Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Perdamaian dan Spirit Peradaban Islam Borneo

Hanif PP • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 12:40 WIB
Eka Hendry Ar
Eka Hendry Ar

Oleh: Eka Hendry Ar*

Tanggal 9 hingga 11 September 2025 merupakan momentum bersejarah bagi IAIN Pontianak dan Perguruan Mitra KAIB, karena telah berlangsung kegiatan Konferensi Antar Bangsa Islam Borneo (KAIB) ke XVI di Kota Pontianak Kalimantan Barat Indonesia. Tema yang diusung, “World Peace, Environmental Crisis and the Second Wave of Inter-civilization Dialogue”, yang dibreak down ke dalam 6 sub tema: Socio-Cultural Issues and Manuscripts, Education), Politics, Maritime and Environtment, Religious Issues dan Economics.

Latar belakang tema perdamaian dan krisis lingkungan terkait dengan kondisi terkini yang ditandai berbagai krisis, baik politik, ekonomi dan lingkungan. Dunia dihantui berbagai perang, seperti perang Palestina vs Israel, Israel vs Iran, Rusia vs Ukraina, Thailand vs Kamboja dan ancaman perang Cina vs Taiwan. Menurut catatan dari Tempoinforgrafik (Kamis, 28 Juli 2025) setidaknya ada 45 negara yang dilanda perang bersenjata. Sebanyak 22 negara di Benua Afrika, 8 di Timur Tengah, 2 di Eropa Timur, 5 di Amerika dan 5 di Asia Tenggara (Filipina, Myanmar, Indonesia, Thailand dan Kamboja). 

Disamping itu, dunia juga dilanda berbagi bencana alam sebagai efek dari krisis lingkungan dan imbas praktek ekonomi yang eksploitatif terhadap sumber daya alam (SDA). Ribuan korban nyawa, kerusakan harta benda dan  “harapan” masa depan generasi di masa depan yang terampas. Perang dan kerusakan alam menjadi “mesin pembunuh” yang luar biasa terjadi akhir-akhir ini, menjadi ironi dari dari pencapaian spektakuler manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kedua level masalah ini menjadi tantangan serius, sehingga membutuhkan atensi dari semua bangsa. Kita membutuhkan sebuah visi global sebagai warga dunia (global citizenship). Karena persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara parochial dan eksklusif, akan tetapi harus dibangun secara bersama-sama, sebagai kehendak kolektif.

Dalam konteks ini, maka perlu mainstreaming dialog peradaban gelombang kedua, yaitu upaya membangun koeksistensi dan perjumpaan antar bangsa, antar budaya dan peradaban, yang tidak hanya terpolarisasi antara Timur dan Barat, Islam dan Non Islam, Sosialisme dan Kapitalisme. Akan tetapi menjalin upaya bersama yang mempertemukan semua simpul peradaban secara inklusif dan komprehensif, baik dari segi kawasan, budaya, agama dan etnisitas. KAIB XVI adalah momentum dan monumen yang menghidupkan api dan imajinasi harapan tetap menyala.  Untuk menjawab isu-isu tersebut, 200 peserta (dalam dan luar negeri) bertukar pikiran melalui 138 papers.  Berbagai persfektif, konteks dan kepakaran berkolaborasi membentuk mozaik tradisi intelektual Islam Borneo, yaitu artikulasi Islam universal, Islam egaliter, Islam yang dialektis dan solutif, serta Islam yang kaya dengan ornament lokal.

 

Catatan Reflektif KAIB XVI

Setelah mengikuti setiap tahapan pelaksanaan KAIB XVI, penulis menangkap beberapa hal-hal strategis dan sekaligus menjadi catatan dari pelaksanaan konferensi. Pertama, pelaksanaan KAIB merupakan wahana silaturrahmi dan kerjasama akademik diantara Perguruan Tinggi yang terdapat di Pulau Borneo, yang dihuni oleh 3 bangsa serumpun (Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam). Disebut sebagai wahana silaturrahmi karena pada dasarkan ketiga negara sempadan ini memiliki banyak sekali kesamaan, baik bahasa, adat istiadat, agama dan ikatan hubungan persaudaraan.  Sehingga lebih memudahkan pemahaman, komunikasi dan kerjasama diantara ketiganya. Ini merupakan modal penting, mendahului dari pada kepentingan akademis.  Sehingga dengan ikatan tali persaudaraan akan jauh lebih mudah untuk membangun hubungan yang lebih stategis.

