Oleh: Martini Pratiwi, S.S.T*
Kembalinya Bandara Supadio sebagai bandara internasional dan dimulainya penerbangan internasional resmi pada September 2025 merupakan momentum penting bagi Kalimantan Barat. Penerbangan perdana yang dibuka maskapai seperti AirAsia dengan rute-rute ke Kuching dan Kuala Lumpur menunjukkan bahwa konektivitas lintas batas akhirnya kembali terlihat nyata setelah sekian lama. Ini membuka peluang ekonomi, pariwisata, dan hubungan antardaerah yang selama ini terkendala.
Pada September lalu, data operasional Bandara Supadio menunjukkan sebanyak 54 penerbangan internasional tiba di Supadio, dengan 5.298 penumpang datang. Dari jumlah tersebut, 38 penerbangan berasal dari Malaysia, 11 dari Kuala Lumpur dan 5 penerbangan lainnya. Sementara itu, 56 penerbangan berangkat ke luar negeri dengan total 6.431 penumpang, didominasi tujuan Kuching (38 penerbangan, 4.510 penumpang) dan Kuala Lumpur (11 penerbangan, 1.913 penumpang).
Data awal ini menarik untuk dicermati. Jumlah penumpang berangkat lebih banyak daripada yang datang mengindikasikan beberapa hal penting. Pertama, antusiasme masyarakat lokal untuk bepergian ke luar negeri begitu tinggi. Setelah lama terhenti akibat pandemi, masyarakat Kalbar tampak memanfaatkan kembali akses internasional untuk berbagai kepentingan berobat, berbisnis, berwisata, maupun mengunjungi keluarga di Malaysia.
Kedua, arus penumpang yang tidak seimbang juga menunjukkan bahwa rute internasional ini masih bersifat outbound oriented, lebih banyak warga yang berangkat daripada wisatawan yang datang. Artinya, manfaat ekonomi dari sektor pariwisata belum sepenuhnya mengalir ke Kalimantan Barat. Padahal, potensi daerah ini cukup besar, diantaranya wisata alam, budaya Melayu dan Dayak, serta kuliner khas yang unik.
Ketiga, perbedaan jumlah penumpang datang dan berangkat juga dapat disebabkan oleh belum stabilnya frekuensi penerbangan serta kapasitas kursi pada rute internasional yang baru dibuka. Dalam tahap awal operasional, maskapai biasanya masih melakukan penyesuaian jadwal dan promosi untuk menarik pasar. Selain itu, tidak menutup kemungkinan sebagian penumpang yang menuju Kalimantan Barat memilih masuk melalui jalur domestik.
Terlepas dari ketimpangan arus penumpang, kembalinya Bandara Supadio sebagai bandara internasional adalah capaian besar. Rute ke Kuching dan Kuala Lumpur, dua kota besar di Malaysia, membuka pintu kerja sama ekonomi, investasi, dan pariwisata lintas batas.
Media nasional sempat menyoroti langkah AirAsia yang menjadikan Pontianak sebagai salah satu pintu utama Kalimantan menuju Asia Tenggara. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pun menyambut baik dengan harapan sektor pariwisata dapat segera tumbuh pasca-pandemi.
Dampak ekonominya bisa signifikan. Pelaku UMKM kini berpotensi memperluas pasar ekspor ke Malaysia, sementara sektor jasa transportasi, hotel, dan kuliner lokal mendapat peluang baru dari mobilitas lintas negara.
Namun, agar manfaat ini tidak hanya bersifat keluar uang tapi tidak masuk uang, maka perlu ada strategi khusus untuk menarik penumpang inbound, wisatawan mancanegara yang datang ke Kalbar. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi “pintu keluar”, bukan “tujuan datang”.
Ada beberapa langkah yang bisa segera diambil. Pertama, promosi pariwisata lintas batas ke Kuching dan Kuala Lumpur dengan melibatkan maskapai dan agen perjalanan. Paket “Weekend Getaway ke Pontianak” atau “Wisata Budaya Melayu & Dayak” bisa menjadi daya tarik baru.
Kedua, kerja sama pemerintah daerah dengan maskapai dan Kementerian Pariwisata untuk menyusun kalender event tahunan bertaraf internasional agar menarik kunjungan wisatawan. Ketiga, optimalisasi data penerbangan dan penumpang untuk memantau tren, sehingga strategi promosi bisa lebih terarah dan berbasis bukti.
Keempat, peningkatan pelayanan di bandara, mulai dari imigrasi, karantina, hingga transportasi darat ke kota, agar pengalaman pertama wisatawan di Kalbar memberi kesan positif. Kembalinya penerbangan internasional di Bandara Supadio bukan sekadar kabar baik, melainkan momentum emas untuk menghubungkan Kalimantan Barat dengan dunia.
Tetapi, tugas kita belum selesai. Jika arus penumpang yang keluar jauh lebih banyak dari yang datang, artinya pekerjaan rumah kita masih panjang: menjadikan Kalbar bukan hanya tempat berangkat, tapi juga tempat yang ingin didatangi.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, maskapai, pelaku usaha, dan masyarakat, Bandara Supadio bisa kembali menjadi simpul penting pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di kawasan barat Kalimantan. Momentum sudah datang. Tinggal bagaimana kita mengubahnya menjadi keberlanjutan. **
*Penulis adalah Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Kalimantan Barat.
Editor : Hanif