Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dua Fitnah Dunia

Hanif PP • Jumat, 10 Oktober 2025 | 13:47 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

Oleh: Sholihin HZ*

Firman Allah SWT dalam Qs. Al Kahfi/ 18: 46 menyebutkan dua jenis perhiasan dunia yaitu al maalu dan  al banuunu. Keduanya bermakna harta kekayaan dan anak-anak. Harta kekayaan dan anak-anak adalah perhiasan yang bisa menjadi kebanggaan siapapun. Bukankah perhiasan dapat memancing seseorang untuk dibanggakan sebagai keturunan atau silsilah yang harus dimuliakan. Dari kebanggaan dua perhiasan ini juga dapat memunculkan sikap sombong dan angkuh.

Ada hal yang menarik dari susunan kata terkait dua perhiasan ini. Disebutkan, ”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Mengapa Allah SWT menyebutkan harta terlebih dahulu? Apakah ia lebih berharga bagi manusia daripada anak-anak? Abdullah bin Ibrahim as Sadah dalam bukunya Tadabbur al Kahfi (2024: 131) menyebutkan bahwa kata harta lebih dahulu daripada anak-anak bukan karena ia lebih mulia dan lebih berharga, melainkan karena harta itu sifatnya umum bagi semua orang, berbeda dengan anak-anak. Karena setiap orang memiliki harta meskipun sedikit. Lain halnya dengan anak, ini bersifat khusus karena ada sebagian orang yang tidak memiliki keturunan.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Harta dan anak-anak adalah ladang dunia, sedangkan amal saleh adalah ladang akhirat dan terkadang Allah SWT menggabungkan keduanya bagi beberapa kaum.” 

Harta bisa membuat manusia dekat kepada Allah SWT, demikian juga anak keturunan. Tetapi, keduanya bisa menjadi ujian dan cobaan bagi yang memilikinya. Sahabat sekaligus menantu Nabi saw, Utsman bin Affan adalah manusia kaya dan dengan kekayaannya ia menjadi salah satu penopang dakwah Islam. Kekayaannya digunakan untuk kemaslahatan agama. Demikian juga sahabat Abdurrahman bin Auf yang dikenal sebagai pebisnis ulung dan sahabat Nabi yang paling kaya raya di antara yang lainnya, dengan kekayaan yang ditaksir mencapai triliunan rupiah saat ia wafat. Tapi sejarah manusia juga mencatat Qarun, yang tabiatnya direkam dalam Qs. Al Qashash/ 28: 79: ”Maka, keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Andaikata kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Memamerkan kekayaannya ini menjadi salah satu tabiat Qarun yang dicela oleh agama, istilah saat ini dinamakan dengan flexing.

Lantas bagaimana sikap kita memandang dua perhiasan ini. Sebagaimana istilahnya, ‘perhiasan’, maka ia akan memasuki masa aus (kehilangan daya tarik). Dalam konteks ini, Alquran memberikan petunjuknya dalam Qs. Al Baqarah/ 2: 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.” Ayat ini mengajarkan, cintailah keduanya sekadarnya saja. Senang boleh, tapi cinta mati jangan sampai. Kenapa? Hakikatnya ia hanya perhiasan yang ada masa redupnya. Sebagai perhiasan maka harta dan anak keturunan dapat menjadi kebanggaan pemiliknya, Namun, jangan lupa, sesungguhnya keduanya adalah nikmat diberikan oleh pemilik sejatinya, Allah SWT. Apa hubungannya? Bahwa setiap nikmat yang diberikan pasti akan diminta pertanggungjawaban atas penggunaannya dan ditanya tentang nikmat itu sendiri (tsumma latus alunna yawmaizin ’anin na’im, kemudian sungguh kamu akan ditanya tentang nikmat itu).

Dua sahabat mulia, Abu Bakar ra dan Umar bin Khaththab r.a terkait nikmat ini, pernah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami kaum yang memegang dunia dengan tangan kami, bukan hati kami.” Demikian juga doanya Umar bin Khaththab, “Ya Allah, tempatkanlah dunia dalam genggaman tangan kami dan jangan kau tempatkan ia di lubuk hati kami.” Lantas bagaimana dengan kita? Semoga kita tetap mengingat dan merenungkan bahwa perhiasan yang ada satu saat akan ditanyai tentang penggunaannya oleh pemilik perhiasan sesungguhnya, Allah SWT.**

 

*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak.

Editor : Hanif
#abadi #perhiasan #dunia #akhirat #bekal #harta #anak anak #amal saleh