Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Esensi Refleksi dalam Aktivitas Pembelajaran di Kelas

Hanif PP • Kamis, 24 Juli 2025 | 10:47 WIB
Ferdianus Jelahu, S.Pd
Ferdianus Jelahu, S.Pd

Oleh: Ferdianus Jelahu, S.Pd*

Kegiatan pembelajaran yang terjadi dalam kelas merupakan “jantung” dari seluruh ativitas pendidikan. Kegiatan pembelajaran itu tidak saja tentang transfer pengetahuan, tetapi membangun suatu hubungan dari hati ke hati antarsiswa dan guru. Perjumpaan ini tidak dapat ditemukan di ruang virtual. Perjumpaan dari hati mengahdirkan pengalaman kasih yang mendalam, pengalaman yang menyetuh batin personal. Ruang kelas menjadi ruang perjumpaan pribadi yang memiliki martabat luhur dan suci. Oleh karena itu, perjumpaan tidak semata-mata proses pengajaran yang hebat, tetapi menghadirkan dua pribadi (guru dan siswa) yang saling memberikan hati.

Perjumpaan itu meciptakan pembelajaran yang mendalam. Berawal dari perjumpaan dari hati ke hati dapat meciptakan seluruh materi pembelajaran yang menyenangkan.  Apapun perubahan pembelajaran, ruang kelas menjadi ruang perjumpaan dari hati ke hati yang dapat menghasilkan berbagai strategi, metode, media pembelajaran. Jantung kegiatan pembelajaran ini tidak terlepas dari seluruh rangkain proses pembelajaran secara keseluruhan.

Sanjaya (2006:125) strategi pembelajaran merupakan perencaaan yang berisi tentang serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada dua hal yang perlu dicermati dalam menyusun strategi pembelajaran, pertama kegiatan pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan. Langkah-langkah serta arah dari semua keputusan dan pencapaian tujuan.

Lebih lanjut oleh Sanjaya (2006:147) keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode. Ada beberapa metode yang diatarkan oleh Sanjaya antara lain metode ceramah, metode demostrasi. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap penyusunan dan implementasi strategi pembelajaran. Ini memungkinkan kegiatan pembelajaran menciptakan suasana yang menarik.

Masih dalam analisis Sanjaya (2006:178-195) ada beberapa strategi pembelajran yang diimplementasikan sesuaikan dengan kebutuhan antara lain strategi pembelajaran eskpositoris yang menekankan kepada proses bertutur dari seorang guru dalam menyampaikan cerita, dan lain sebagainya, sedangkan peran siswa-siswi di sini menyimak untuk menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) strategi pembelajaran ini menekankan proses mencari dan menemukan. Peran siswa di sini mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar. Sedangkan strategi pembelajaran berbasis masalah (SPMB) proses pembelajaran ini bertumpuh pada penyelesaian masalah. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah, walaupun sebenarnya guru sudah mempersiapkan apa yang harus dibahas. Peran siswa dalam strategi pembelajaran ini mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis. Selain itu, yang tidak boleh dikesampingkan adalah kegiatan refleksi dalam kegiatan pembelajaran.

 

Seberapa Penting Refleksi

Secara etimologi, kata refleksi berasal dari bahasa latin reflecio. Akar kata dari “re” artinya kembali, sedangkan “flectere” artinya membengkokkan kembali. Secara harafiah refleksi berarti melihat kembali tentang pengalaman yang sudah lewat. Ini menjadi relevan dalam aktivitas pembelajaran mengingat proses pembelajaran perlu direfleksikan kembali proses yang sudah dimulai. Refleksi menjadi sangat mendalam karena mampu melihat kembali pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Melalui refleksi siswa-siswi memiliki ruang untuk mengeksplorasi diri tentang apa yang baik ditemukan dalam kegiatan pembelajaran.

Esensi refleksi dalam kegiatan pembelajaran adalah kemampuan untuk merefleksikan proses pembelajaran sehingga menyatu dalam jiwa dan mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kelebihan lain yang dapat ditemukan dalam refleksi adalah kemampuan megolah rasa, mengolah hati dan mengolah rasa. Refleksi menjadi tempat perjumpaan yang mendalam untuk mengelola emosional yang dirasakan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Kedalaman refleksi mempetajam nalar kritis dan mampu mengola seluruh aktivitas serta menumbuhkan potensi-potensi positif. Refleksi tidak ditempatkan secara istimewa dalam kegiatan pembelajaran tetapi menjadi bagian yang sangat kontekstual dan relevan dengan berbagai situasi yang dialami dan dirasakan oleh siswa-siswi saat ini. Maka butuh ruang perjumpaan antara antara rutinitas sehari-hari dengan ruang kontemplasi. Refleksi menjadikan siswa-siswi memiliki kesadaran mendalam tentang makna-makna yang ditemukan dalam proses pembelajaran.

