Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Belajar Hidup dari Makhluk yang Hampir Kita Musnahkan

Hanif PP • Selasa, 5 Agustus 2025 | 10:49 WIB
Rosadi Jamani
Rosadi Jamani

Oleh: Rosadi Jamani*

Hari Harimau Sedunia, hari yang istimewa. Di mana kita sejenak berhenti menebang hutan, menyedot tambang, dan memasang jerat di rimba demi memperingati makhluk agung bergaris loreng yang kini tinggal menunggu giliran untuk masuk buku sejarah.

Tahun 2025, temanya sungguh menyentuh: “Hidup Berdampingan Secara Harmonis antara Manusia dan Harimau.” Ah, manisnya. Seperti ucapan mantan yang pernah berselingkuh, lalu minta balikan dengan janji tidak akan mengulang lagi. Lagi dan lagi.

Sungguh, betapa agungnya manusia, makhluk yang menciptakan hari peringatan untuk spesies yang ia buru, dijual, dibakar rumahnya, dan kemudian dikasihani satu hari dalam setahun. Harimau sumatra kini tersisa sekitar 603 ekor di alam liar. Jumlah yang, kalau kita pakai logika kapitalisme, lebih sedikit dari jumlah influencer yang sedang membuat konten “konservasi” sambil memegang anak harimau di kandang buatan.

Bayangkan! 603 ekor harimau menjaga sisa-sisa hutan yang tersayat seperti kue lapis dikuliti satu per satu. Mereka tersebar di 23 wilayah, berjuang melawan ekskavator, sawit, dan pabrik batubara yang hidupnya lebih harmonis dengan izin tambang daripada dengan makhluk hidup lain.

Sementara itu, saudara-saudara mereka, Harimau Jawa dan Harimau Bali, sudah berpindah alam. Pupus. Punah. Tiada. Meninggalkan kita dengan kenangan manis di museum dan buku pelajaran anak SD yang entah masih percaya bahwa hutan adalah paru-paru dunia. Sungguh filsafat bernapas di tengah asap pembakaran lahan.

Mari kita renungkan sebentar. Apakah manusia benar-benar ingin hidup berdampingan secara harmonis dengan harimau? Tentu saja! Asalkan harimaunya sudah dikurung, diawasi kamera CCTV, diberi GPS, dan tidak muncul di dekat perkebunan sawit milik paman pejabat. Harmonis, dalam kamus industrialis, berarti “jangan ganggu laba kami”.

Sementara di India, harimau hidup nyaman. Negeri Bollywood itu kini menjadi surga harimau dunia, dengan populasi sekitar 3.682 ekor. Mereka bahkan bangga menyebut diri sebagai “Tiger Capital of the World”. Tapi jangan senang dulu. Harimau di India punya polisi hutan bersenjata, kamera jebak, dan wilayah konservasi seluas kabupaten. Di Indonesia? Harimau punya warga kampung yang dipaksa memilih: melindungi harimau, atau menyelamatkan ternak dan nyawa.

Jangan lupakan Kalimantan, tanah penuh legenda, penuh hutan yang kian botak, dan penuh keunikan. Tak ada harimau di Kalimantan, katanya. Ekologinya tak cocok, katanya.

Tapi ada cerita-cerita tua tentang taring harimau, entah itu taring macan dahan atau taring harapan yang sudah rontok. Kalimantan adalah tempat di mana harimau mungkin pernah hidup, tapi kemudian sadar, "Ah sudahlah, aku pindah saja sebelum manusia datang."

Para ahli menjelaskan bahwa Kalimantan terlalu basah, terlalu hutan, terlalu penuh dengan predator lain. Mungkin juga terlalu penuh dengan rencana investasi, yang tidak ramah pada binatang yang tidak bisa diajak rapat. Tapi jangan khawatir. Meskipun harimau tak hidup di sana, manusia sudah berhasil menanam jejak mereka sendiri, berupa lubang tambang dan banjir tahunan.

Harimau adalah makhluk yang tidak perlu membunyikan klakson untuk menandai kehadirannya. Ia berjalan pelan, mengendap, sabar, lalu menerkam sekali dengan pasti. Ia tidak bersuara banyak, tidak membuat press release, tidak minta subsidi. Ia hanya butuh ruang. Seperti kita semua. Tapi berbeda dengan manusia, harimau tidak tamak. Ia tidak mengklaim hutan sebagai miliknya. Ia tidak menjual tanahnya ke korporasi asing. Ia tidak membangun vila di tengah kawasan lindung.

Jika manusia punya sedikit saja kerendahan hati seperti harimau, mungkin dunia akan sedikit lebih waras. Tapi manusia, makhluk yang bikin taman nasional tapi kasih izin tambang di tengahnya, lebih tertarik pada keberlanjutan laba daripada keberlangsungan nyawa.

Selamat Hari Harimau Sedunia, sekali lagi. Semoga tahun depan masih ada harimau untuk dirayakan. Atau kalau pun tidak, kita masih bisa bikin peringatan Hari Harimau Punah Sedunia, sambil menyesap kopi dari kebun bekas habitatnya.

Tapi tenang saja. Sebab kita manusia. Kita selalu tahu cara membuat peringatan yang menyentuh, bahkan saat makhluknya sudah tidak ada. Lagi pula, lebih mudah membuat monumen dari mempertahankan kehidupan.

Salam hormat untuk harimau, sang filsuf sunyi bergaris loreng. Engkau tak pernah menulis buku, tapi hidupmu mengajarkan arti keseimbangan lebih dari seribu seminar konservasi. Kepada kita semua, semoga tidak berubah menjadi spesies berikutnya yang cuma bisa dikenang dari fosil.**

 

*Penulis adalah Dosen UNU Kalimantan Barat.

Editor : Hanif
#ditebang #harimau #manusia #konservasi #gps #fosil #Hari Harimau Sedunia #harmonis #CCTV