Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kartun dan Game Viral Anomali: Ancaman Algoritma yang Menyusutkan Otak Anak

Hanif PP • Senin, 30 Juni 2025 | 10:09 WIB

 

Prima Trisna Aji
Prima Trisna Aji

Oleh: Prima Trisna Aji*

KARTUN serta game anak-anak yang bertema Anomali kini menjadi viral, setelah mayoritas anak di Indonesia yang menyukai game kartun tersebut. Bahkan, karena viralnya Anomali, membuat orang tua menjadi khawatir akan perubahan anaknya karena kartun Anomali tersebut. Kisah nyata ini terjadi pada salah satu anak warga Jumapolo Karanganyar Jawa Tengah, di mana salah seorang ibu muda menyampaikan kekhawatirannya terhadap perubahan drastis anaknya. Anaknya sangat menyukai kartun yang wajahnya tidak jelas. Gambar tersebut ada yang berkepala manusia tetapi berbadan hewan. Ada pula penggabungan manusia dengan benda mati, dan penggabungan hewan dengan benda mati.

Ciri khas Anomali tung tung sahur membuat anaknya setiap hari selalu mengoceh kata – kata “tung tung sahur, balelino asasino” dll. Anak menjadi bersikap aneh sehabis melihat kartun tersebut. Jika sebelumnya si anak sangat gemar membaca dan aktif, kini semenjak mengenal video aneh Anomali yang muncul di TikTok, Games dan Youtube Short, si anak menjadi pendiam, pemarah serta enggan beinteraksi dengan sesama. Bahkan, si anak tersebut bisa betah menonton berjam–jam, dan ketika smartphone-nya diambil oleh ibunya maka si anak menjadi menangis dan marah.

Kasus anak seperti ini pada dasarnya bukan kasus yang langka, karena berdasarkan penelitian Journal Pediatric (2025) bahwa pada saat ini sebesar 90% anak di Indonesia sudah terpapar dengan game yang tidak nyata seperti Anomali, Skibidi Toilet dan Carton AI tanpa naskah lainnya. Meskipun terlihat lucu dan menyenangkan bagi anak, ternyata di balik itu semua tersimpan ancaman besar bagi kesehatan otak pada anak.

Penelitian terbaru dari Cedars Sinai Medical Center yang di publikasi pada tahun 2025 menunjukkan hasil penelitian bahwa paparan yang berlebihan pada konten visual yang tidak nyata serta tidak terstruktur menyebabkan gangguan perkembangan cerebellum pada otak kecil anak, dimana fungsinya sangat penting yaitu untuk daya ingat, konsentrasi, pengontrolan emosi serta ketrampilan motorik pada anak.

Paparan kartun Anomali dan sejenisnya yang tidak jelas pada anak di bawah 7 tahun akan memperlambat perkembangan saraf antar lobus otak sehingga akan berdampak pada menurunnya kemampuan belajar, daya tahan, fokus bahkan bisa menyebabkan keterlambatan bicara pada anak.

Penelitian terbaru yang kedua dari Harvard Medical School juga menyampaikan bahwa pada anak yang sering melihat konten video yang ritmenya cepat, tidak logis, tidak nyata serta menampilkan karakter distorsif akan membuat peran koneksi prefrontal cortex sehingga dalam pengambilan keputusan pada anak akan terganggu. Hal ini apabila dibiarkan dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan terganggung persepsi anak dalam membedakan antara realitas dengan fantasi.

Bahaya besar pada anak tidak hanya sampai di situ, ternyata konten anak yang sebagian besar tidak dikurasi oleh manusia yang terpacu dari algoritma digital akan mendorong untuk memaksimalkan waktu tonton (watch tine) pada anak. Gambar–gambar serta suara tidak jelas berupa kejutan visual akan semakin cepat disebarluaskan ke jutaan seluruh anak di dunia. Peran algoritma di sini tidak peduli apakah konten tersebut sehat atau tidak pada anak, akan tetapi membuat konten tersebut ditonton lebih lama serta lebih panjang durasinya.

Namun, sayangnya kebanyakan orang tua malah senang apabila anak diberikan smartphone sehingga membuat anak tidak rewel, serta tidak lari kesana kemari. Namun, di balik ketenangan pada anak pada sistem saraf sedang mengalami kelelahan kognitif yang tidak terlihat oleh mata orang tua.

Ketika anak diam melihat smarphone berjam–jam, maka otak pada anak sedang dikepung oleh stimulus berbahaya yang tidak bermakna di mana terjadi “screen induced cognitive suppression” yang bisa menyebabkan penyusutan volume otak akibat stimulasi yang berulang-ulang.

Bukan hanya negara Indonesia yang mengalami lonjakan drastis yang tajam data anak yang melihat konten anomali, negara Perancis sekalipun sudah menerapkan peringatan keras melalui 5 lembaga medis resmi pada bulan Mei 2025 tentang bahaya anak usia di bawah enam tahun mengakses layar digital secara bebas. Hal ini dikarenakan bisa menyebabkan risiko gangguan perkembangan bahasa, memori, dan emosi pada anak sehingga akan menyebabkan kerusakan neurologis dalam jangka panjang pada anak.

Meskipun di negara Indonesia belum ada regulasi yang ketat seperti negara Perancis, bukan berarti kita harus pasif dalam melihat kasus fenomena ini. Justru dengan masuk bebasnya konten digital pada anak, peran orang tua sangat penting dalam peran pengawas, pendidik serta mendampingi dalam memilih konten yang edukatif. Solusi melakukan pemblokiran tontonan juga harus didampingi dengan memberikan fasilitas pada anak untuk menyalurkan energinya seperti stimulus sensorik dan motorik seperti bermain didalam ataupun di luar rumah. 

Solusi menjauhkan anak–anak dari teknologi bukanlah langkah yang tepat, tetapi membimbing anak bagaimana cara menggunakan teknologi yang sehat jauh lebih penting untuk kesehatan mental pada anak. Konten cerita edukatif yang berbasis cerita serta animasi kartun dengan tempo sedang dan nyata perlu diperkenalkan bagi anak sebagai aplikasi pemecahan masalah pada anak. Selain itu, kebiasaan membaca buku, bermain di dalam ataupun di luar rumah, menggambar, gerak tubuh, dan berdiskusi dengan orang tua harus ditumbuhkan sebagai bagian untuk pertumbuhan kognitif pada anak. 

Sudah saatnya kita harus menyadari bahwa “hiburan anak” bukan sekadar lucu atau viral. Karena hal ini bisa menjadi pisau bermata dua di mana bisa membangun atau malah merusak mental anak. Jika kita tak segera bersikap serta mengantisipasinya sedini mungkin, maka generasi selanjutnya yang seharusnya tumbuh dengan otak yang sehat akan dibentuk oleh algoritma yang hanya peduli pada klik dan tayangan serta tidak memperhatikan konten sehat ataupun tidak sehat. Dan ketika hal itu terjadi, maka penyesalan datang tidak hanya di ruang keluarga, tetapi juga di ruang kelas, rumah sakit, dan bahkan kebijakan negara.

 

*Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

 

Editor : Hanif
#konten #kartun #Tak Wajar #Orang tua #Viral di Indonesia #karanganyar #Resah #anomali #game