Bahwasannya refleksi tidak hanya melatih siswa-siswi untuk memaknai seluruh proses pembelajaran di kelas, lebih dari pada itu, siswa-siswi mampu mengamplikasikan dalam pengulatan hidup. Sebagaimana dikatan dalam buku “Wajah Pendidikan Karakter” (Witono, 2025:55) setiap gejolak emosional dijadikan bahan refleksi, memungkinkan seseorang membedakan antara ambisi uang mendewakan reputasi dan aspirasi yang membawa orang itu menuju hidup yang lebih baik. Pendapat ini dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran, misalkan kegelisahan siswa-siswi yang tidak memahami pembelajaran. Melalui refleksi mereka memiliki ruang untuk mengekspresikan dalam bentuk refleksi.

Baca Juga: Herzaky Stafsus AHY Jawab Isu Pemindahan Penduduk ke Kalbar, Minta Oknum Tertentu Tak Sebar Berita Bohong

 

Refleksi Menghasilkan Growth Mindset

Refleksi adalah kemampuan untuk mengolah pengalaman yang sudah lewat, tentang pergulatan (tantangan), kesulitan dan lain sebagainya. Pengalaman itu direfleksikan menjadi pengalaman yang bermakna. Kelebihan refleksi adalah menyatukan jiwa pada pengalaman yang dirasakan. Kemampuan untuk mengola pengalaman yang kurang biak menjadi lebih baik, salah satu cara yang paling tepat melalui refelksi. Melalui refleksi ekspresi diri dapat dituangkan dalam bentuk tulisan sesuai dengan isi hati. Dari hari pengalaman itu, dapat digali makna serta komitmen yang akan diubah untuk menjadi lebih baik. Semuanya butuh perjuangan untuk mengubah menjadi lebih baik. Growth mindset juga mengubah pola pikir yang statis menjadi pola pikir dimanis. Bergerak untuk maju dan berubah. Menurut Dwek (dalam Brock & Hundley, 2022:14) growth mindset adalah keyakinan bahwa dengan latihan, ketekunan, dan ikhtiar, manusia memiliki kesempatan tidak terbatas untuk belajar dan berkembang.

Refleksikan dapat mengubah hidup kalau dilaksanakan dengan penuh komitmen. Siswa-siswi di kelas pun selalu mengajarkan tentang bagaiamana melaksanakan tanggungjawab dari hasil refleksi agar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, refleksi selalu membentuk kepribadiaan menuju ke arah yang lebih baik. Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa refleksi merupakan bagian dari proses menuntun anak-anak sesuai dengan kodratnya.

Refleksi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan tiap orang. Refleksi menjadi bermakna karena mampu mengolah seluruh pengalaman serta aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula di dalam kelas. Refleksi menjadi pengalaman bermakna ketika mampu melihat kembali seluruh proses (aktivitas) yang terjadi dalam kelas. Pada kahirnya refleksi sebagai salah satu umpan balik dalam kegiatan pembelajaran. Siswa-siswi dapat mengekplorasikan tentang berbagai perasaan yang dialami dan dituangkan dalam refleksi sehingga mampu merumuskan tindaklanjut dalam pertemuan selanjutnya.

Semoga guru dan siswa-siswi mengalami perjumpaan dari hati ke hati. Ruang kelas menjadi tempat aktivitas sekaligus pergumulan antarguru dan siswa. Jadikan ruang kelas tempat perjumpaan yang menggembiarakan. Ubahlah pengalaman yang kurang baik dengan memberikan ruang refleksi bagi siswa-siswi. Pengalaman perjumpaan ini selalu menghadirkan pengalaman yang membentuk kepribadiaan membebaskan. Sebagaimana dikatakan oleh Jhon Dewey seorang tokoh pendidikan progresif dari Amerika mengatakan bahwa refleksi proses berpikir kritis terhadap pengalaman , butuh kemampuan untuk mengolah, menganalisis serta mengevaluasi sehingga pengalaman itu menjadi pembelajaran bermakna. Mari kita terus berjuang untuk mendorong siswa-siswi-terus berefleksi diri agar hidup terus diubah menjadi lebih baik.**

 

Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak, Alumni USD Yogyakarta.

Editor : Hanif
#aktivitas pembelajaran #Suci #refleksi #transfer ilmu #Kelas #guru dan siswa #Ruang