Oleh P. Adrianus Asisi*
Deep learning bukan kurikulum, melainkan pendekatan pembelajaran. Secara definisi, deep learning merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindfull), bermakna (meaningfull), dan menggembirakan (joyfull) melalui olah pikir (interlektual), olah hati (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu. Dalam deep learning, siswa didorong untuk secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan menyelami topik yang sedang dipelajari, sehingga ia dapat menjelajah lebih dalam dan menikmati pembelajaran (Maharany dalam Maestro, 2025. p. iv). Jadi, deep learning bukanlah kurikulum baru, tapi sebuah pendekatan pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dirancang untuk mengarahkan 8 (delapan) dimensi profil lulusan meliputi keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penaalran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, serta komunikasi.
Pencetus Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam adalah beberapa ilmuwan dan peneliti yang telah berkontribusi pada pengembangan teknologi ini. Beberapa tokoh yang paling berpengaruh dalam pengembangan Deep Learning antara lain berikut.
Geoffrey Hinton yang dikenal sebagai "Bapak Deep Learning", Hinton telah melakukan penelitian tentang jaringan saraf tiruan dan mengembangkan algoritma backpropagation yang digunakan dalam Deep Learning. Yann LeCun: LeCun telah mengembangkan teknik Convolutional Neural Networks (CNNs) yang digunakan dalam pengenalan gambar dan aplikasi lainnya.
Yoshua Bengio: Bengio telah melakukan penelitian tentang jaringan saraf tiruan dan mengembangkan beberapa teknik yang digunakan dalam Deep Learning, termasuk teknik regularization dan optimization. Demis Hassabis: Hassabis adalah salah satu pendiri DeepMind, sebuah perusahaan yang telah mengembangkan teknologi Deep Learning untuk berbagai aplikasi, termasuk pengenalan gambar dan permainan Go.
Permendikbud terkait pendekatan pembelajaran Deep Learning berikut. Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025. Peraturan ini menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional, yang mengintegrasikan pendekatan Deep Learning untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen Pendidikan Nomor 046/H/Kr/2025: Keputusan ini menetapkan Capaian Pembelajaran (CP) terbaru untuk semua jenjang pendidikan, dari PAUD hingga SMA/SMK, yang mencakup kompetensi yang harus dicapai peserta didik dengan fokus pada pembelajaran mendalam (Deep Learning).
Pembelajaran Deep Learning diimplementasikan melalui metode seperti problem-based learning dan inquiry-based learning, yang mendorong pemahaman mendalam, berpikir kritis, dan kreativitas.
Poin penting lainnya terkait Permendikbud tentang Deep Learning yaitu fokus pada 4 (empat) aspek berikut. 1) Pembelajaran Holistik berupa Mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. 2) Penerapan Praktis untuk Memastikan murid dapat menerapkan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari. 3) Fleksibilitas: Memberikan ruang bagi satuan pendidikan untuk menyesuaikan CP dengan karakteristik lokal dan kebutuhan murid. 4) Integrasi Teknologi: Guru didorong menggunakan teknologi digital untuk mendukung pencapaian CP.
Guru dapat menggunakan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dengan beberapa cara misalnya beberapa cara berikut.
Pertama: Menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek. Guru dapat memberikan proyek yang memerlukan siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam situasi nyata.
Kedua: Menggunakan teknologi digital. Guru dapat menggunakan teknologi digital seperti aplikasi, game, dan simulasi untuk mendukung pembelajaran mendalam. Ketiga: Mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Guru dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa dengan memberikan pertanyaan yang memerlukan analisis dan evaluasi.
Keempat: Menggunakan pembelajaran berbasis masalah. Guru dapat menggunakan pembelajaran berbasis masalah untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan berpikir kritis. Kelima: Mengembangkan pembelajaran yang kontekstual. Guru dapat mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dengan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Kita sepakat bahwa Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) bukan mengganti Kurikulum Merdeka (tahun 2022), tetapi Pembelajaran Mendalam merupakan suatu Pendekatan Pembelajaran. Pendekatan pembelajaran adalah cara atau metode yang digunakan oleh guru untuk membantu siswa belajar dan mencapai tujuan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran dapat mencakup berbagai aspek.
Metode pembelajaran yaitu bagaimana cara guru menyampaikan materi, seperti ceramah, diskusi, atau proyek. Strategi pembelajaran dilaksanakan melalui cara guru mengatur proses pembelajaran, seperti pembelajaran berbasis masalah atau pembelajaran kooperatif. Teknik pembelajaran merupakan cara guru menggunakan alat atau sumber daya untuk mendukung pembelajaran, seperti teknologi digital atau media pembelajaran. Filosofi pembelajaran merupakan prinsip dan nilai yang mendasari pendekatan pembelajaran, seperti student-centered learning atau pembelajaran berbasis kompetensi.
Pendekatan pembelajaran yang efektif dapat membantu meningkatkan motivasi dan minat belajar; mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang lebih mendalam; meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif; mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab dalam belajar. Guru dapat memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa, serta tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Jika dipecah satu persatu bagian dari Deep Learning. Pembelajaran berkesadaran (mindful learning) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan kesadaran dan perhatian penuh pada proses belajar. Tujuan dari pembelajaran berkesadaran adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan untuk meningkatkan kemampuan untuk fokus dan konsentrasi pada materi yang dipelajari; mengembangkan kemampuan untuk mengelola stres dan emosi yang timbul selama proses belajar; meningkatkan kesadaran diri tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dalam proses belajar; dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis dalam memahami materi yang dipelajari.
Pembelajaran bermakna (meaningful learning) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pengembangan pemahaman yang mendalam dan bermakna tentang materi yang dipelajari. Tujuan dari pembelajaran bermakna untuk: Mengembangkan pemahaman yang mendalam, meningkatkan kemampuan untuk memahami konsep dan prinsip yang dipelajari; Menghubungkan materi dengan kehidupan nyata, menghubungkan materi yang dipelajari dengan pengalaman dan kehidupan nyata siswa; Mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis dalam memahami materi yang dipelajari; Meningkatkan motivasi belajar. Meningkatkan motivasi belajar siswa dengan membuat materi yang dipelajari lebih relevan dan bermakna.
Proses pembelajaran menggembirakan (joyful learning) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan dan menggembirakan bagi siswa. Proses pembelajaran menggembirakan dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu 1) Menggunakan metode pembelajaran yang interaktif: Menggunakan metode pembelajaran yang interaktif, seperti permainan, simulasi, dan proyek. 2) Menggunakan media pembelajaran yang menarik: Menggunakan media pembelajaran yang menarik, seperti video, gambar, dan musik. 3) Menciptakan lingkungan belajar yang nyaman: Menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan, seperti dengan menambahkan tanaman atau dekorasi. 4) Menggunakan humor dan permainan: Menggunakan humor dan permainan untuk membuat proses belajar lebih menyenangkan.
Dengan melengkapi K-22 dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam akan tecipta suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindfull), bermakna (meaningfull), dan menggembirakan (joyfull) melalui olah pikir (interlektual), olah hati (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu. Semoga.
*Penulis,
Guru SMP dan SMA
Santo Fransiskus Asisi Pontianak;
Alumnus UAJY dan Untan Pontianak
Editor : Hanif