Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pardon, Merci, Bonjour: Budaya Kecil dengan Pesan Besar dari Prancis dan Jepang

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 17 September 2025 | 16:05 WIB

Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA

DI tengah dunia yang kian melaju cepat, budaya menjadi kunci untuk memperlambat langkah dan menikmati indahnya interaksi kemanusiaan. Di Prancis, tiga kata sederhana—Pardon (maaf), Merci (terima kasih), dan Bonjour (salam)—menjadi tiang utama dalam pergaulan sosial.

Dalam rutinitas sehari-hari, ketiga kata ini bukan sekadar tanda sopan santun, melainkan jembatan rasa hormat, pembuka percakapan hangat, sekaligus penegasan empati.


Orang Prancis bahkan tak ragu mengucapkan pardon untuk kesalahan sekecil apa pun, selalu memulai pertemuan dengan sapaan bonjour dan pertanyaan menyejukkan Ça va? (Apa kabar?).

Kebiasaan yang tampak ringan ini bukan basa-basi, melainkan budaya yang menggembirakan dan membentuk tatanan sosial yang elegan—meski kadang diselipi sifat yang oleh sebagian orang disebut “hipokrit”.

Berbeda, namun sama pentingnya, masyarakat Jepang menampilkan budaya cinta kebersihan dan kejujuran sebagai pondasi interaksi sosial.

Kebiasaan membersihkan diri dengan air, etika makan yang rapi, serta kejujuran dalam transaksi—bahkan tanpa tuntutan ganti rugi ketika terjadi kesalahan—menjadi bukti nilai luhur yang dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

Statistik dan pengamatan menunjukkan, kejujuran yang dijunjung tinggi masyarakat Jepang turut membangun tatanan sosial yang rapi dan terbuka.

Nilai Luhur dari Islam

Sementara itu, Islam mengajarkan nilai yang lebih dalam dan abadi. Ajaran universal ini menuntun umatnya untuk memulai segala sesuatu dengan niat yang bersih, mengedepankan sabar, ikhlas, dan amanah.

Memaafkan, berterima kasih, dan menyapa dengan salam bukan hanya membangun hubungan sosial yang harmonis, tetapi juga menyejukkan hati serta menumbuhkan empati.

Data yang Menguatkan

Survei terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa pengucapan salam, tolong, maaf, dan terima kasih menurun signifikan di kalangan generasi muda—terutama karena pengaruh komunikasi digital yang serba cepat dan ringkas.

Sebanyak 65% responden setuju bahwa budaya tutur sopan kian tergerus, sementara 82% percaya kesantunan bahasa mampu membentuk karakter dan memperkuat persatuan bangsa.

Di Prancis, kebiasaan menahan pintu, berjabat tangan, memberi salam, dan mengucapkan terima kasih secara konsisten menciptakan suasana sosial yang saling menghargai dan meredam konflik kecil. Etika sederhana ini berperan besar membangun masyarakat yang berbudaya tinggi.

Dari Salam ke Martabat Bangsa

Indonesia, dengan kekayaan kearifan lokal dan nilai agama, memiliki modal besar untuk menumbuhkan budaya pergaulan yang lebih mulia dibanding banyak bangsa maju.

Nilai Islam memberikan panduan jelas: salam pembuka seperti Assalamu’alaikum, kesediaan meminta maaf dengan tulus, berterima kasih sebagai ekspresi syukur, hingga menolong dengan ikhlas—semuanya menjaga kehormatan dan martabat manusia.

Bayangkan bila setiap orang mengamalkan budaya salam, maaf, dan terima kasih secara berkesinambungan sesuai tuntunan Islam.

Marwah bangsa akan terangkat, hubungan sosial tetap harmonis, dan peradaban Indonesia akan tumbuh bukan hanya maju secara teknologi, tetapi juga mulia dalam budi pekerti.

Seperti pepatah bijak: “Tirulah mereka yang telah maju,” namun lebih mulia jika diterapkan dengan nilai agama sebagai landasan utama.

Penutup

Budaya kecil seperti pardon, merci, dan bonjour memberi pelajaran penting tentang kesopanan yang layak menjadi inspirasi Indonesia.

Namun, kita memiliki nilai yang lebih dalam: Islam mengajarkan kejujuran, saling memaafkan, dan menjaga hati sekaligus tutur kata.

Mari jadikan salam, maaf, dan terima kasih sebagai budaya sehari-hari—bukan sekadar kata, melainkan jembatan menuju masyarakat yang luhur dan beradab.

Tulisan ini lahir dari pengamatan budaya Prancis dan Jepang selama penulis menimba ilmu S2 dan S3 di Prancis, perjalanan ke Jepang, serta data sosial Indonesia terkini, dipadu nilai-nilai Islam yang relevan untuk membangun bangsa yang bermoral dan berbudaya tinggi.

______

Oleh: Thamrin Usman

Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura; Alumni Prancis; Ketua Wanhat ICMI Orwil Kalbar; Ketua Hebitren Kalbar.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Prancis #sopan #Adab #jepang #thamrin usman #budaya #Salam