Oleh: Hasan el Basri
Konsep kehidupan di pesantren yang sangat tawadhu" kepada kiayi saat ini dapat hujatan yang luar biasa dari masyarakat dunia maya. Para penghujat yang melabeli pesantren dengan Istilah Feodalisme & Perbudakan mungkin lupa atau memang tidak tahu, bahwa kehidupan di pesantren yang mengedepankan azas Persatuan, Gotong Royong, Kebersamaan, merupakan nilai-nilai dasar kehidupan Indonesia asli. Tradisi cium tangan (sungkem atau salim) yang ada dipesantren sebenarnya sudah dikenal di budaya Nusantara jauh sebelum Islam & VOC datang. Tradisi ini ada di dalam masyarakat Aceh, Jawa, Sunda, Bugis, Madura, Melayu, dan masyarakat lainnya.
Dilihat dari narasi yang dibangun, kemungkinan besar mereka tidak menggunakan literatur yang kuat tentang Islam & Pesantren, sehingga hujatan yang mereka sampaikan tidak memberi solusi atau perbandingan Dengan lembaga pendidikan non pesantren ataupun non islam. Kritikan mereka lebih ke arah Hate Speech terhadap Islam Aswaja Nahdlatul Ulama.
Para penghujat ini berpedoman pada kehidupan masyarakat Indonesia saat ini yang jauh beda dengan di dalam pesantren. Perbedaan adab yang terjadi sebenarnya akibat salah kita semua, karena tanpa kita sadari bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat saat ini sudah melupakan tradisi asli Indonesia. Etika bergaul kita sudah terkontaminasi tradisi barat. Karena itu kita harus berterima kasih ke pesantren yang tetap melestarikan tradisi asli Indonesia.
Jika penghujat tradisi di Pesantren mau sedikit membaca kehidupan para murid sekolah di negara luar, bisa dijadikan rujukan adalah Jepang, negara adidaya yang tetap melestarikan adab asli Jepang, dimana anak sekolah di sana jika berjalan mereka akan menepi dan menundukkan badan ketika berpapasan dengan gurunya atau orang yang lebih tua.
Apa yang terjadi di Jepang saat ini pernah saya alami. Saya masih ingat, di awal tahun 90an, saat saya masih anak-anak, jika lagi main bersama kawan-kawan, kemudian ada orang yang lebih tua lewat, kami ramai-ramai menepi dan menundukkan badan sedikit sebagai tanda hormat walaupun kita tidak kenal orang tersebut. Inilah tradisi di luar pesantren yang di zaman sekarang sudah tidak ada lagi. Itu salah satu bukti nyata jika etika kehidupan hormat menghormati ala pesantren merupakan bagian dari kehidupan masyarakat masa lalu di luar pesantren.
Sebagian masyarakat banyak yang beranggapan bahwa mereka yang anti pesantren ini sebagai kelompok liberalis. Saya sendiri tak percaya mereka ini pengikut mazhab Liberalisme. Saya lebih percaya jika para penghujat ini merupakan kelompok anti Nahdlatul Ulama.
Para penghujat ini tak memiliki dasar ideologi yang kuat. Jika dibilang liberalis, mereka mungkin tak faham apa yang dimaksud liberalisme. Karena para tokoh liberal sendiri, khususnya liberalis Islam, mereka tidak anti dengan kehidupan pesantren. Bisa dilihat dari pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh, Nurcholis Madjid, dan lain-lainnya. Saya hanya melihat narasi yang dibangun terhadap pesantren merupakan narasi kebencian tanpa referensi dan mazhab. Mereka hanya ingin pansos agar viral. Bahasa kerennya, “asal benci jak yang penting viral”. Namun gerakan kebencian ini tidak boleh dibiarkan, karena berbahaya bagi generasi muda yang masih labil dalam berfikir. Harus ada counter narasi yang dibangun oleh para santri, ustad, lora, gus, dan aktifis Islam Indonesia lainnya.
Saya pribadi ingin mengatakan kepada para pembenci pesantren, jika kalian ingin menyerang sistem kehidupan pesantren, pelajari dulu tatanan sosial kehidupan asli Indonesia sebelum masuknya Islam dan VOC. Kemudian masuklah dulu ke dalam lingkungan pesantren, pelajari kehidupan pesantren secara langsung. Jangan menghujat tanpa referensi karena itu bisa jadi serangan balik ke kalian. Jadilah pembenci yang cerdas !! Karena rajanya pembenci manusia dan Islam adalah Iblis, iblis sendiri sangat pintar. Dia hafal Quran 30 juz, hafal semua literatur sejarah manusia dan agama-agama samawi. Salam Waras
#kamibersamapesantren
#kamibersamakiayi
Penulis,
Hasan el Basri, Jaringan Nahdliyin Muda Indonesia (JNMI) Kalimantan Barat