Oleh: Jayadi,S.Pd.,M.Or*
Menyoroti beberapa paradigma sebelumnya menempatkan fokus dunia olahraga pada aspek fisik dan kesehatan, semakin banyak pelatih menyerukan pendekatan secara holistik terhadap kesehatan olahraga. Fokus pada kualitas hidup, untuk mempertimbangkan kinerja jangka panjang usia prestasi atlet. Mungkin perlu ditambahkan tentang bagian-bagian kesejahteraan fisik berhubungan dengan kebugaran, daya tahan, kekuatan, kemampuan motorik halus maupun kasar, stabilitas biomekanika saat kompetisi, dan daya tahan tubuh pada penyakit (Rosyada et al, 2025).
Secara umum, mampu dipahami bebagai ranah dan persoalan kebugaran fisik setiap atlet dan pelatih. Namun, apakah mengetahui tentang nilai-nilai etika melalui integritas olahraga modern pada saat ini?
Secara umum etika berkaitan dengan baik atau tidak baiknya hak dan kewajiban moral. Selain itu, etika juga selalu mencerminkan nilai-nilai benar dan salah diyakini oleh setiap individu. Etika dapat didefinisikan sebagai aturan dari kesopanan melalui cara berinteraksi pada kehidupan sosial. Berasal dari kata Yunani yaitu, ethos berarti kebiasaan watak ataupun karakter, secara ilmiah merupakan cabang filsafat (Sri, 2022).
Berdasarkan kajian olahraga, beberapa aspek nilai etika ditemukan dalam olimpiade atau (olimpisme), yaitu persahabatan, keunggulan, dan rasa hormat. Olimpisme, olahraga menjadi media penting untuk menumbuhkan etika, terutama di kalangan anak muda, melalui pengembangan kehidupan yang lebih baik, karena olahraga sangat mudah diakses dalam menumbuhkan nilai-nilai beretika (Paramitha et al, 2024).
Integritas menjadi penting dalam olahraga saat ini. Berbagai isu dihadapi langsung di lapangan, lebih lanjut, terdapat kurangnya tata kelola yang tegas dalam pertandingan dan kompetisi. Bagaimana dapat memperkuat integritas nilai-nilai olahraga di masa depan? (Shoji et al, 2023).
Keseriusan krisis integritas melalui perspektif lingkungan olahraga global terkait dengan banyak faktor krusial. Yakni, pengaturan skor pertandingan yang kurang dipahami, korupsi dalam setiap pendanaan, dan penggunaan zat peningkat performa fisik atau doping atlet. Beberapa alasannya mungkin karena seruan yang menekankan pencapaian kemenangan dari pelatih dan sponsor, pengejaran penghargaan prestise dalam bentuk imbalan finansial, pelanggaran aturan, kecurangan, agresi pelatih dari perilaku agresif, agresi pemain dari perilaku agresif, tidak hormat, kurangnya pemahaman sportivitas dalam gamesmanship dengan berpura-pura cedera, pelecehan verbal, perilaku administratif penuh kecurangan, dan perilaku wasit tidak netral. Perilaku pelatih kurang baik menjadi alasan utama untuk contoh pelanggaran dilakukan oleh individu atlet. (Howman, 2013).
Contoh kecurangan lain yang kerap dilakukan dalam permainan seperti NBA, NFL, atau Liga Basket Indonesia dengan penggunaan istilah tanking. Yakni, sengaja bermain kurang maksimal atau kalah dalam suatu pertandingan dengan tujuan mendapatkan strategi yang menguntungkan di musim berikutnya pola seperti ini dengan menggunakan sistem draft. Perilaku ini sangat merugikan upaya organisasi olahraga untuk mengidentifikasi dan mengelola integritas olahraga (Robertson & Constandt, 2021).
Ketidakmoralitasan dapat memberikan kajian dari landasan teoretis bagi setiap manajer olahraga mengatasi permasalahan paling kompleks dan mendasar terkait integritas olahraga. Jika fondasi moral olahraga terus-menerus dipertanyakan dengan dampak masalah yang semakin meningkat, praktisi dan akademisi manajemen olahraga akan membutuhkan keahlian lebih luas dan mendalam dari apa yang telah dikembangkan dalam literatur manajemen olahraga selama ini. Apakah premis manajer dan atlet olahraga kurang memperhatikan moral dalam konteks olahraga? Setidaknya kemampuan manajer olahraga untuk mengidentifikasi dan memitigasi akar penyebab pelanggaran integritas menjadi lebih penting dari sebelumnya.
