Oleh: Sholihin HZ*
Yasir ibn Rasyid al-Dawsari ialah seorang ulama Saudi Arabia yang telah berkhidmat sebagai salah seorang imam Masjid al-Haram sejak 2019 pernah menceritakan pengalaman menariknya tentang Alquran. Beliau berkata ketika sedang setoran hafalan kepada guru beliau Syaikh Saad Sumbul pada waktu setelah Salat isya. Saat setoran hafalan itu, hanya ada beliau dan gurunya karena beliau murid terakhir yang setoran hafalan. Saat beliau setoran hafalan, ada seorang pemuda datang dan terlihat dari wajahnya ia lelah, kusut dan seperti tidak adanya gairah hidup. Kepada guru saya ia berkata, “Tuan, apakah anda ingn membacakan Quran untuk saya?”
Guru menjawab, “Saat ini saya sedang menerima setoran bacaan murid saya ini, nanti setelah setoran ini saya akan membacakan Quran untukmu. Sambil engkau menunggu giliran, silakan salat dua rakaat disana kemudian bukalah Alquran dan bacalah sampai aku memanggilmu.”
Mendengar perkataan guru itu, sang pemuda mengambil tempat agak jauh dari posisi semula kemudian dia salat dan membaca Alquran. Karena setoran cukup lama sehingga waktu salat dan membaca Quran sang pemuda tadi cukup lama juga.
Setelah setoran selesai, sang guru memanggil pemuda itu tadi. “Demi Allah, wajah anak muda itu sudah berbeda dengan saat-saat kedatangannya di awal tadi,” ujar Yasir ibn Rasyid al-Dawsari.
Ketika sang guru mengatakan mari saya bacakan Quran untukmu, lantas pemuda itu menjawab, “Tidak perlu wahai tuan guru, terimakasih.”
Sang guru kemudian bertanya, “Apa yang terjadi sehingga engkau menolak permintaanmu sendiri?” Pemuda itu menjawab, ”Ketika aku salat dua rakaat, lalu aku membaca Aluran, hatiku menjadi lapang dan hilanglah seluruh gundah-gulana yang aku rasakan tadi.”
Guru mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah kulupakan, ”Anakku, tadi rohmu lapar, dan saat engkau pergi untuk salat dan baca Alquran maka rohmu mendapatkan makanannya.”
Kisah nyata di atas disampaikan oleh Yasir ibn Rasyid al-Dawsari atau yang dikenal dengan Yasir Dosari, seorang imam masjidil haram kelahiran 1980. Demikianlah, Alquran sejatinya adalah obat dan asupan rohani manusia. Alquran hanya baru akan menjadi obat dan asupan ruhani jika orang rsahabat dengan Alquran. Bagaimana obat akan berfungsi menyembuhkan bagi si pasien jika ia tidak mengkonsumsi obat itu. Bagaimana Alquran akan menjadi obat jika pasien tidak mau berdekatan dengannya. Alquran berfungsi sebagai obat penyembuh (syifa') untuk penyakit lahir dan batin, baik melalui pembacaan, pendengaran, tadabur, maupun pengamalan isinya.
Firman Allah SWT dalam QS. Yunus: 57, “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.”
Ayat ini menyebutkan bahwa Alquran adalah penyembuh penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang beriman. Penyembuhan dengan Alquran bersifat spiritual, bergantung pada keikhlasan, ketulusan niat, dan keyakinan bahwa Allah adalah sumber kesembuhan. Membaca Alquran berarti memberikan asupan utuk psikis dan kejiwaan si pembacanya, ketenangan batin akan melingkupi jiwanya. Tidak hanya itu, bagi si pembacanya, Alquran akan memberikan syafaatnya kepadanya. “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” (Imam Muslim).
Alquran adalah petunjuk. Petunjuk yang dapat mengantarkan pembaca dan yang meyakininya akan keselamatan dunia akhirat, ketenangan batin dan sebagai bentuk hubungan dengan Zat yang menjadi Kalamullah.**
*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak.
Editor : Hanif