Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pontianak di Usia ke-254, Merayakan Kemajuan, Merengkuh Kemanusiaan

Hanif PP • Kamis, 23 Oktober 2025 | 10:51 WIB
Prof Hermansyah Dosen IAIN Pontianak
Prof Hermansyah Dosen IAIN Pontianak

Oleh: Hermansyah*

Pontianak, yang kini genap berusia 254 tahun, lahir dari pertemuan tiga sungai: Kapuas, Landak, dan Kapuas Kecil. Kota ini didirikan pada 23 Oktober 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, bermula dari sebuah pelabuhan kecil di tengah hutan tropis yang kemudian berkembang menjadi ibu kota Kalimantan Barat yang modern dan dinamis. Potensi besarnya bahkan telah digambarkan dalam syair Pangeran Syarif dari tahun 1895 yang ketika itu menyetarakan Pontianak dengan Singapura.

Namun, lebih dari sekadar pusat pemerintahan dan perdagangan, Pontianak adalah sebuah mozaik kebudayaan. Di sini, etnis Melayu, Dayak, Tionghoa, serta etnik lainnya dan pengaruh kolonial bertemu, berpadu dalam satu tarikan napas sejarah yang panjang.

Ulang tahun ke-254 bukan sekadar penanda usia, melainkan momen refleksi bersama, sejauh mana kemajuan yang kita capai selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar berdirinya kota ini? Tema “Pontianak Bersahabat” terasa tepat. Menegaskan jati diri kota yang inklusif, ramah, dan berkelanjutan, serta menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap pembangunan.

Dua dekade terakhir membuktikan ketangguhan Pontianak menghadapi tantangan geografisnya sebagai kota sungai. Kemajuan bukan hanya tercermin dalam data statistik, tetapi juga dalam kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan. Pada 2024, Indeks Pembangunan Manusia mencapai 82,22 poin, meningkat 0,72 persen dari tahun sebelumnya dan menempatkan Pontianak dalam kategori “sangat tinggi”.

Pemerintah menargetkan peningkatan menjadi 85,25 poin pada 2025, dengan fokus pada pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi menuju Pontianak yang lebih sejahtera. Inflasi yang terkendali hanya 0,38 persen, serta pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 sebesar 5,03 persen, menandakan stabilitas dan produktivitas yang terus tumbuh. Pontianak perlahan berubah dari pelabuhan kolonial menjadi kota jasa dan perdagangan modern yang hidup.

Kesenjangan antara kemajuan material dan kedewasaan sosial adalah tantangan nyata yang kita hadapi. Kita kerap fokus pada "pembangunan" dalam arti fisik, namun lalai membangun "peradaban" dalam arti perilaku. Taman, tepi sungai dan parit, serta alun-alun yang seharusnya menjadi ruang pemersatu justru sering terabaikan, mencerminkan lemahnya rasa kepemilikan dan tanggung jawab kolektif.

Oleh karena itu, pembangunan tidak boleh lagi sekadar mengejar groundbreaking, melainkan harus diimbangi dengan gerakan membangun kesadaran. Setiap proyek fisik harus disertai dengan program yang memupuk rasa cinta pada ruang publik, penegakan aturan yang konsisten, dan partisipasi aktif warga. Membangun infrastruktur itu penting, tetapi yang lebih utama adalah membangun manusianya. Hanya dengan begitu, kemajuan material akan sejalan dengan peningkatan kualitas hidup dan kematangan sosial kita.

Kenyataannya, banyak ruang publik yang seharusnya menjadi tempat berkumpul dan berinteraksi justru berubah menjadi lokasi yang kotor dan tak terawat. Setelah event-event besar dan festival selesai, sampah berserakan di mana-mana, seolah kebanggaan kita merayakan kemajuan selalu meninggalkan jejak ketidaktertiban. Panggung meriah dan lampu-lampu warna-warni memang menghibur, tetapi keindahan kota bukan diukur dari gemerlapnya acara, melainkan dari kesadaran warganya menjaga kebersihan dan ketertiban setelahnya.

Krisis kebersihan ini sejatinya mencerminkan jarak antara kemajuan infrastruktur dan kedewasaan budaya masyarakat. Pontianak memproduksi sekitar 400 ton sampah setiap hari, tetapi tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan daur ulang masih rendah.

Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya serta parit  terus menanggung beban limbah akibat kebiasaan membuang sampah sembarangan. Padahal, sungai adalah simbol kehidupan yang seharusnya dijaga, bukan tempat menampung kelalaian kita.

Kedisiplinan sosial pun menjadi tantangan lain yang belum kita jawab. Pelanggaran lalu lintas di simpang-simpang utama, kemacetan di sejumlah ruas jalan, hingga sejumlah kecelakaan lalu lintas yang tragis menunjukkan bahwa kita masih gagap dalam menerjemahkan kemajuan menjadi perilaku beradab. Kita membangun jalan, tetapi kehilangan kesabaran; kita memperluas ruang, tetapi menyempitkan tenggang rasa.

Sebagai kota multikultural, Pontianak juga perlu terus memperkuat harmoni sosial di tengah perbedaan. Di permukaan, hubungan antar-etnis tampak damai, tetapi di bawahnya masih tersimpan potensi gesekan dan rasa saling curiga. Tradisi sungai yang dulu menjadi perekat identitas mulai tergeser oleh gaya hidup yang serba terburu. Padahal, kekuatan Pontianak justru terletak pada keberagaman dan kesediaan untuk saling menghargai.

Di usia yang ke-254 ini, Pontianak perlu melangkah lebih jauh: dari kota yang maju menjadi kota yang matang secara moral dan sosial. Kita perlu belajar menjaga ruang publik seperti menjaga rumah sendiri, merawat sungai seperti merawat nadi kehidupan, dan menghormati sesama seperti menghormati diri sendiri.

Pontianak bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang hidup yang membentuk karakter warganya. Kota ini akan terus tumbuh dan bersinar hanya jika setiap warganya bersedia menjadi bagian dari perubahan, dengan disiplin, kesadaran, dan kepedulian yang tulus.

Selamat ulang tahun ke-254, Pontianak. Semoga kemajuanmu tidak hanya terlihat dari bangunan dan angka, tetapi juga terasa dari kebersihan jalan, keindahan sungai, dan hangatnya hati manusia yang menghuninya.**

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#Kemajuan #pembangunan #kolonial #inklusif #sejahtera #tionghoa #pontianak #pelabuhan #dayak #melayu #kota