Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Timur dan Barat dalam Komunikasi dan Budaya

Hanif PP • Rabu, 8 Oktober 2025 | 11:40 WIB
Sihabuddin
Sihabuddin

Oleh: Sihabuddin*

Berbicara komunikasi tentu berbicara budaya, berbicara budaya tentu berbicara komunikasi karena keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Budaya tidak akan berkembang bahkan muncul jika tidak ada komunikasi dan komunikasi tidak akan pernah ada jika tidak ada budaya. Jadi budaya dan komunikasi akan selalu berjalan beriringan tidak terpisahkan. Karena sebenarnya budaya dan komunikasi adalah satu wujud namun dipandang dari dua sisi yang berbeda. Jadi, meskipun dilihat dari satu sisi, sisi lainnya tetap akan mengikuti karena akan ada sesuatu yang kurang jika tidak melibatkan keduanya secara langsung. Maka dari itu, seorang antropolog asal Amerika Edward T. Hall menyatakan budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. 

Inti dari budaya adalah semua ciptaan atau karya manusia yang dianut secara bersama-sama oleh suatu kelompok masyarakat, jadi budaya bukan karya individu. Sedangkan inti dari komunikasi adalah penyampaian pesan antar manusia. Bagaimana mungkin sebuah budaya akan menjadi milik bersama dan diturunkan dari generasi ke generasi jika tidak disampaikan melalui komunikasi dan bagaimana mungkin orang bisa berkomunikasi dengan bahasa verbal dan nonverbal dan dipahami secara bersama-sama tanpa budaya yang sama. Itulah kenapa kalau ada pertanyaan, “Lebih awal mana antara budaya dengan komunikasi?”

Sama dengan pertanyaan, “Lebih awal mana antara ayam dengan telur?”

Kalau dijawab lebih awal ayam maka akan ada bantahan, ayam dari telur. Kalau dijawab telur makan ada bantahan bahwa telur yang mengerami ayam. Jadi pertanyaan itu tidak akan pernah ada habisnya seperti pertanyaan lebih awal mana antara budaya dengan komunikasi.

Menghitung jumlah budaya sama dengan menghitung jumlah komunikasi yang tentunya banyak sekali jumlahnya di dunia ini. Di Indonesia saja terdapat 718 bahasa daerah negara dengan pemilik jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. Dari bahasa tersebut sudah bisa terhitung jumlah kelompok budaya dan komunikasinya. Lain lagi ditambah sub-sub budayanya yang tentunya semakin menambah jumlah budaya dan komunikasi di Indonesia. Bagaimana dengan jumlah budaya dan komunikasi di dunia tentu banyak sekali. Namun, di dunia ini secara garis besar budaya dibagi menjadi dua, yaitu budaya Timur dan budaya Barat. Penggunaan istilah budaya Timur dan budaya Barat ini bukan melihat dari segi geografis. Sebab ada yang wilayahnya di Timur tapi budayanya Barat seperti halnya Australia dan Selandia Baru.

Penggunaan istilah budaya Timur dan Barat lebih mengacu dari mana budaya tersebut berasal. Budaya Timur mengacu ke Asia sedangkan budaya Barat mengacu ke Eropa. Ada perbedaan besar di antara kedua budaya ini. Budaya Timur merupakan keberagaman budaya di Asia yang umumnya menekankan kebersamaan, harmoni sosial, penghormatan kepada orang tua dan leluhur, serta nilai kesopanan tinggi dan pengendalian diri. Sedangkan budaya Barat merujuk pada norma sosial, nilai etika, adat istiadat, sistem kepercayaan, politik, seni, dan teknologi yang berasal dari Eropa. Budaya ini berakar pada tradisi klasik Yunani-Romawi, Renaisans, Pencerahan, dan Revolusi Industri, yang menghasilkan nilai-nilai seperti individualisme, rasionalisme, dan demokrasi.

Maka dari itu, kedua budaya besar ini memiliki keunikan komunikasi masing-masing. Budaya Timur karena lebih menekankan kebersamaan dan harmoni sosial maka saat berkomunikasi verbal (bahasa) dengan orang lain cenderung tidak secara langsung atau tidak to the point dan menggunakan banyak pertimbangan sosial serta konteks budaya. Contohnya orang Jepang untuk menolak ajakan orang lain maka menggunakan frasa ambigu seperti, “Saya akan memikirkannya.” Hal ini seperti halnya orang Jawa khususnya Solo dan Jogja selalu bilang “iya” saat berbicara dengan orang lain karena rasa tidak enak jika menolak atau membantah secara langsung. Dan, itu adalah sebuah bentuk kesopanan agar orang yang berbicara tidak sakit hati. Jadi, makna “iya” bagi orang Jawa khususnya Solo dan Jogja memiliki dua makna yaitu “iya mendengar” dan “iya menyetujui”. Jadi jika ada orang yang selalu bilang “iya” bukan berarti setuju, tapi bisa jadi makna “iya, saya mendengar”.

Sedangkan budaya Barat karena karena lebih menekankan pada individualisme dan efisiensi maka saat berkomunikasi verbal secara langsung, jelas, dan lugas (to the point) atau tidak suka basa-basi. Maka dari itu, orang Barat merasa aneh saat di Indonesia dan akan pergi ke pantai dengan pakaian lengkap, kemudian bertemu dengan orang Indonesia tapi masih ditanya akan pergi kemana. Bagi orang Barat sudah jelas akan pergi ke pantai masih ditanya, sedangkan bagi orang Indonesia basa-basi sebagai bentuk keramahtamahan. Selain itu, orang Barat lebih egaliter daripada orang Timur. Jangan heran orang Barat terbiasa memanggil nama untuk orang yang lebih tua. Contohnya di acara America`s Got Talent ada peserta anak kecil tidak masalah langsung memanggil nama jurinya, Simon, tanpa embel-embel “Sir” dan lainnya. Sedangkan peserta dari India karena terbiasa dengan budaya Timur yang menekankan penghormatan kepada yang lebih tua selalu paggil “Sir” pada Simon, meski beberapa kali Simon selalu bilang panggil Simon saja.  

Perbedaan keunikan komunikasi antara budaya Timur dan Barat juga terlihat dari nyanyian dan aksara. Lagu-lagu Timur khususnya lagu Arab, India, Persia, Melayu, dangdut original dan lain-lain mengutamakan nada cengkok yang meliuk-liuk yang dianggap susah bagi orang-orang yang tidak terbiasa. Liriknya pun banyak yang menggunakan bahasa sastra seperti puisi yang dinyanyikan. Sedangkan lagu-lagu Barat tidak menekankan nada cengkok atau tidak banyak liukannya. Aksara-aksara Timur seperti Aksara Arab dan India memiliki banyak liukan dibanding aksara latin yang tidak banyak liukan seperti Aksara Arab dan India.  Dari perbedaan kedua budaya besar dunia ini mana yang paling benar? Jawabanya tidak ada yang paling benar dan tidak ada yang salah. Budaya itu bagaimana kita menyikapi dan bagaimana kita menyesuaikan diri dengan budaya dimana kita berada.**

 

*Penulis adalah dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.

Editor : Hanif
#budaya timur #kelompok masyarakat #komunikasi #demokrasi #budaya