Oleh : T.H. Hari Sucahyo*
Pontianak adalah kota yang hidup dalam paradoks, sebuah ruang yang berdiri di antara kenangan dan ambisi, di mana sejarah dan modernitas saling berkelindan dalam harmoni yang rapuh. Dari tepi Sungai Kapuas yang tenang hingga bayang-bayang gedung kaca yang menjulang, Pontianak sedang berada dalam sebuah negosiasi panjang dengan dirinya sendiri. Ia adalah kota yang terus berubah, namun pada saat yang sama takut kehilangan wajah lamanya.
Dalam pusaran waktu, Pontianak seperti seorang pejalan yang ragu-ragu memilih arah; ia ingin maju, tetapi enggan benar-benar melepaskan masa lalu yang membentuknya. Di tepi Sungai Kapuas, yang mengalir sepanjang lebih dari 1.100 kilometer dan menjadi sungai terpanjang di Indonesia, waktu seolah melambat. Riak airnya memantulkan bayangan rumah-rumah panggung tua, perahu-perahu kayu, dan pasar tradisional yang telah ada sejak berabad-abad lalu.
Di sinilah denyut Pontianak yang sesungguhnya terasa paling murni, sebuah nadi yang mengingatkan bahwa kota ini pernah lahir dari pertemuan budaya, dari jalur perdagangan, dan dari kisah manusia-manusia perantau yang menambatkan harapan di bantaran sungai. Dari Melayu, Dayak, dan Tionghoa, dari Bugis dan Jawa, Pontianak dibentuk oleh keberagaman yang melekat dalam setiap aromanya: wangi kopi robusta yang diseduh di warung-warung tua, taburan dupa di kelenteng pecinan, dan ritus adat di pedalaman yang tak pernah pudar.
Pandangan itu berubah begitu kaki melangkah ke pusat kota. Jalan-jalan yang dulu dikuasai toko-toko kayu dan ruko-ruko sederhana kini mulai dipagari dinding kaca tinggi yang memantulkan langit khatulistiwa. Mal modern, kafe hipster, dan deretan hotel mewah tumbuh seperti jamur di musim hujan, mengubah lanskap kota menjadi lebih urban, lebih cepat, lebih sibuk. Kehidupan yang dulu berjalan perlahan mengikuti ritme sungai kini digiring oleh arus modernitas yang menuntut kecepatan.
Generasi muda Pontianak menemukan diri mereka berada di persimpangan: antara mewarisi kebijaksanaan tradisi dan mengejar cita-cita global. Ada semacam kegelisahan diam-diam di udara Pontianak. Kota ini seperti masih menakar ambisinya sendiri, ragu apakah harus menukar jati diri dengan janji kemajuan. Di satu sisi, Pontianak ingin menjadi kota metropolitan Kalimantan Barat yang terhubung dengan dunia, kota yang bercahaya di malam hari dengan infrastruktur canggih dan teknologi digital di setiap sudutnya.
Di sisi lain, ada ketakutan bahwa setiap gedung kaca baru, setiap jalan tol yang memotong kampung, adalah sebentuk penghapusan ingatan kolektif. Ada kekhawatiran bahwa Pontianak suatu hari akan kehilangan suara Sungai Kapuasnya, kehilangan aroma kue kantong semar, kehilangan tawa anak-anak yang bermain di dermaga kayu, dan kehilangan cerita lama yang dulu membuatnya unik.
Perubahan yang dialami Pontianak bukan sekadar soal wajah kota, melainkan juga tentang identitas. Dulu, Pontianak dikenal sebagai ruang pertemuan budaya, sebuah mosaik sosial di mana Melayu, Dayak, dan Tionghoa hidup berdampingan, saling meminjam bahasa, musik, dan rasa. Kini, identitas itu perlahan diredam oleh tuntutan kehidupan modern. Di pusat kota, restoran cepat saji mulai menggantikan rumah makan tradisional, kafe bergaya minimalis menyingkirkan kedai kopi legendaris yang menjadi titik temu generasi tua.
Keakraban sosial yang dulu terjalin di gang-gang sempit, di pasar basah, atau di tepian sungai, perlahan tergantikan oleh relasi yang serba digital, serba cepat, dan serba individual. Namun, Pontianak tak sepenuhnya pasrah pada arus perubahan. Di tengah gedung-gedung kaca yang dingin, masih ada upaya mempertahankan sisa-sisa ingatan. Festival budaya, pameran kuliner, hingga ritual adat Dayak dan Melayu terus dirayakan, seolah menjadi penanda bahwa akar-akar kota ini masih berpegangan kuat pada tanahnya sendiri.
