Oleh : Gusti Hardiansyah*
Sidang Agung yang Menentukan
Sidang Umum PBB ke-80 (United Nations General Assembly/UNGA 80)* bukan sekadar ritual diplomatik tahunan. Kali ini, ia menjadi panggung simbolik di mana empat tokoh dunia—Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto—memamerkan narasi besar tentang arah politik global.
Masing-masing membawa "DNA politik" negaranya: Lula dengan retorika anti-hegemonik, Trump dengan nasionalisme konfrontatif, Macron dengan moralitas multilateral, dan Prabowo dengan semangat Global South yang menekankan keadilan serta solidaritas. Jika dikompilasi, pidato keempatnya ibarat algoritma politik baru—sebuah kode dinamis yang mengatur ulang konfigurasi kekuatan, peluang, dan tantangan dunia ke depan.
Algoritma Politik Global
Apa algoritma politik yang sedang diprogram dari keempat pidato itu?
1. Kode Kedaulatan
Lula, Trump, dan Prabowo sama-sama menolak intervensi eksternal. Lula menganggap demokrasi Brasil diganggu oleh tekanan global; Trump menegaskan America First; Prabowo mengingatkan bahwa kedaulatan Palestina tidak boleh dikhianati. Hanya Macron yang lebih condong ke aturan bersama, tetapi sekalipun demikian, ia tetap berbicara dalam bingkai kepentingan Prancis sebagai penjaga multilateralisme Eropa.
2. Kode Multilateralisme vs Unilateralisme
Macron dan Prabowo mengibarkan panji multilateralisme. Lula cenderung kritis tapi tetap percaya pada PBB sebagai arena. Sebaliknya, Trump menolak “globalisme kosong” dan lebih percaya pada kedaulatan absolut. Pertarungan dua kubu inilah yang akan mewarnai forum-forum dunia: antara mereka yang percaya pada aturan bersama, dan mereka yang memilih isolasi strategis.
3. Kode Krisis Iklim dan Lingkungan
Prabowo bicara tentang kenaikan permukaan laut dan reforestasi; Macron tentang kehancuran biodiversitas; Lula menyinggung tekanan global terhadap demokrasi yang juga terkait eksploitasi lingkungan. Trump justru menyebut krisis iklim sebagai “penipuan hijau”. Di sinilah algoritma pecah: satu jalur menuju penyelamatan planet, jalur lain menutup mata demi keuntungan jangka pendek.
4. Kode Palestina dan Kemanusiaan
Prabowo paling vokal soal Palestina, Macron mengingatkan dunia pada tragedi Gaza, Lula menyiratkan solidaritas global, sementara Trump justru menolak pengakuan sepihak atas Palestina. Isu ini jelas akan menjadi “stress test” legitimasi PBB: apakah suara mayoritas dunia mampu mengalahkan veto negara besar?
Sikap Umat Islam: Siasat Peradaban
Bagi umat Islam, pidato keempat pemimpin ini membuka ruang refleksi strategis. Umat tidak bisa hanya menjadi penonton di tribun, melainkan harus membaca algoritma global ini sebagai peluang sekaligus ancaman.
1. Membaca Narasi Palestina
Solidaritas Prabowo adalah cermin dari aspirasi dunia Islam. Namun umat tidak boleh berhenti pada simbol, melainkan harus memperkuat diplomasi, literasi publik, dan gerakan kemanusiaan yang sistematis.
2. Menjawab Krisis Lingkungan
Al-Qur’an menegaskan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). Krisis iklim bukan sekadar isu ekologis, melainkan juga amanah tauhid untuk menjaga bumi. Umat Islam harus memimpin gerakan “green ummah”: dari energi bersih, konsumsi bijak, hingga pengelolaan hutan berkelanjutan.
