Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menunggu Gaji Layak atau Membiarkan Mereka Primitif

Miftahul Khair • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 11:00 WIB
As’ad Kholilurrahman, M.Ag
As’ad Kholilurrahman, M.Ag

Oleh: As’ad Kholilurrahman, M.Ag*

 

Hari ini pembicaraan tentang pendidikan semakin seru. Tiktok dan Instagram menjadi ring perkelahian gagasan. Sedangkan kolom komentarnya adalah tempat pelempar isu, pengalaman, hingga curhatan mengenai gaji dan nasib guru. Ada satu hal yang menarik untuk diurai lebih lanjut dari pernyataan seseorang dalam kolom komentar tersebut, yakni keengganan mengajar sebelum pemerintah memandang betul nasib para guru. Karena nyatanya sekarang kesejahteraan guru masih belum diperhatikan alhasil sebagian orang tidak ingin mengajar.

Memang bila gaji guru layak kualitas pengajaran dapat ditingkatkan. Namun, bila gaji guru itu sedikit, tiga bulan hanya Rp1 juta, maka bagaimana nasib keluarga kecil yang harus dilengkapi kebutuhannya? Jadinya pikiran bercabang dan efeknya pada efektifitas waktu yang diberikan juga kurang maksimal. Belum lagi rata-rata guru di pelosok desa adalah petani. pastinya pengajarannya tidak akan maksimal. Kenapa yang mengajar Pak dan Bu Tani? Kembali persoalan utama, bahwa mereka belum menemukan gaji yang layak. Jika persoalannya gaji dan gaji, maka siapa yang akan menolong nasib bangsa ini?

Bukan untuk menormalisasi gaji sedikit, bukan ingin terlihat pragmatis apalagi idealis, setiap orang didesak oleh biaya hidup yang mulai menaik. Semuanya harus menggunakan uang. Tetapi, masalahnya jikalau terlalu fokus pada egositas diri dan gaji yang layak, bagaimana dengan nasib anak bangsa ini yang membutuhkan bimbingan dan arahan? Tidakkah ada rasa prihatin dalam hati untuk kemudian melakukan hal-hal kecil yang memberikan dampak baik pada bangsa ini? Menyakitkan lagi bila melihat fakta banyak orang yang memilih berhenti mengajar lantaran kurangnya ekonomi.

Pergi pada masalah ini bukan menambah solusi, malah semakin memperparah ketidakjelasan calon putra-putra bangsa. Sepertinya memang cita-cita Indonesia emas adalah kastal udara atau sebuah khanyalan saja. Calon-calon generasinya sejak kecil saja sudah terlantar, bagaimana dia punya gambaran nasib baik untuk negara ini? Akankah definisi nasib baik ditentukan ekonomi stabil tetapi sifatnya konsumtif pribadi? Bagaimana mungkin dia berpikir di luar dirinya, ilmu sosial, kepekaan rasa dia tidak punya?

Menjadi manusia utuh caranya tiada lain adalah ilmu pengetahuan. Kata lainnya adalah pendidikan holistik, yaitu pendidikan yang menekankan olah rasio atau juga bisa disebut pengasahan kognisi intelektual, olah rasa (kepekaan sosial, moralitas), dan olah jiwa (religilius, ketenangan batin). Sebagaimana yang digagas oleh UNESCO yang memperkenalkan empat pilar pendidikan “learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together”. Jika empat pilar ini tidak diberikan ke calon generasi bangsa ini, lagi-lagi bagaimana nasibnya kedepan.

Harapannya adalah agar bangsa negara ini punya peradaban, kemajuan, dan kedaulatan. Akankah perlu revitalisasi kembali tentang sejarah cita-cita mulia yang diperjuangkan oleh bangsa ini? Sepertinya memang perlu suntikan sejarah-sejarah dulu. Baru kemudian kembali pulih semangat baru. Baru sadar, bahwa ketika seorang melupakan sejarah dan tidak ada niatan menjaganya, ia akan mengalami lambat laun kehancuran. Karena identitas dirinya dia lupakan.

Jadi, butuh untuk melihat kembali perjuangan pahlawan di negeri ini, akankah membiarkan perjuangan yang sudah dilakukan itu kembali berkarat, karena tidak adanya perhatian dari orang yang mengetahuinya? Apakag kita selalu melempar pertanyaan, “Apa yang negeri berikan pada dirinya?” Kenapa tidak dibalik, “Sudah memberikan apa kita pada negeri ini?” Negeri ini benda mati yang membuatnya bergerak, modern, maju, adalah manusia-manusia hebatnya. Lalu ketika yang mengubah negeri ini adalah manusia, kenapa manusianya sendiri memprimitifkan manusia lain?

Masihkah menunggu kesejahteraan guru, gaji layak, dan diri kita cukup melihatnya dari luar tanpa sentuhan, membiarkan mereka primitif? Banyak anak hebat tapi salah orang tua, banyak anak hebat, tapi orang hebatnya tidak peka.**

 

*Penulis adalah lulusan Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya asal Kubu Raya, Kalbar.

Editor : Miftahul Khair
#opini #gaji guru