Kedua, ajang KAIB bukan sekedar demonstrasi karya ilmiah, akan tetapi lebih sebagai upaya membangun sinergi dan pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara para akademisi dari berbagai latar belakang keilmuan dan bangsa. Satu sama lain saling menimba pengalaman akademis yang bermanfaat untuk dikembangkan di institusi masing-masing. Saya mengistilahkan ini dengan pertemuan pikiran dan pertemuan jiwa, bukan benturan kepandaian dan kepintaran. Karena yang kita perlukan adalah upaya saling memperkaya tamadun ilmu pengetahuan. Maka sayang sekali, jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh para akademisi yang ada di kampus-kampus mitra KAIB.

Ketiga, diantara strategi meningkatkan kualitas perguruan tinggi adalah bagaimana meningkatkan jaringan dan kerjasa internasional. Tujuannya bukan semata untuk pemenuhan kebutuhan akreditasi, akan tetapi sebuah keniscayaan. Kebutuhan kita ke depan adalah membangun mindset global (internasionalisasi), sehingga kampus-kampus yang ada di Indonesia mendapatkan efek kebutuhan berprestasi seperti yang telah dicapai oleh kampus-kampus di negara lain (inter-change experiences).  Bukan sikap inferior jika kampus seperti IAIN Pontianak mau belajar dari kampus-kampus besar, baik dalam dan luar negeri, agar IAIN Pontianak dapat mencontoh keberhasilan tersebut.

Keempat, terkait dengan artikel-artikel yang dibentangkan di KAIB, secara keseluruhan sudah menunjukkan heterogenitas isu, wilayah dan kepakaran.  Kolobarasi dalam menyumbangkan gagasan sudah tercapai melalui KAIB. Namun, yang masih terasa kurang adalah artikel-artikel yang ditulis secara bersama antara para dosen dan peneliti lintas kampus dalam dan luar negeri. Hal ini menujukkan bahwa, kolaborasi antara kampus mitra KAIB masih minim.  Padahal, dengan adanya kolobarasi riset dan penulisan artikel ilmiah ini menunjukkan telah terjadi pertukaran atau dialektika keilmuan dan kebudayaan. Proses dialektika ini adalah momentum saling belajar yang akan menambah wawasan budaya, keterampilan internasional, dan variasi pengalaman akademik. Harapannya, KAIB XVII akan dihasilkan lebih banyak artikel yang merupakan hasil kolobrasi antarkampus dalam dan luar negeri mitra KAIB.

Kelima, mengingat KAIB ini memiliki nilai strategis, sayang jika pertemuan hanya terjadi setahun sekali. Sehingga terkesan tidak ada kesinambungan gagasan dan pemikiran. Perlu follow up dengan skala yang lebih kecil secara berkesinambungan. Jaringan komunikasi dan kerjasama yang telah ada harus terus dihidupkan, baik melalui kegiatan saling berkunjung maupun dalam bentuk program-program kerjasama (dalam urusan Tridharma Perguruan Tinggi).  Peringkat kerjasama yang paling mudah adalah dalam pembelajaran dengan virtual classroom atau online collaborative learning.  Atau, yang lebih sederhana lagi pertukaran informasi seperti karya-karya akademis dan event ilmiah.

Muara dari semua refleksi ini adalah bagaimana kita melestarikan nilai dan visi besar semangat konferensi.  Tidak hanya sekedar event, akan tetapi menjadi etos dan spirit peradaban. ***

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak; PIC KAIB XVI.

Editor : Hanif
#krisis lingkungan #isu perdamaian #Antar bangsa #XVI FPTI 2022 #Konferensi #islam #dialog peradaban #IAIN Pontianak #Borneo