Suci Alquran ayat di bawah ini.
Pertama, QS 2:218. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Kedua, QS 9:20. “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
Jika disimak dua terjemahan Alquran di atas yang berhubungan dengan hijrah itu, dan sejumlah ayat-ayat lainnya. Setidaknya ada beberapa kata-kata lain yang berhubungan erat dengan hijrah, diantaranya iman, jihad, diri sendiri, penderitaan, pengusiran yang dialami dalam wilayah sendiri, kesabaran, rizki, pada jalan Allah, dan harta benda.
Hijrah dengan demikian ada hubungan dengan penderitaan, pengusiran dari kampung halaman/wilayah/negara sendiri, keimanan, jihad, kesabaran, serta dilakukan karena Allah. Jadi, mereka yang benar-benar beriman, dan berjihad tentu tidak akan merasa berat melakukan hijrah dengan harta benda, jiwa sendiri, dan insya Allah akan memperoleh kemenangan, termasuk rizki yang lebih banyak lagi halal/baik.
Mereka yang berhijrah, disebut haajaruu, adalah mereka yang berpegang teguh kepada ajaran Islam, tidak atau bukan mereka yang pilih-pilih dalam berhijrah, hanya demi keduniaan. Hal ini juga menunjukkan bahwa hijrah itu tidak hanya secara fisik, tetapi juga untuk berpindah secara nonfisik(mental/spiritual, ke arah perubahan diri yang lebih baik, lebih sesuai dengan perintah(suruhan/larangan)-Nya dan Rasul-Nya.
Hijrah fisik, hijrah makaniyah, berarti meninggalkan tempat yang banyak permasalahan pelanggaran, seperti fitnah/hoaks yang terus berkembang/berlebihan, dan pengusiran, sehingga mengancam fisik dan keimanan, ke tempat / lingkungan yang lebih kondusif untuk melaksanakan perintah agama, atau untuk mengembangkan potensi diri di tempat yang membutuhkan kebaikan bersama.
Hijrah nonfisik/spiritual/rohaniyah, hijrah maknawiyah, berarti melakukan perubahan kehidupan, meninggalkan hal-hal buruk, untuk berbuat lebih baik, mendekatkan diri pada kebaikan sesuai ajaran agama yang rahmatan lil alamin. Dengan hijrah maknawiyah ini kebiasaan buruk dipindahkan menjadi kebiasaan baik, kualitas ibadah ditingkatkan, kepedulian sosial dinaikkan, pemahaman/pengamalan ajaran agama ditingkatkan, emosional dikendalikan dengan akhlak terpuji, seperti kesantunan dalam berbicara, bersikap, dan mengeritik.
Memasuki tahun baru hijriyah 1447, ada baiknya diri sendiri, dan atau kelompok, melakukan hijrah, utamakan hijrah maknawiyah. Antara lain mengevaluasi/mengintrospeksi diri, meningkatkan silaturahmi, komunikasi dengan orang alim/ilmuwan, dan dengan mereka yang termasuk fakir/miskin.
Hijrah saja dulu dari kebiasaan bohong, ke mengakui kebohongan yang pernah dilakukan serta berniat untuk tidak lagi berbohong, dengan memohon maaf. Hijrah saja dulu dari kurang/tidak amanah ke amanah, karena amanah itu kelak diminta pertanggungjawabannya. Hijrah saja dulu dari banyak berorasi ke banyak menepati janji yang muncul dalam orasi. Hijrah saja dulu dari perilaku merusak lingkungan dengan alasan pembenaran, ke arah memperbaikinya lingkungan yang rusak/dirusak, dengan penggelontoran dana pribadi jika diri ikut merusak. Bukankah kerusakan lingkungan itu lebih banyak terjadi akibat ulah manusia yang rakus?
Hijrah saja dulu dari keinginan menjual tanah/pulau yang bukan milik pribadi, ke mempertahankan tanah milik/pribadi/negara. Hijrah saja dulu dari orang yang tidak mau mengakui kekurangan diri, suka menyalahkan orang lain, ke diri yang selalu senyum menerima kritik, dan mengkajinya secara ilmiah, bukan dengan keahlian palsu. Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1447 H.**
*Penulis adalah purnatugas PNS/ASN; anggota Dewan Pembina Yayasan Masjid Mujahidin Kalimantan Barat; anggota Dewan Penasihat Masjid Almuhtadin UNTAN; dan pengasuh Bacaan Ringan Salam Pontianak.
Editor : Hanif