Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pontianak 254 Tahun dari Sungai Mengalir Peradaban Dunia

Hanif PP • Kamis, 23 Oktober 2025 | 10:52 WIB
Mustafa
Mustafa

Oleh: Mustafa*

Pontianak bukan sekadar kota di tepian sungai, tetapi cermin peradaban yang lahir dari pertemuan air dan doa. Dari Sungai Kapuas dan Sungai Landak, dua sungai yang menumbuhkan kehidupan, mengalir semangat kebersamaan dan keberagaman. Allah SWT berfirman, “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13). Di sanalah makna Pontianak berakar dari penghormatan terhadap sesama dan alam.

Sejak didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri pada 1771, Pontianak tumbuh sebagai kota pertemuan. Sejarawan Safaruddin Usman MHD berkata, “Dari pertemuan sungai lahir pertemuan manusia, budaya, dan akal budi” (2024: 17). Dari sinilah Pontianak menemukan jati dirinya sebagai kota religius, terbuka, dan bersahabat. Tema hari jadi ke-254 “Pontianak Bersahabat” bukan sekadar slogan, tetapi pesan agar warga menjadikan nilai itu hidup dalam keseharian dari jalan hingga ruang dialog sosial.

Pepatah Bugis mengingatkan, “Tau rilaleng ri ade’e, ri gau’e, ri bicara’e.” Artinya, manusia dinilai dari adat, perbuatan, dan tutur katanya. Kota yang beradab pun diukur dari etika sosial warganya. Pontianak seharusnya meneladani pepatah ini, membangun tidak hanya dari beton dan aspal, tetapi dari moral, empati, dan solidaritas.

Kini, tantangan terbesar Pontianak bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kearifan lokal. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini terancam oleh sampah dan sedimentasi. Jika kota ini disebut lahir dari sungai, maka sungai pula yang mestinya menjadi cermin kesadaran ekologinya.

Ada empat cita yang perlu digenggam. Pertama, Pontianak harus menjadi kota hijau dan ramah air, di mana sungai dijaga bukan hanya untuk panorama, tetapi untuk kehidupan. Kedua, menjadi kota cerdas dan berkarakter, yang menjadikan literasi dan pendidikan sebagai dasar pembangunan manusia.

Ketiga, menjadi kota inklusif dan aman, tanpa diskriminasi terhadap siapa pun. Keempat, menjadi kota beriman dan berbudaya, yang menjadikan nilai spiritual dan tradisi sebagai penuntun arah modernitas.

Namun, di balik kemeriahan perayaan ulang tahun kota, refleksi tetap perlu. Pembangunan yang pesat seringkali meminggirkan sisi sosial. Taman yang indah dan jalan yang megah tidak akan bermakna bila warganya terjebak dalam ketidakpedulian. “Pontianak Bersahabat” harus diwujudkan dalam tindakan kecil: menjaga kebersihan, menghormati perbedaan, dan mengulurkan tangan saat tetangga kesusahan.

Pontianak juga harus menata kembali relasinya dengan sungai. Jangan biarkan sungai Kapuas dan sungai Landak menjadi tempat menumpuk sampah dan kenangan masa lalu. Jadikan sungai sebagai pusat budaya, ekonomi, dan wisata yang berkelanjutan. Revitalisasi tepi sungai mesti berpihak pada masyarakat, bukan sekadar proyek betonisasi yang menghapus wajah kemanusiaan kota.

Di usia 254 tahun, Pontianak tidak boleh kehilangan ruhnya. Kota ini lahir dari nilai keagamaan dan kearifan air  yang memberi kehidupan, bukan merusak. Seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti, semoga Pontianak terus mengalirkan keberkahan, menjadi kota yang bersih, bersahabat, dan beradab.

Sebagaimana doa para pendirinya, semoga Pontianak selalu menjadi “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”. Negeri yang baik dan berada di bawah ampunan Tuhan Yang Maha Pengasih”.

 

*Penulis adalah Sekretaris DPD Forum Komunikasi Orang Bugis (FKOB) Kota Pontianak.

Editor : Hanif
#sungai #kebersamaan #membangun kota #bersahabat #berkelanjutan #pontianak #keberagaman