Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun merupakan ucapan spontan ketika mendengar ada orang yang wafat. Keseringan mengucap kalimat istirja' tadi, sesering itu pula pengucap lupa kepada makna yang dikandungnya. Tidak hanya kalimat istirja', kalimat lain pun terkadang lepas saja dari mulut, tanpa berkesadaran, tanpa pemaknaan. Artinya lenyap dari kontrol hati.
Tak ubahnya seperti keledai yang membawa kitab. Betapa tebal dan betapa serius penulisnya. Pesan penulis tidak pernah tersampaikan kepada para pembaca. Seakan terdapat mata rantai yang terputus (missing link).
Filosofi kalimat istirja' (innalillahi wainnailaihi rajiun) merupakan latihan jiwa untuk melepaskan sesuatu yang selama ini dipegang, bahkan diakui sebagai hak milik. Orang yang merasa memiliki rumah, akan sulit untuk melepaskan rumahnya. Orang yang merasa memiliki mobil, akan sulit untuk melepaskan mobilnya. Padahal, suatu saat akan terjadi waktu perpisahan. Pertemuan dan perpisahan merupakan entitas keniscayaan. Dualitas kemestian kematian berdampingan dengan kenyataan kehidupan, tak terpisah. Jadi, penderitaan berawal dari apa yang kita miliki. Pada akhirnya, kehidupan ini pun harus dilepaskan dengan kematian. Namun, 99.9 persen manusia tidak mau mati. Sebab, sketsa kehidupan membuat manusia cinta kepada kehidupan, dan benci kepada kematian.
Apabila situasi mempertahankan kehidupan saat kematian sudah di pelupuk mata, siap direnggut. Tapi manusia takut mati, terjadilah tarik menarik antara kehidupan dan kematian, di sini terjadi pemaksaan waktu. Ini bukti kematian yang sakit (suul khatimah). Memaksa roh untuk keluar dari jasad. Padahal, keduanya sudah saling mengambil keuntungan (simbiosis mutualisme) selama puluhan tahun. Kehidupan dan kematian adalah entitas yang sangat dekat.
Lalu mengapa kita belum merasakan pelukannya? Stok ilmu pengetahuan untuk memahami arti kehidupan dan unsurnya, kematian dan unsurnya adalah penting. Supaya tidak larut dalam kesenangan kehidupan, dan tidak larut dalam kesedihan kematian. Sehingga kehilangan kontrol jati diri. Keduanya (kematian dan kehidupan) sering dibuat menjadi sangat dramatisir, upacara kematian, ungkapan ikut berdukacita. Padahal, kematian dan kehidupan sangat lumrah (biasa).
Kitab suci menyatakan, "Dia yang menciptakan kehidupan dan kematian, untuk
menguji kamu siapa yang paling baik amalnya. Dan Dia maha perkasa lagi maha pengampun. (Almulk:2).”
Tantangan tersendiri yang dibuat Alquran ialah untuk menguji manusia, siapa yang sanggup sampai pada level terbaik (the best). Sederhana, kitab suci menyebut mati dan hidup, hidup dan mati adalah siklus untuk mencapai keabadian. Maksudnya, kehidupan bagi orang zalim sama dengan mempersiapkan kematian untuk sebuah kehidupan yang tersiksa (annar). Siksa keabadian.
Kehidupan orang-orang baik, melampaui logika yang disebut iman, melampaui aksi yang disebut amal saleh. Indikator amal saleh adalah memaafkan orang yang bersalah. Menyambung tali silaturahim kepada orang yang memutuskan. Memberi manfaat kepada orang yang menghalangi kebaikan. Dengan kata lain, balasan kebaikan akan kembali kepada orang yang berbuat baik. Balasan keburukan akan kembali kepada orang yang berbuat buruk. Tanpa selisih ruang, waktu, dan tanpa salah alamat. Artinya, setiap orang dapat membuat surga dan neraka untuk dirinya sendiri.
Betapa penting berbuat baik, sehingga Tuhan Allah menjadikan manusia sebagai kreasi penciptaan dari Kami yang paling sempurna. Diksi sempurna mencakup baik, indah, benar sebagai semiotika fitrah. Dengan cara, Tuhan Allah membuat manusia memiliki pilihan bebas yang bertanggungjawab. Posisi ini disebut khifatullah di muka bumi, wakil atau duta Tuhan (ambasador). Posisi yang tidak diamanatkan kepada langit, bumi, dan gunung. Kualitas kehidupan besok (akhirat) sangat ditentukan oleh kualitas kehidupan hari ini (dunia). Siklus kehidupan yang berulang, saat sesudah kematian. Jadi kematian bukan kemusnahan, tapi kelanjutan kehidupan jilid ke-2.
Kehidupan yang telah kita buat sekarang, akan kita nikmati atau kita sesali nanti. Rekam jejak dan sepak terjang hari ini, tidak akan pernah hilang selamanya. Melainkan akan selalu Kami perlihatkan secara berulang, tayang episode perepisode. Sebagaimana firman Tuhan, “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang mati. Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan. Dan Kami menampilkan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu, Kami kumpulkan dalam kitab yang nyata. (Yasin:12).”
Penting mengukir kanvas kehidupan dengan ilmu, iman dan amal saleh. Ketika hari dimana semua manusia bertanggungjawab terhadap perbuatannya masing-masing (nafsi-nafsi). Bukan bertanggungjawab terhadap perbuatan orang lain. Hari kiamat (kebangkitan), jangan menunggu waktu di sana. Tapi di sini dan sekarang (here and now) bagi jiwa yang bangkit dan bertumbuh. Menyadari lebih awal tentang kelebihan dan kekurangan diri, bukan dengan marah-marah. Apalagi lagi mencari pembenaran dan mencari "kambing hitam." Jujurlah sekarang, sebelum diri sejati membuka aib diri yang penuh kepalsuan. Saat mereka yang berputus asa berkata, “Sesungguhnya Kami telah memperingatkanmu tentang siksa yang dekat. Pada hari manusia menyaksikan perbuatan tangannya. Adapun orang-orang yang ingkar akan mengatakan, “Celakalah aku, kenapa dahulu tidak menjadi tanah saja (supaya tidak ada pertanggungjawaban). (Annaba':40).”
Tulisan hikmah kalimat istirja' adalah pelepasan dari semua ikatan materi. Setiap hari, kontrol emosi adalah sungguh kami berasal dari Allah, sudah pasti. Tapi apakah setiap diri sanggup untuk kembali kepada-Nya, bila Dia tidak dikenali sekarang? Mengenali-Nya tidak sekadar kenal nama dan sifat. Pengenalan utuh sampai kepada perbuatan dan isyarat yang datang.
“Dan siapa yang buta di dunia ini, akan lebih buta lagi di akhirat dan lebih sesat jalan. (Al-Isra':72).” Bukan mata yang buta, melainkan hati yang buta dalam memandang nama, sifat, perbuatan, dan zat agung-Nya. Bukan kaki yang tersesat, tetapi hati yang tersesat dari kompas diri (fitrah).
Jadi, kalimat istirja' memiliki dua nilai seimbang. Sisi kematian bagi orang yang taat sangat menggembirakan. Sedang sisi kematian bagi orang yang durhaka sangat menyakitkan. Karena dunia tidak cukup indah untuk memberi balasan baik kepada orang baik. Dan, dunia belum kuat untuk memberi siksa yang keras bagi diri yang aniaya (zalim). Guna balasan setimpal, diri sendiri menyediakan surga yang pantas, dan neraka diri yang setimpal, di tempat yang tepat (akhir perbuatan). Wallahualam.**
*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.
Editor : Hanif