Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ketamakan

Miftahul Khair • Sabtu, 5 Juli 2025 - 13:48 WIB
Samuel, S.E., M.M.
Samuel, S.E., M.M.

Oleh: Samuel, S.E., M.M.

 

Di Sekura (Sambas), orang Hakka memiliki kebiasaan kalau menasehati anak muda selalu menggunakan analogi-analogi sekitar mereka. Misalnya, fa mo pak nyit fung, nyin mo chian nyit ho, yang  artinya,  ‘bunga tidak selalu mekar merah, begitu juga hidup manusia tidak selalu punya nasib yang baik. Hal serupa juga disampaikan oleh Ayah saya, waktu ngopi bersama, kadang di kebun, ataupun di dapur rumah kayu, Dusun Lintang Batang (Kubu Raya).

Memang tampaknya menjadi tradisi dalam gaya berpikir “konfusianisme”. Konfusianisme adalah sistem ajaran filsafat dan etika yang berasal dari Tiongkok kuno, yang didirikan oleh filsuf Kong Hu Cu; Konfusius. Cerita dan analogi sederhana mampu menjelma menjadi filosofi hidup dengan banyak dimensi makna.

Analogi disampaikan dengan kalimat singkat menjadi kekuatan untuk ‘praktik’ hidup di tengah dunia yang kian berubah. Makna dan pesannya tetap diperbaharui, sesuai penafsir yang membacanya. Namun yang pasti, kalimat sederhana itu mudah dimengerti baik untuk kelompok tertentu ataupun kalangan apapun.

Selain itu, kekuatan dari ajaran orang tua Tiongkok kuno juga terkandung dalam cerita-cerita rakyat yang pastinya masih relevan sampai saat ini. Salah satunya pesan bagi para pejabat, pemangku kepentingan ataupun mereka yang punya kesempatan, mungkin juga kita yang membaca naskah ini. Topik menarik dari cerita Tiongkok kali ini yakni tentang sifat ketidakpuaasan mereka yang melekat dengan hal-hal material yang berujung pada kerugian diri, alias hasrat tamak.  

Dalam pengertian umum tamak secara bahasa berarti rakus hati atau selalu ingin memperoleh banyak untuk diri sendiri. Secara istilah, tamak adalah kecintaan yang berlebihan terhadap dunia (harta) tanpa memperhatikan halal atau haramnya. Dari sana muara penderitaan yang dimaksudkan oleh Gautama (sosok penting dalam ajaran Buddha; ‘pencerahan’).

Secara garis besar ajaran tentang pencerahan yakni terbebas dari penderitaan. Pertanyaannya, apa yang membuat makhluk menderita? Jawabannya adalah ketidakpuasan. Bahasa Pali disebut dukkha.

Tamak merupakan salah satu penyakit mental yang membuat manusia terjebak dalam ‘kelekatan dan ilusi’ material yang bermuara pada ‘penderitaan’. Di bawah ini ada cerita Tiongkok kuno tentang ‘ketamakan’ yang akhirnya menghancurkan diri sendiri.

15 Keping Uang Perunggu

Ada seseorang dengan kantong kain yang tergantung di pinggang terlihat berjalan memasuki kota. Di kantong ada 15 keping uang perunggu untuk membeli barang di kota. Di tengah perjalanan, orang itu tiba-tiba menyadari kantong kain di pinggangnya hilang. Ia segera berbalik arah mencari serta berharap ada orang yang berbaik hati memungut kemudian mengembalikan kepadanya.

Benar saja, memang ada seseorang yang kebetulan lewat dan memungut kantong itu. Saat si penemu kantong mengintip isi kantong ternyata ada banyak uang. Namun, penemu kantong itu sungguh orang jujur, sehingga ia tidak berniat untuk membawa pulang kantong tersebut melainkan menunggu pemilik kantong mengambilnya.