3. Menghadapi Hegemoni Global
Sabda Nabi: “Akan datang suatu zaman di mana umat-umat lain akan mengerubungi kalian bagaikan orang lapar menghadapi hidangan” (HR Abu Dawud). Hadits ini nyata dalam geopolitik kini: sumber daya alam Muslim—dari minyak hingga hutan tropis—menjadi rebutan. Strateginya bukan sekadar bertahan, melainkan membangun self-reliance dalam pangan, energi, dan teknologi.
4. Mengisi Multilateralisme dengan Nilai Islam
Umat Islam tidak anti-PBB, tapi perlu menafsirkan ulang multilateralisme agar lebih adil. Prinsip ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan) bisa menjadi nilai yang ditawarkan dunia Islam ke meja diplomasi global.
Nubuwat Nabi dan Realitas Politik
Beberapa nubuwat Nabi seolah menemukan pembenarannya dalam pidato keempat pemimpin dunia ini:
Tentang Perpecahan Umat: Nabi pernah bersabda bahwa umat Islam akan bercerai-berai dalam banyak kelompok (HR Tirmidzi). Kini, dalam isu Palestina pun, dunia Islam masih terpecah.
Tentang Dominasi Asing: Hadits tentang umat dijadikan “hidangan” menunjukkan bagaimana Muslim sering jadi objek politik global. Hal ini nyata dalam narasi Trump yang cenderung menafikan aspirasi Palestina.
Tentang Amanah Lingkungan: Al-Qur’an menegaskan manusia sebagai khalifah fil ardh. Prabowo dan Macron berbicara soal iklim, mengingatkan bahwa nubuwat ini bukan teori, tapi tugas peradaban yang sedang diuji.
Nubuwat Nabi bukan sekadar ramalan, melainkan petunjuk arah. Ia bukan untuk ditakuti, tapi untuk dijadikan energi siasat agar umat tidak jatuh ke lubang yang sama.
Saran ICMI Kalbar
Dari perspektif ICMI Kalbar, ada empat rekomendasi strategis:
1. Menguatkan Diplomasi Umat
Kalbar harus mendorong lahirnya generasi Muslim yang piawai berdiplomasi, menguasai isu global dari Palestina hingga iklim. Diplomasi tidak cukup dilakukan elite negara, melainkan juga cendekiawan, aktivis, dan mahasiswa.
2. Membangun Green Islam Movement
Dengan kekayaan hutan tropis dan gambut, Kalbar bisa menjadi laboratorium dunia Islam dalam menjaga bumi. Program Hutan Wakaf misalnya, bisa menjadi model konkret kontribusi umat terhadap krisis iklim global.
3. Mengarusutamakan Literasi Geopolitik
ICMI Kalbar perlu menyusun modul kajian geopolitik Islami bagi Gen Z dan milenial, agar mereka tidak gagap menghadapi perang narasi global.
4. Menjadi Suara Moral Multilateralisme
ICMI Kalbar dapat memposisikan diri sebagai think-tank yang menyuarakan prinsip keadilan, keberlanjutan, dan solidaritas dalam kerangka multilateral. Dari Pontianak, gema ini bisa meluas ke kancah nasional dan internasional.
Penutup
Pidato empat presiden di UNGA ke-80 adalah algoritma baru politik dunia. Ada kode kedaulatan, multilateralisme, krisis iklim, dan keadilan Palestina yang sedang diuji. Umat Islam tidak boleh hanya menjadi objek, melainkan harus hadir sebagai subjek peradaban.
Nubuwat Nabi telah mengingatkan akan datang masa sulit, tetapi juga membuka peluang bagi umat yang bersiasat cerdas. ICMI Kalbar, dengan akar lokal dan visi global, siap menjadi kompas moral dan strategis agar umat Islam tidak hanya bertahan, tetapi memimpin arah zaman.
*Penulis adalah Guru Besar Manajemen Hutan Perubahan Iklim Universitas Tanjungpura / Ketua ICMI Kalbar
Editor : Hanif