Oleh: Rosadi Jamani*
Pontianak, kota di garis khatulistiwa yang selalu punya cara unik untuk menandai waktu. Pada tanggal 23 Oktober 2025 ini, kota yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie genap berusia 254 tahun. Sebuah usia yang, jika Pontianak manusia, mungkin sudah bergelar “tetua bijak” yang disegani di tepian Kapuas. Tapi seperti kata orang tua kita, “Umur panjang belum tentu bebas dari penyakit.” Pontianak memang semakin modern, tapi juga memikul beban persoalan yang tak ringan.
Mari kita buka lembar demi lembar kisahnya. Di atas kertas, Pontianak sering dipuji sebagai “Kota Seribu Parit” sebuah metafora indah tentang sistem drainase alami yang menjadi kebanggaan lokal. Namun di lapangan, parit-parit itu kerap berubah jadi cermin kesedihan. Penuh sampah plastik, air menghitam, dan menebar aroma getir peradaban.
Kota ini menghasilkan lebih dari 350 ton sampah per hari. Sementara perilaku sebagian warganya masih seperti penonton bioskop, lebih suka mengeluh ketimbang mengubah adegan. Padahal, pemerintah kota sudah mengeluarkan berbagai kebijakan ramah lingkungan, termasuk larangan kantong plastik. Tapi seperti pepatah lokal, “kalau sungai kotor, bukan karena airnya, tapi karena tangan yang mencemarinya.”
Masalah berikutnya, banjir. Hujan deras lima belas menit saja sudah cukup membuat beberapa ruas jalan seakan berubah jadi anak sungai. Ironis, kota yang dulunya dibangun di atas pertemuan tiga sungai kini justru tak pandai lagi berdamai dengan air. Drainase tersumbat, rumah tumbuh tanpa perencanaan, dan kawasan resapan makin sempit. Pontianak seperti anak yang dulu akrab dengan air, kini alergi terhadap genangan.
Kita belum bicara soal sanitasi. Data menunjukkan, hampir seluruh rumah tangga memiliki tangki septik, tapi hanya sebagian kecil yang aman secara lingkungan. Limbah domestik masih berpotensi mencemari air tanah dan sungai. Di balik gemerlap kota yang penuh kafe dan lampu neon, masih ada persoalan dasar, bau limbah yang menampar hidung pagi-pagi, atau anak kecil yang bermain di selokan seolah itu taman air.
Lalu kita menatap wajah muda Pontianak, anak-anak dan remaja. Di balik geliat festival budaya dan parade seni, tersimpan kegelisahan sosial. Kasus kekerasan anak, tawuran pelajar, dan kenakalan remaja yang kian sering terdengar.
Hingga pertengahan 2024, lebih dari seratus kasus kekerasan anak di lingkungan sekolah tercatat oleh Komisi Perlindungan Anak Daerah. Fenomena ini seperti sinyal, kita sedang kehilangan arah dalam mendidik hati generasi baru. Sekolah mengejar nilai, orang tua mengejar waktu, tapi siapa yang mengejar nurani mereka?
Pontianak juga kota multietnis. Ada suku Melayu, Dayak, Tionghoa, Bugis, Jawa, Banjar, dan lainnya hidup berdampingan. Di sinilah letak kekayaan sekaligus tantangan. Harmoni sosial kadang serapuh cermin di dinding, indah tapi bisa retak kalau tidak dijaga. Komunikasi antar-etnis, toleransi, dan saling menghormati harus terus dirawat, karena sejarah pernah membuktikan, api kecil kesalahpahaman bisa menjalar jadi bara.
Tentu saja, persoalan klasik, kemiskinan dan kualitas sumber daya manusia. Walaupun tingkat stunting di Pontianak menurun dari 24,4 persen menjadi 19,7 persen, angka itu belum cukup untuk bertepuk tangan. Artinya, masih ada anak-anak yang tumbuh tidak seoptimal seharusnya.
Pemerintah Kota memang sudah gencar menggarap program penanganan kemiskinan ekstrem dan peningkatan gizi, tapi semua itu tak akan berhasil tanpa kesadaran kolektif warga. Sebab, kota bukan sekadar deretan bangunan, kota adalah manusia yang hidup di dalamnya.
Namun, Pontianak bukan kota yang mudah menyerah. Ia lahir dari semangat dagang dan pelayaran, tumbuh di simpang budaya, dan berdiri di garis khatulistiwa, simbol keseimbangan. Di usia 254 tahun, Pontianak masih punya daya juang dan daya hidup yang kuat. Lihat saja setiap perayaan Harlah, pawai budaya, festival kuliner, dan pertunjukan seni yang meriah. Semua itu bukan sekadar hiburan, tapi perayaan identitas dan optimisme.
Mungkin inilah saatnya kita mengubah cara mencintai Pontianak. Tak cukup dengan selfie di Tugu Khatulistiwa atau menikmati kopi di tepi Kapuas. Cinta yang sejati justru hadir dalam tindakan kecil, tidak membuang sampah sembarangan, peduli pada tetangga, menanam pohon, dan menyapa orang berbeda suku dengan senyum.
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie pasti tak membayangkan kota yang ia dirikan dua setengah abad lalu akan menjadi metropolitan dengan problem modern. Namun, beliau tentu berharap, semangat gotong royong dan kebersamaan tak ikut tenggelam bersama banjir atau terhanyut di parit.
Pontianak hari ini sedang berada di persimpangan zaman. Antara kota yang nyaman dihuni atau kota yang pelan-pelan tercekik oleh perilaku warganya sendiri. Pilihannya ada di tangan kita. Sebab kota ini bukan milik pemerintah, tapi milik semua yang bernafas di bawah matahari tepat di kepala.
Selamat Harlah ke-254, Pontianak. Tetaplah menjadi kota yang berdiri di tengah dunia, tapi jangan lupa berdiri juga di tengah nurani warganya.**
*Penulis adalah dosen UNU Kalimantan Barat.
Editor : Hanif