Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kondisi Umat Manusia pada Hari Kiamat dan Syafaat Rasulullah SAW

Hanif PP • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 11:01 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

Oleh: Sholihin HZ*

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, diriwayatkan dari Anas bin Nalik ra. bahwa Nabi Muhammad SAW  menceritakan bahwa kelak pada hari kiamat ada sekelompok orang atau kaum yang meminta kenyamanan di tengah dahsyat dan paniknya hari kiamat. Sebelum kisah ini dilanjutkan berikut beberapa kedahsyatan hari kiamat. Pertama, Qs. Al Hajj/ 22: 1-2, “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” Kedua, Qs. Al Infithar/ 82: 2-3, “Apabila bintang-bintang jatuh berserakan, apabila lautan diluapkan.” Ketiga, Qs. Az Zalzalah/ 99: 1, “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat.”

Demikian sekelumit dahsyatnya hari kiamat sehingga kepanikan luar biasa dialami oleh manusia saat itu. Lantas bagaimana gambaran manusia saat itu? Melanjutkan hadits qudsi yang sudah disinggung di atas, maka ada satu kaum yang menyatakan di tengah paniknya manusia mereka mengatakan keinginannya untuk meminta pertolongan. Keinginan mereka untuk meminta keselamatan dengan mendatangi manusia dan nabi pertama, yakni Adam AS. Mereka berkata kepada Nabi Adam, “Tidakkah engkau melihat manusia saat ini? Bahwa Allah SWT telah menjadikan engkau dengan tangan-Nya, para malaikat sujud (hormat) kepadamu dan Allah SWT telah mengajari engkau dengan nama segala sesuatu. Oleh sebab itu, mohonkanlah syafaat untuk kami kepada Tuhan sehingga kami bisa beristirahat dari kedahsyatan ini.”

Nabi Adam menjawab, ”Aku hari ini bukanlah orang yang memiliki kapasitas untuk memberikan pertolongan.” 

Nabi Adam menyebutkan kesalahan yang pernah diperbuatnya. Nabi Adam lantas menyarankan untuk mendatangi Nabi Nuh. Kaum inipun menemui Nabi Nuh dan mereka mengutarakan maksud menemuinya sebagaimana yang disampaikan kepada Nabi Adam. “Pada hari ini aku bukanlah orang yang memiliki kapasitas untuk melakukan hal itu, karena aku juga memiliki kesalahan,” ujar Nabi Nuh dan ia menyarankan untuk menemui Nabi Ibrahim.

“Sesungguhnya ia kekasih Allah yang Maha Penyayang,” jelas Nabi Nuh.

Saat menemui Nabi Ibrahim, hal senada juga diutarakan kepada kaum tersebut dan Nabi Ibrahim menyampaikan kesalahan yang pernah dilakukannya. Nabi Ibrahim menganjurkan, “Datanglah kalian kepada Nabi Musa karena ia nabi yang diberi kitab Taurat, dialah seorang rasul yang diajak bicara oleh Allah SWT.”

Masih dengan jawaban yang sama seperti para nabi sebelumnya, Nabi Musa menyatakan bahwa ia pernah melakukan kesalahan dan Nabi Musa as berkata, “Datanglah kalian kepada Nabi Isa AS, seorang hamba Allah, seorang rasul-Nya, kalimah dan ruh-Nya.”

Mereka pun mendatangi Nabi Isa dan Nabi Isa juga berkata yang serupa dan Nabi Isa menyarankan untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW. Nabi Isa menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang hamba yang telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Saat ditemui, Nabi Muhammad kemudian berkata, “Izinkan aku menghadap tuhanku dan aku diperkenankan untuk memberikan bantuan. Tuhanku berkata kepada, “Angkatlah kepalamu wahai Muhammad, katakan apa yang ingin engkau katakan, perkataanmu tentu kudengar, mintalah niscaya apa yang engkau pinta tentu akan aku berikan, berilah syafaat tentu engkau akan diberi pertolongan.””

Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa ia memuji tuhannya, lantas diberikan hak untuk memberikan syafaat dengan ketentuan dan batas-batas tertentu. Lantas aku mengantarkan mereka ke dalam surga. Rasulullah menyatakan, ”Wahai Tuhanku, tidaklah tersisa di dalam neraka  melainkan orang-orang yang ditahan oleh Alquran dan tetap berada di neraka.”

Nabi Muhammad bersabda, “Akan keluar dari neraka orang-orang yang mengatakan Lailahaillallah  dan di dalam hatinya terdapat kebaikan meskipun seberat timbangan biji gandum.”

Demikianlah, betapa syafaat terakhir diberikan oleh Nabi Muhammad sebagai bentuk kasih dan cintanya kepada umatnya. Semoga bermanfaat.**

 

*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak; Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat.

Editor : Hanif
#Hadits qudsi #Syafaat #nabi nuh #hari kiamat #Rasulullah SAW #nabi adam