Oleh: Santriadi*
Tahun Baru Islam 1 Muharam ditetapkan melalui usulan dari Ali bin Abi Thalib, yakni agar penanggalan Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Alasannya, hijrah merupakan titik balik penting dalam perjalanan dakwah Islam. Usulan ini pun disepakati para sahabat dan Umar bin Khattab sebagai khalifah Islam pada masa itu. Hijrah dilakukan untuk menyusun strategi dan mengembangkan Islam yang kemudian akan membawa perubahan berskala besar bagi kemajuan Islam itu sendiri.
Setiap orang pasti menginginkan perubahan, baik perubahan pada diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Spirit perubahan menyongsong tahun baru Islam harus terus digalakkan kendatipun tidak harus menunggu pergantian tahun. Khalifah Umar bin Khattab juga pernah berpesan, ”Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal.”
Di era sekarang ini, kita memang tidak perlu hijrah, dalam artian pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain sebagaimana yang pernah dilakukan oleh nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Namun, kita harus ’hijrah’ dengan meninggalkan hal-hal yang buruk dan belajar menjadi lebih baik agar menjadi orang yang beruntung. Siapakah orang yang beruntung itu? Yaitu orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Jangan jadi orang yang merugi, yaitu orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, dan jangan pula jadi orang yang celaka, yaitu orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin.
Oleh karenanya, jadilah manusia pembelajar yang mau belajar dari peristiwa yang telah terjadi. Ciri utama manusia pembelajar adalah selalu memperkaya kapasitas dirinya, memperbaiki kekurangannya, terbuka terhadap kritik dan masukan orang lain, dan tidak kolot terhadap perubahan. Dia adalah sosok manusia yang dinamis, selalu membelajarkan dirinya dan juga mengajak orang-orang di sekelilingnya untuk terus belajar melakukan perubahan.
Marilah wahai generasi muda sebagai pelopor untuk melakukan perubahan, karena di tangan pemudalah perubahan itu bisa diwujudkan dengan mendapatkan dukungan (support) dari orangtua sebagai penuntun dan pembimbing ke arah yang benar. Perubahan tidak akan terjadi apabila bukan kita sendiri yang mengubahnya sebagaimana firman Allah SWT.
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).
Sebenarnya, untuk melakukan perubahan bukan dimulai dari pergantian tahun tapi kapan saja bisa dilakukan dari detik ini juga. Namun, momen tahun baru mungkin bisa dijadikan alasan dan dasar atau acuan kita semua untuk melakukan perubahan. Sebab, ada sebagian orang biasanya bisa melakukan perubahan apabila ada sebab musabab atau momen-momen tertentu sehingga perubahan yang terjadi kesannya tidak begitu kentara. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa melakukan perubahan itu. Jika semua lapisan masyarakat menyadari bahwa perubahan yang lebih baik bisa tercapai, maka dengan sendirinya perubahan itu bisa terjadi tanpa disadari.
Mari kita berubah dengan belajar tidak membuang sampah sembarangan, belajar menghemat energi di rumah tangga, tertib dalam berlalu lintas dengan tidak berkendara dengan kecepatan tinggi melebihi batas normal, tertib di perempatan traffic light dan lain sebagainya. Pernahkah kita berpikir akan hal itu semua?
Sadarilah bahwa hidup ini tidak lama, kapan lagi kalau bukan dari sekarang. Entah esok atau lusa kita dipanggil oleh Sang Maha Kuasa kerana ajal menjemput tidak mengenal tua-muda, besar-kecil, pria-wanita. Apa bekal yang sudah kita persiapkan menjelang ajal, apakah kita sudah siap menghadap Sang Pencipta dan mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah kita lakukan? Maka, bertaubatlah selagi nyawa masih di kandung badan. Mudah-mudahan Allah SWT. menerima taubat kita, amin. Ingat, kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Wallahu a’lam.**
*Penulis adalah guru MAS Gerpemi Tebas, Kabupaten Sambas.
Editor : Miftahul Khair