Oleh: Mustafa*
Bangsa ini bisa kehilangan tambang emas, hutan tropis, bahkan kekayaan minyaknya, tetapi selama memiliki pendidikan yang kokoh, ia tetap akan berdiri tegak. Sebaliknya, bila pendidikan dibiarkan rapuh, sehebat apa pun kekayaan alam yang dimiliki, negeri ini hanya akan menjadi penonton di negerinya sendiri. Pertanyaan yang harus kita ajukan dengan jujur adalah, mau dibawa kemana Indonesia ini bila pendidikan terus tertinggal? Bung Karno pernah berujar, “Pendidikan adalah cikal bakal keberhasilan sebuah bangsa.” (Soekarno, 1966). Kata-kata itu bukan sekadar retorika, melainkan alarm keras bahwa masa depan Indonesia ditentukan bukan oleh seberapa banyak gedung-gedung megah pencakar langit dibangun, dan berapa banyak kilang mingak berdiri, melainkan sejauh mana ruang kelas kita mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global.
Alquran sendiri menegaskan pentingnya ilmu. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah [58]: 11). Ayat ini memberi pesan jelas bahwa kualitas manusia sangat ditentukan oleh ilmu yang dimilikinya.
Realitas yang Mengkhawatirkan
Berbagai laporan internasional menegaskan masih rendahnya capaian pendidikan Indonesia. Dalam survei PISA (Programme for International Student Assessment), capaian literasi membaca, matematika, dan sains kita masih tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga (OECD, 2019). Bukankah ironis, di tengah gegap gempita pembangunan infrastruktur fisik, infrastruktur paling mendasar yaitu pendidikan masih terengah-engah?
Muchlas Samani (2017) berkata bahwa, “Mutu lulusan sangat dipengaruhi kualitas proses pembelajaran, dan kualitas pembelajaran sangat ditentukan kinerja guru serta manajemen sekolah.” Artinya, pendidikan yang lemah bukan semata soal siswa, tetapi juga soal sistem yang membentuknya.
Lebih dari itu, kesenjangan pendidikan juga nyata. Sekolah di kota besar umumnya lebih maju dibandingkan sekolah di daerah terpencil. Sarana belajar seperti laboratorium, perpustakaan, dan akses internet masih jauh dari merata. Ketidakadilan ini berpotensi memperlebar jurang sosial, karena anak-anak di desa kehilangan kesempatan yang sama untuk maju. Jika hal ini dibiarkan, pendidikan justru akan melanggengkan ketidaksetaraan, bukan memutus rantainya.
Akar Masalah Pendidikan
Ada beberapa akar masalah yang secara ilmiah dapat kita identifikasi. Pertama, kualitas guru. Guru adalah ujung tombak pendidikan. Namun, masih banyak guru yang belum mendapat pelatihan profesional berkelanjutan. Padahal, dalam literatur pendidikan, pengembangan kompetensi guru terbukti sangat berpengaruh pada kualitas belajar siswa (Darling-Hammond, 2000).
Dalam Islam, guru memiliki kedudukan mulia. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang guru.” (HR. Ibnu Majah, no. 229). Hadis ini menegaskan bahwa peran mendidik adalah inti dari risalah kenabian. Karena itu, peningkatan kualitas guru seharusnya menjadi prioritas utama.
Kedua, manajemen sekolah. Manajemen yang lemah menyebabkan sekolah tidak mampu membangun budaya mutu. Evaluasi, supervisi, dan inovasi pembelajaran sering kali tidak berjalan. Ketiga, ketimpangan akses dan infrastruktur. Di daerah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal), banyak sekolah kekurangan fasilitas dasar. Hal ini menimbulkan kesenjangan yang sulit ditutup jika tidak ada intervensi serius dari pemerintah.
Keempat, kebijakan yang tidak konsisten. Kebijakan pendidikan sering berubah-ubah, mengikuti pergantian menteri atau program sesaat. Akibatnya, arah pendidikan tidak memiliki kesinambungan.
Kelima, kurangnya penekanan pada karakter. Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan, “Dengan adanya budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka.” (Dewantara, 1935). Hal ini sejalan dengan pandangan Imam Al-Ghazali (2005) yang menekankan bahwa tujuan utama pendidikan adalah penyempurnaan akhlak, bukan sekadar kecerdasan intelektual.
Inspirasi dari Para Tokoh
Sejarah memberi kita panduan lewat pemikiran para tokoh pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengajarkan prinsip “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” (Dewantara, 1932). Guru tidak hanya menyampaikan ilmu, melainkan juga menjadi teladan, fasilitator, dan pendorong semangat. John Dewey, tokoh pendidikan progresif dunia, menyebutkan pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri (Dewey, 1916). Artinya, pendidikan harus relevan dengan realitas kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hafalan teori.
Demikian pula, ulama besar Ibnu Khaldun (2004) dalam Muqaddimah menyatakan bahwa pendidikan adalah sarana pembentukan peradaban. Menurutnya, ilmu dan pendidikan merupakan syarat mutlak kemajuan suatu masyarakat.
Rekomendasi Strategis
Bagaimana agar pendidikan Indonesia dapat benar-benar menjadi penentu masa depan bangsa?
Profesionalisasi guru mutlak diperlukan. Pemerintah harus menjamin program pelatihan guru yang berkelanjutan, bukan sekadar pelatihan singkat. Komunitas belajar guru dapat dikembangkan agar para pendidik saling berbagi praktik baik.
Reformasi manajemen sekolah juga penting. Sekolah perlu dikelola dengan prinsip mutu berkelanjutan. Supervisi, evaluasi, dan monitoring harus menjadi budaya, bukan sekadar formalitas.
Pemerataan infrastruktur tidak bisa ditawar. Anggaran harus diprioritaskan untuk membangun fasilitas pendidikan di daerah tertinggal. Akses internet, laboratorium, dan perpustakaan digital adalah kebutuhan dasar era kini.
Selain itu, pendidikan memerlukan kebijakan jangka panjang. Ia tidak boleh menjadi korban politik praktis. Diperlukan kontrak sosial pendidikan antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha untuk menjamin keberlanjutan program. Kurikulum pun harus kontekstual dan fleksibel agar sekolah dapat mengintegrasikan kearifan lokal dan pendidikan karakter. Dengan begitu, siswa tidak tercerabut dari identitas budayanya.
Menegaskan Pilihan Bangsa
Ada ungkapan dalam berbagai konteks pendidikan dan kebangsaan bahwa bangsa yang gagal mendidik generasinya sedang menggali liang kuburnya sendiri. Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh melimpahnya tambang nikel atau luasnya sawit, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Jika pendidikan terus dibiarkan lemah, kita sedang menyiapkan generasi rapuh yang hanya jadi buruh di tanah airnya. Namun, bila kita berani menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama, kita sedang membangun fondasi peradaban yang kokoh.
Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang sebagai guru.” (Dewantara, 1935). Pesan ini relevan bagi kita semua.
Alquran kembali mengingatkan, “Tidak akan berubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11). Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan besar hanya akan lahir dari ikhtiar serius membangun kualitas manusia, dan pendidikan adalah jalannya.
Pendidikana adalah menyemai benih tanaman. Buahnya mungkin tidak dipetik hari ini, tetapi generasi mendatanglah yang akan menikmatinya. Pertanyaannya, “Beranikah kita menjadikan pendidikan sebagai urusan nomor satu bangsa ini, atau terus membiarkannya menjadi “anak tiri” pembangunan?”**
*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak.
Editor : Hanif