Bahkan, keberadaan Tugu Khatulistiwa bukan hanya sekadar destinasi wisata, tetapi simbol geografis dan psikologis bahwa Pontianak berdiri tepat di titik keseimbangan: setengah di utara, setengah di selatan; setengah di masa lalu, setengah di masa depan. Generasi muda Pontianak memainkan peran besar dalam negosiasi ini. Mereka tumbuh dengan smartphone di tangan, tetapi sebagian masih mendengar dongeng tentang Sultan Syarif Abdurrahman dan kisah-kisah mistis asal-usul kota ini.
Mereka belajar membuat konten digital dan mempromosikan kota mereka, tetapi juga mulai merasakan pentingnya merawat pasar tradisional, rumah kayu tua, dan kuliner khas yang tak boleh hilang. Dalam diri mereka, Pontianak mencoba menemukan wajah barunya: modern, tetapi tidak tercerabut dari akar. Proses bernegosiasi ini bukan tanpa luka. Pembangunan infrastruktur kerap meminggirkan masyarakat kecil yang hidup di bantaran sungai.
Kampung-kampung tua digusur demi proyek jalan raya, dan keluarga yang telah turun-temurun tinggal di tepian air dipaksa meninggalkan rumahnya. Sungai Kapuas, yang dulu menjadi pusat kehidupan sosial dan ekonomi, kini menghadapi tekanan akibat sedimentasi, pencemaran, dan alih fungsi lahan. Modernitas sering datang dengan harga yang tak murah, dan Pontianak kini belajar bahwa kemajuan selalu membawa konsekuensi.
Justru di titik inilah Pontianak menemukan keunikan perjalanannya. Kota ini belajar memahami bahwa menjadi modern tidak berarti harus melupakan akar budaya, dan menjaga tradisi tidak harus berarti menolak perubahan. Persoalan Pontianak bukanlah memilih antara Sungai Kapuas atau gedung kaca, antara masa lalu atau masa depan, melainkan menemukan cara agar keduanya bisa berdialog dalam bahasa yang sama.
Tradisi dan modernitas bukan musuh alami; mereka bisa saling melengkapi, asal ada keberanian untuk menata ruang, merawat sejarah, dan mendengar suara masyarakat. Di tepi sungai, lampu-lampu kapal memantulkan cahaya ke permukaan air, menciptakan pemandangan malam yang menenangkan sekaligus melankolis. Sementara di pusat kota, lampu-lampu neon dan papan reklame berkelip, menawarkan masa depan yang lebih cepat, lebih terang, lebih terhubung.
Di antara kedua dunia ini, Pontianak berdiri seperti seorang penyeimbang, berusaha menjaga langkahnya agar tak jatuh ke jurang kehilangan diri. Sebab pada akhirnya, kota bukan sekadar bangunan dan jalan raya, melainkan tentang manusia dan ingatan mereka. Pontianak masih berjalan di atas garis tipis yang memisahkan kenangan dan ambisi, seperti berdiri di atas khatulistiwa yang tak pernah bergerak namun memisahkan dua belahan bumi.
Kota ini mungkin akan terus berubah, mungkin akan menjadi lebih modern, lebih urban, dan lebih global. Tetapi harapannya adalah satu: agar setiap riak Sungai Kapuas masih bisa terdengar di sela-sela hiruk pikuk kota, agar setiap aroma kopi Pontianak masih bisa menembus dinginnya pendingin ruangan kafe modern, dan agar setiap cerita lama masih bisa dibisikkan di tengah sorot lampu gedung kaca yang menjulang.
Pontianak bukan kota yang selesai. Ia adalah kota yang terus-menerus menegosiasikan maknanya sendiri, kota yang berusaha menemukan keseimbangan antara kemajuan dan ingatan. Dan mungkin, di situlah keindahan Pontianak: sebuah ruang yang selalu berada di ambang, tak pernah benar-benar meninggalkan masa lalu, tetapi juga tak pernah berhenti mengejar masa depan. Pontianak adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Selama Sungai Kapuas masih mengalir, selama cahaya senja masih jatuh di permukaannya, kota ini akan terus berbicara; tentang siapa dirinya, dan tentang siapa kita, manusia yang menapaki jalannya.**
*Penulis adalah peminat ekologi sumber daya hayati dan keutuhan ciptaan.
Editor : Hanif