ISLAM adalah cahaya bagi mereka yang berakal dan bertaqwa, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19).
Islam mengajarkan bahwa akal bukan sekadar kemampuan berpikir mekanis, melainkan karunia ilahi yang harus dipadukan dengan ketulusan taqwa.
Perpaduan keduanya melahirkan kemaslahatan dan kemajuan bagi umat manusia.
Dalam sejarah peradaban Islam, akal dan taqwa berjalan beriringan sebagai fondasi kejayaan. Para cendekiawan muslim seperti Ibnu Sina (kedokteran), Al-Khwarizmi (aljabar), Al-Razi (kimia), serta Al-Farabi (filsafat), membuktikan bahwa iman dan nalar adalah dua elemen yang tak terpisahkan. Mereka memaksimalkan potensi akal dengan landasan taqwa untuk memberi manfaat besar bagi peradaban.
Hikmah Negara Maju
Di era modern, umat Islam menghadapi tantangan besar untuk menghidupkan kembali semangat akal dan taqwa. Negara-negara maju memberikan contoh bagaimana perpaduan keduanya melahirkan kemajuan luar biasa.
Perancis, misalnya, bangkit dari keterpurukan pasca-penjajahan Jerman dan Perang Dunia II melalui pemulihan ekonomi terencana, penegakan hukum yang disiplin, serta investasi besar dalam pendidikan dan teknologi.
Demikian pula Jepang yang luluh lantak akibat bom Hiroshima dan Nagasaki, berhasil bangkit dengan mengandalkan nilai budaya moral, disiplin sosial, pendidikan mutakhir, dan inovasi teknologi.
Kedua negara ini membuktikan bahwa rasionalitas yang kuat, bila dipadukan dengan nilai moral dan spiritual (taqwa), mampu membangun masyarakat maju, beradab, dan harmonis.
Sudahkah Bangsa Ini Bersikap?
Di Indonesia, sinergi akal dan taqwa juga tercermin dari karya para tokoh Islam.
-
Dari Muhammadiyah, Buya Ahmad Dahlan meletakkan dasar modernisasi pendidikan dan pendekatan rasional dalam beragama. Tokoh kontemporer seperti Din Syamsuddin mendorong dialog keagamaan dan pembangunan intelektual Islam progresif.
-
Dari Nahdlatul Ulama, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memperlihatkan harmonisasi akal dan taqwa melalui pluralisme, toleransi, dan demokrasi. Pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari, menekankan pentingnya keseimbangan antara tradisi dan pembaruan dalam menjaga keislaman sekaligus keindonesiaan.
Langkah Umat Islam Menuju Negeri Neomodern
Untuk menjadikan Indonesia bangsa neomodern yang beradab dan maju, umat Islam perlu:
-
Menguatkan Pendidikan Berbasis Ilmu dan Akhlak
Mengintegrasikan ilmu pengetahuan mutakhir dengan nilai Islam lewat pendidikan formal dan informal yang melahirkan generasi cerdas dan berakhlak. -
Menggiatkan Riset dan Inovasi
Menumbuhkan budaya riset dan pengembangan teknologi sesuai kebutuhan bangsa, termasuk industri kreatif dan kewirausahaan sosial. -
Menegakkan Etika, Integritas, dan Hukum
Mendorong keterbukaan, kejujuran, disiplin, serta membangun sistem hukum yang adil dan transparan. -
Memperkuat Ketakwaan dan Kesadaran Spiritual
Menjalankan nilai taqwa dalam kehidupan sehari-hari sebagai penguat moral masyarakat yang toleran dan harmonis. -
Mengembangkan Kepemimpinan Rahmatan Lil ‘Alamin
Melahirkan pemimpin yang mengutamakan keadilan, kesejahteraan, dan mampu mengayomi seluruh lapisan masyarakat. -
Memupuk Persatuan dan Semangat Kolaborasi
Menyatukan kekuatan umat dan bangsa dalam menghadapi tantangan global dengan semangat kolektif. -
Mengedepankan Amal Ikhlas untuk Kemaslahatan
Menjadikan setiap aktivitas pembangunan dan inovasi sebagai ladang amal yang ikhlas dan bermanfaat bagi banyak orang.
Kesimpulan
Nilai-nilai Islam yang berpijak pada firman Allah, dengan menggabungkan akal kritis dan taqwa teguh, harus menjadi landasan kehidupan sosial berbangsa.
Dengan langkah strategis tersebut, umat Islam Indonesia berpotensi membangun bangsa neomodern yang maju secara materi, sekaligus mulia secara moral dan spiritual.
Pada akhirnya, Indonesia dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin yang memberi manfaat dan keberkahan bagi seluruh umat manusia.
OLEH: THAMRIN USMAN
Guru Besar Kimia Agroindustri Untan, Ketua Wanhat ICMI Orwil Kalbar, Ketua Hebitren Kalbar
Editor : Aristono Edi Kiswantoro