Baca Juga: Mempersiapkan Supadio Jadi Bandara Internasional (Lagi)

Orang yang kehilangan uang sangat gembira melihatnya. “Kantong kayu yang di tanganmu adalah kepunyaanku yang hilang, kembalikanlah padaku.”

Orang yang memungut kantong tidak bertanya-tanya, langsung mengembalikannya, dan bersiap-siap meneruskan perjalanan. Orang yang kehilangan segera mengambil kantong dan menghitung uang di dalamnya. Ia melihat uang di dalamnya utuh, tidak kekurangan satu keping pun.

Terbersitlah pikiran jahat di otaknya.

“Mengapa tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk memeras orang yang telah mengembalikan kantong saya?”

Benarlah, si pemilik kantong berpura-pura kembali menghitung lalu terlihat terkejut dan berteriak.

“Tidak benar ini! Uang di dalam kantongku seharusnya ada 30 uang perunggu, mengapa sekarang sisa 15 keping? Pastilah engkau telah mengambil 15 keping dari dalamnya, cepat kembalikan kepadaku!”

Orang yang memungut kantong itu sangat marah, “Saya telah menolongmu dengan memungut dan mengembalikan kantong uangmu. Engkau bukan hanya berterima kasih bahkan hendak memerasku, benar- benar keterlaluan!” Kedua orang tersebut mulai ribut.

Kebetulan ada seorang petugas pengadilan lewat di jalan. Setelah mendengar cerita kedua orang tersebut dan menganalisa semuanya, petugas segera tahu apa sebenarnya yang terjadi. Ia berkata pemilik kantong.

“Di dalamnya kantongmu yang hilang terdapat 30 keping, sementara di kantong ini hanya ada 15 keping. Pastilah kantong ini bukan milikmu. Kalau orang ini berniat mencuri, maka ia akan mengambil semuanya, toh tidak ada orang yang mengetahui. Engkau harus mengembalikan kantong ini kepada orang yang memungutnya. Kantong milikmu mungkin saja masih ada di jalanan, atau mungkin ada orang lain yang memungut kantong berisi 30 keping uang itu. Sebaiknya, engkau teruskan untuk mencari kantongmu yang asli.”

Sikap “Tahu”

Cerita di atas ada relevan juga dengan kondisi kita di negeri ‘Konoha’ ini. Kadang mereka yang memiliki kesempatan justru menggunakan kesempatan untuk memeras bahkan membinasakan mereka ‘rakyat’ biasa dalam memenuhi hasrat ‘tamak’ mereka. Dengan ini jelas bahwa sikap yang ‘tahu’ atau mereka yang memiliki pengetahuan bukan berarti sudah memiliki kandungan moral.

Kadang - justru mereka yang ‘katanya’ memiliki pengetahuan adalah ‘biang kerok’ dari masalah, dengan harapan mendapat lebih dari apa yang harusnya ia dapatkan. Mereka yang berpengetahuan tidak menjamin akan menjauhi tindakan ‘tidak bermoral’. Justru karena mereka merasa ‘tahu’ itulah yang kadang berpotensi merugikan lebih banyak tanpa tersentuh hukum. Sebab baginya Hukum mudah untuk dikendalikan, asal ada ‘pelicin’ semua akan lancar.

Sekarang jelas bahwa, adanya aturan (undang-undang) bukan berarti sudah berjalan selaras dengan moralitas. Sebab aturan dibuat untuk menertibkan tergantung pada mereka yang memiliki kuasa, pengetahuan dan kewenangan atas posisi yang mereka miliki. Jika yang menggunakannya masih mendengarkan suara ‘nurani’nya, maka pengetahuan yang ia miliki akan menyelamatkan banyak orang bahkan negeri. Oleh karenanya adanya ‘aturan’ belum memiliki kandungan moral. Bahkan, mereka yang memiliki pengetahuan sekalipun belum menjamin bahwa mereka adalah orang yang dapat dipercaya. Semoga.**

 

*Penulis adalah Dosen dan Pengiat Filsafat di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak.

Editor : Miftahul Khair
#opini #ketamakan