Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Keresahan yang Kosong

Hanif PP • Jumat, 25 Juli 2025 | 10:44 WIB
Samuel, S.E., M.M
Samuel, S.E., M.M

Oleh: Samuel, S.E., M.M.*

Belajar dari Nagarjuna di zaman yang riuh di abad ke-21 ini, media sosial yang bising, berita yang memecah atensi, dan ritme hidup yang makin cepat, keresahan menjadi semacam napas sehari-hari (ya, mungkin saja demikian). Ditambah isu ‘intoleransi’ (Kalbar) yang baru-baru ini mengemuka terkait pembangunan Gereja Katolik di Desa Kapur di mana pemekaran dari Paroki Santo Agustinus Sungai Raya sudah mulai menjadi cerminan dari keresahan kolektif yang tak kunjung reda. Di wilayah Kabupaten Kubu Raya (Kalbar) jelas bahwa penduduknya cukup beragam, reaksi penolakan yang muncul, lengkap dengan cap dan tanda tangan dari Forum RT Dusun Parit Mayor Darat, seolah-olah mengabarkan bahwa keharmonisan sedang terancam.

Salah satu poin (ke-3) dalam surat pernyataan itu menyebut bahwa penolakan dilakukan “demi keharmonisan, keamanan, dan kenyamanan bersama.” Kalimat ini terasa penuh muatan. Sebagai warga Desa Kapur sendiri, saya justru bertanya dalam hati - harmoni yang mana yang sedang terganggu? Selama hampir lima tahun tinggal di lingkungan yang beragam ini, tidak pernah saya jumpai gesekan yang berarti. Saling sapa biasa, perayaan keagamaan jalan berdampingan, dan hidup terus bergulir tanpa kekhawatiran. Tapi mengapa tiba-tiba rasa resah itu muncul? Dari mana datangnya? Siapa yang menciptakannya?

Dalam tulisan ini, saya mencoba menggunakan pandangan dari ajaran Nagarjuna agar dapat menjadi lentera yang menyoroti apa yang selama ini dianggap ‘nyata’ (n - minor). Keresahan sama juga seperti konsep diri, identitas sosial, dan bahkan keharmonisan itu sendiri, adalah produk dari konstruksi pikiran yang tidak berdiri sendiri. Dalam pandangan kekosongan (sunyata) Nagarjuna, segala sesuatu muncul karena sebab dan kondisi. Tidak ada sesuatu pun, termasuk keresahan itu yang memiliki keberadaan ‘melekat’. Semua saling bergantung, semua kosong di mata alam semesta.

Demi keharmonisan, benarkah? Pernyataan “demi keharmonisan” tidak lebih dari label. Dan label itu, sebagaimana sebuah ‘kata’ alias ‘konsep’, dan punya kecenderungan untuk mengeras dan menuntut pembenaran.

Ketika label itu dilekati dengan ‘rasa takut’, ia melahirkan penolakan. Tapi bila kita melihat lebih jernih, mungkin kita akan temukan bahwa rasa takut itu sendiri lahir dari Ilusi (I – kapital).  Ilusi akan identitas yang terancam, akan dominasi yang tergeser, akan masa depan yang tidak sesuai harapan.

Cara pandang sebagaimana Nagarjuna terangkan,  tidak menyuruh kita menyangkal kekhawatiran, tetapi mengajarkan bahwa manusia bisa melihat keresahan tanpa ‘melekat’ padanya. Apa yang kita anggap sebagai ancaman, barangkali hanyalah bias dari ‘lensa’ yang kita gunakan. Ketika kita melihat melalui kacamata ‘kita dan mereka’, ‘mayoritas dan minoritas’, maka setiap perbedaan akan terasa sebagai potensi gangguan. Tapi bila kita lepaskan lensa itu, atau setidaknya menyadari bahwa ia hanyalah lensa, bukan kebenaran, maka yang tampak adalah Keterhubungan (K-kapital), bukan pemisahan.

Keresahan yang muncul dari pembangunan rumah ibadah (rencana salah satu stasi dari Paroki Santo Agustinus Sungai Raya), atau dari suara azan dan lonceng yang bersahutan, sebenarnya bukan karena suara itu sendiri. Melainkan karena ‘narasi’ yang kita tempelkan pada suara itu.

“Mereka akan menguasai”, “kita akan tergeser”, “ini bukan wilayah mereka,” semua adalah kisah dalam kepala dan seperti semua kisah, ia bisa ditelusuri kembali ke sebab-sebabnya: trauma sejarah, pendidikan yang parsial, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk merasa memiliki kontrol.

 

Cara Melihat yang Membebaskan

Saya senang, ternyata pikiran Nagarjuna menawarkan cara melihat yang membebaskan, maksudnya bahwa kita tidak perlu menyingkirkan keresahan, cukup menyadari bahwa ia tidak memiliki inti yang tetap. Keresahan itu tak lebih seperti bayangan yang muncul dari cahaya dan objek, tanpa cahaya dan tanpa objek, bayangan itu tak ada. Maka, bila kita bisa menyelidiki apa yang menjadi sumber bayangan dalam diri kita, kita akan mulai mengenali bahwa keresahan sosial-pun hanyalah perpanjangan dari cara kita memahami diri dan dunia.

Barangkali, masalah di Desa Kapur baru-baru ini bukan semata soal rumah ibadah. Tapi soal bagaimana kita ‘memaknai kehadiran orang lain di tengah kita’. Apakah mereka ancaman, atau saudara? Apakah kita menginginkan kenyamanan yang steril dari perbedaan, atau kedamaian yang tumbuh dalam keberagaman?

Meskipun narasi ini dibangun dengan tidak menawarkan jawaban pasti namun ada jalan tengah. Jalan yang tidak memilih ekstrem toleransi yang pura-pura, maupun ekstrem penolakan yang defensif. Jalan tengah adalah jalan refleksi untuk melihat bahwa segala sesuatu—termasuk keresahan, adalah “harmoni” yang ingin dipertahankan, di mana fenomena yang saling bergantung dan selalu berubah.

Dengan menyadari ‘kekosongan’ dari konsep-konsep itu, kita bisa hadir lebih jujur, lebih lentur. Kita tidak perlu panik pada perbedaan, dan tidak perlu membela identitas dengan cara yang menyingkirkan yang lain. Karena dalam ruang yang kosong dari klaim absolut, justru di sanalah kebebasan tumbuh. Seperti langit yang tidak memilih awan mana yang lewat, kita pun bisa menjadi ruang bagi perbedaan tanpa harus merasa terusik.

Desa Kapur alias Deskap tidak harus menjadi medan tarik-menarik antara mayoritas dan minoritas, ia bisa menjadi cermin dari kebijaksanaan yang lahir bersama keberagaman. Kesadaran bahwa manusia tidak bisa berdiri sendiri, maka tak satu pun dari kita dapat hidup sendiri. Hal ini terbuka jelas bahwa, kita semua saling bergantung, maka keamanan sejati tumbuh dari keterbukaan, bukan dari ketakutan. Mari kita masuk dalam ruang yang sadar, dan kesadaran bahwa segala sesuatu tidak kekal, jangan terjebak pada ‘ilusi’ ketakutan. Namun, sadarilah bahwa ilusi itu akan berlalu dan berubah. Semoga!**

 

*Penulis adalah Dosen dan Pengiat Filsafat di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, dan warga Deskap.

Editor : Hanif
#Isu Toleransi #kolektif #Desa Kapur #Keresahan #kubu raya #Penolakan Gereja