Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Refleksi Milad Rasulullah SAW: Menggugah Nurani Pemimpin dan Rakyat Indonesia

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 3 September 2025 | 17:30 WIB

 

Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA

SEANDAINYA Rasulullah Muhammad SAW hadir di negeri kita hari ini—Indonesia yang kaya raya, subur dengan mineral tambang, kayu rimba, kebun sawit, serta memiliki posisi geopolitik strategis di persimpangan dunia—tentu Beliau akan menatap negeri ini dengan harapan besar sekaligus peringatan keras.

Sebagai suri teladan pemimpin agung, Nabi Muhammad SAW bukan hanya mengajarkan spiritualitas, tetapi juga integritas, kepemimpinan yang adil, dan kesejahteraan seluruh umat tanpa pengecualian.

 

Peringatan untuk Para Pemimpin: Jangan Merusak Amanah, Jadilah Pelayan, Bukan Penjarah

Rasulullah SAW memimpin dengan kejujuran, jauh dari korupsi dan kerakusan. Beliau mengingatkan agar pemimpin tidak memandang kekayaan negara sebagai ladang untuk memperkaya diri atau kroni.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Namun, jika dikuasai dan dikorupsi tanpa tata kelola yang baik, harta yang mestinya menjadi berkah justru akan berubah menjadi kutukan yang memecah belah umat.

Pemimpin harus sadar bahwa amanah adalah tanggung jawab besar di hadapan Allah dan rakyat. Dinasti politik dan egoisme hanya akan membunuh kepercayaan publik.

Sebagaimana Rasul mengajarkan keadilan sosial dan pemerintahan yang melayani, demikian pula kita harus menuntut para pemimpin untuk bertransformasi.

Kepemimpinan yang adil dan bersih adalah kunci agar kekayaan alam benar-benar memberi manfaat bagi seluruh rakyat, bukan hanya segelintir orang.

 

Seruan untuk Masyarakat: Menolak Brutalisme, Merajut Persaudaraan dan Keadilan

Di tengah ketimpangan ekonomi yang semakin melebar dan kemarahan yang mudah meledak, Rasulullah SAW akan mengingatkan bahwa kekerasan dan pelanggaran hak tidak pernah membawa kedamaian.

Beliau berdakwah dengan kasih sayang dan kesabaran, menumbuhkan persaudaraan yang melampaui batas suku, agama, dan golongan.

Kekayaan Indonesia harus menjadi sumber kebahagiaan bersama, bukan pemicu konflik dan pembalasan.

Sebagai anak bangsa, kita wajib meneladani akhlak Rasulullah—bersikap jujur, sabar, dan mengedepankan gotong royong. Menuntut hak tanpa melupakan kewajiban, serta membangun bangsa tanpa memecah belah.

 

Refleksi untuk Bangsa: Kembalilah pada Spirit Kejujuran dan Keadilan Nabi Muhammad SAW

Dalam momentum Milad Rasulullah SAW, mari jadikan ajaran Beliau sebagai pelita bagi pemimpin dan rakyat Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mengoreksi diri, menegakkan keadilan, dan menjaga amanah.

Kekayaan alam hanya akan bermakna jika dikelola berdasarkan nilai-nilai luhur: kejujuran, keadilan, dan kepedulian bersama.

Indonesia akan kuat bukan hanya karena letak strategisnya, tetapi juga karena rakyatnya yang menjaga persatuan dan keadilan sosial.

Suruhan Rasulullah SAW untuk berlaku adil, amanah, dan penuh kasih sayang harus menjadi pegangan dalam menghadapi tantangan zaman.

 

Penutup

Milad Rasulullah SAW adalah pengingat bagi kita semua—baik pemimpin maupun rakyat—bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada kekayaan alamnya semata, melainkan pada integritas dan kepedulian kolektifnya.

Mari kita bangkitkan kembali semangat Rasulullah SAW di negeri ini, agar Indonesia menjadi bangsa yang bukan hanya kaya, tetapi juga bermartabat, penuh rahmat, dan damai bagi seluruh anak bangsa.

Semoga refleksi ini menyentuh hati dan menginspirasi perubahan nyata di Indonesia, tanah air yang kita cintai bersama.

Sallu ‘ala an-Nabi.

Thamrin Usman
Guru Besar Kimia Agroindustri UNTAN
Ketua Wanhat ICMI Orwil Kalbar
Ketua HEBITREN Kalbar

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#muhammad #Milad #nabi #thamrin usman #maulid