Pentingnya penanganan isu-isu integritas tampaknya semakin terkait dengan akannya reformasi yaitu, berbagai usulan atau penerapan perubahan yang disengaja terhadap struktur dan proses organisasi olahraga. Oleh karena itu, sangat penting untuk menempatkan agenda integritas dalam struktur tata kelola atau setiap kebijakan saat ini karena berpotensi menandakan perubahan substantif terhadap perilaku organisasi olahraga di berbagai tingkatan dan sistem. Akhirnya, pertanyaannya mungkin berkisar pada siapa yang bertanggung jawab untuk terlibat dalam pengembangan kebijakan olahraga terkait integritas olahraga dan siapa yang akan melaksanakan kebijakan tersebut?
Terkait pertanyaan pertama, tampak jelas bahwa kompleksitas permasalahan yang terlibat berarti bahwa masalah ini hanya dapat diatasi dengan tepat melalui respons dari pemangku kepentingan, meskipun sering diabaikan komunitas filsuf dan ahli etika olahraga. Sejauh mana olahraga mampu melakukan perbaikan diri? Tampak jelas bahwa kebijakan harus dilakukan seiring dengan berkembangnya agenda integritas olahraga.
Kedua, jelas bahwa terdapat kebutuhan mendesak untuk mengembangkan profesional baru dalam administrasi dan organisasi olahraga. Para filsuf olahraga dan ahli etika olahraga harus memberikan kontribusi yang efektif, baik dalam pendidikan maupun pengembangan kebijakan. Meskipun masa depan olahraga bergantung pada pengembangan langkah-langkah yang tepat dan efektif untuk melawan ancaman terhadap integritas olahraga. Profesi sebagai filsafat olahraga dan etika olahraga sangat terkait dengan pengembangan selanjutnya (Cleret et al, 2015).
Olahraga dimaknai sebagai ekspresi penghargaan diri, peningkatan identitas sosial, serta sarana menjaga kesehatan fisik dan mental. Hambatan seperti keterbatasan waktu, beban kerja, dan semangat diatasi melalui dukungan sosial serta strategi pribadi (Sirandan et al, 2021). Olahraga merupakan bagian integral dari struktur sosial dan sampai batas tertentu hadir dalam kehidupan setiap orang. Hal inilah yang melatarbelakangi pentingnya prospek perkembangan olahraga modern.
Olahraga memiliki potensi besar untuk berdampak pada kesehatan dan perkembangan fisik, pada dunia spiritual dan budaya manusia, pada prinsip-prinsip moral dan selera estetika. Namun, praktik telah menunjukkan bahwa peluang-peluang ini dapat diwujudkan baik melalui nilai-nilai humanistic maupun atas dasar tidak berkemanusiaan untuk tujuan-tujuan politik. Oleh karena itu, menjadi penting untuk menjawab pertanyaan tentang kondisi sosial yang memfasilitasi atau menghambat terwujudnya fungsi-fungsi humanistic, tren perkembangan olahraga modern, permasalahan terpenting industri olahraga bagi masyarakat. Semua pertanyaan ini memerlukan penelitian dan analisis teoretis yang relevan secara politis, karena olahraga internasional telah menjadi arena pertemuan ambisi politik negara-negara.
Berdasarkan penelitian, permasalahan dan tantangan utama olahraga modern telah diidentifikasi. Keberadaan permasalahan ini menunjukkan kurangnya regulasi hukum dan moral dalam olahraga. Solusi yang disarankan tidak akan secara fundamental membantu sepenuhnya mengatasi masalah seperti rasisme atau dampak politik pada berbagai aspek kehidupan, tetapi akan sangat membantu mengarahkan olahraga ke arah kompetisi yang jujur. Dengan perkembangan masyarakat dan teknologi yang lebih lanjut, tantangan dan masalah baru akan muncul dalam olahraga, namun akan selalu menemukan solusi yang tepat untuk setiap masalah (Pavlovna et al, 2019).**
*Penulis adalah dosen PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang, Kabupaten Landak).
Editor : Hanif