Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
Satu-satunya, yang diberi izin meretas informasi langit adalah Rasulullah Muhammad SAW Haqqullah. Jiwa yang disucikan, dan umat yang sejiwa dengan baginda, kekasih Allah SWT. Kesucian jiwa dan kebeningan hati, sanggup membuka pintu-pintu langit. Pintu langit akan terbuka lebar, menghampar permadani untuk hamba Tuhan yang takwa. Malaikat rahmat, sibuk mendandani, menghiasi, mendekorasi tujuh petala langit. Guna menyambut roh takwa. Sungguh-sungguh, keharuman karena kebaikan yang dia tabur semasa hidup. Sekarang, dia menuai hasil perbuatan. Perbuatan yang laras hati dengan-Nya, serasi dengan kitab suci, Alquran.
Sebaliknya, relung hati yang tidak pernah diisi dengan ayat-ayat Allah, pasti bersikap marah, mengaum, mengamuk. Amarah, auman, amukannya sangat jahat, mengerikan. Simbol yang mengarahkan dirinya sewatak dengan auman neraka, dan kemarahan yang melibas siapa saja yang ditemuinya. Dari bangsa jin dan manusia yang durhaka.
Gambaran roh dari manusia durhaka, jangankan untuk sampai kehadirat Allah SWT, langit pertama menutup pintu. Bumi tidak mau membuka diri, bumi membatu. Karena aroma roh yang jahat, sangat berbau busuk, kotor, jijik. Indikasi bahwa semasa hidup di dunia, roh tidak mengindahkan yang halal dan haram. Mencari daging busuk yang haram (zina), dan tidak mau mencari daging sehat yang halal (nikah). “Dan jangan kamu berzina. Lantas, siapa yang berbuat demikian, niscaya dia mendapat hukuman yang berat." (Alfurqan:68).
Aroma roh busuk yang sangat menyengat hidung. Sampai ke pintu-pintu langit, sehingga malaikat langit menutup rapat pintu. Dalam firman dikalamkan, "Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan menyombongkan diri terhadapnya. Tidak akan dibukakan pintu-pintu langit untuknya. Dan tidak akan pernah masuk surga, sampai unta bisa masuk ke lubang jarum. Demikian Kami memberi balasan untuk orang-orang yang jahat. Tempat tidur mereka adalah neraka Jahannam. Diatasnya terdapat selimut api neraka yang mengepung. Demikian Kami memberi balasan untuk orang-orang yang semena-mena." (Al A'raf:40-41).
Alquran menggunakan logika impossible (mustahil) karena hambatan, betapa besar unta, dan betapa kecil lubang jarum. Tetapi unta yang besar, berkeinginan masuk ke dalam lubang jarum yang kecil. Tamsil ayat ini menunjukkan keinginan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Tuhan, untuk masuk ke dalam surga. Namun, selamanya tidak akan pernah masuk ke dalam surga. Jangankan ke surga yang jauh, pintu-pintu langit yang dekat saja, tertutup untuk mereka. Pintu-pintu neraka siap menjerumuskan wajah orangorang durhaka ke dalam siksa, dan mereka masuk ke neraka, dengan kondisi tubuh yang cacat (talfahu wujuhahumun-naru wahum fiha kalihun), baca Almukminun:104.
Adapun mereka yang bertakwa, Allah SWT berikan hak-hak istimewa (privilese). Takwa, tidak diberikan kepada orang lain, dan takwa merupakan hadiah yang agung dari-Nya. Berupa ketenangan. Ketenangan merupakan awal dari seluruh kebahagiaan. Sampai di tingkat takwa, seseorang tidak lagi menyoalkan soal yang datang. Dan tidak lagi menyoalkan soal yang pulang. Perkara-perkara akan datang saatnya. Dan akan pulang pada saatnya. Perkara tersebut memiliki nama, sifat, zat, dan perbuatan. Keempat item itu, pada waktunya akan lenyap, hilang (wa ilaihi raji'un).
Hidup bila dipikirkan melulu, pasti akan sakit. Terlalu banyak proyek yang harus diselesaikan. Belum tuntas satu proyek kehidupan, bertubi-tubi proyek lain yang menunggu untuk diselesaikan. Poin kerja memang tidak pernah tuntas. Maka, tuntaskan dulu diri, sebelum sanggup menuntaskan orang lain. Pimpin dulu diri, baru memimpin orang lain. Kuncinya terletak pada ketakwaan seseorang. Salam hangat dan doa tulus.**
*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.
Editor : Hanif