Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Melawan Perundungan, Menjaga Marwah Kebangsaan

Hanif PP • Senin, 27 Oktober 2025 | 11:24 WIB
Anderyan Noor
Anderyan Noor

Oleh: Anderyan Noor

Di tengah derasnya arus komunikasi digital yang tak mengenal batas, muncul sebuah paradoks yang kian mengkhawatirkan. Ruang publik yang seharusnya menjadi wadah dialog sehat justru sering berubah menjadi arena perundungan.

Di media sosial, kebenaran dan adab kerap tergeser oleh keinginan untuk menang argumen, mempermalukan lawan, atau sekadar menumpahkan emosi. Dalam suasana seperti itu, kehadiran figur-figur muda yang teguh memegang nilai kebangsaan dan keislaman menjadi ujian tersendiri, karena setiap langkah dan ucapan mereka mudah dijadikan sasaran.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan perbedaan pandangan, melainkan menyangkut bagaimana bangsa ini memelihara kualitas ruang publik dan martabat kemanusiaan. Ketika seorang pemuda seperti Muhammad Ainul Yakin, Ketua GP Ansor DKI Jakarta, mendapat serangan opini dan perundungan di ruang digital, masyarakat sejatinya sedang dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar: apakah bangsa ini sedang kehilangan kemampuan untuk menghargai perbedaan di antara anak-anak terbaiknya?

Ainul Yakin bukan satu-satunya yang menghadapi situasi demikian. Banyak pemuda dengan semangat kebangsaan serupa juga mengalami hal yang sama, seperti dihujat, dicurigai, bahkan diserang hanya karena pandangannya tidak sejalan dengan arus besar opini publik. Padahal, justru dari keberanian berpikir berbeda itulah lahir ide-ide baru bagi kemajuan bangsa.

Yang perlu dilawan bukanlah perbedaan, melainkan budaya perundungan yang merendahkan martabat manusia dan mematikan nalar sehat. Kepemimpinan dalam konteks seperti ini menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar retorika atau popularitas. Ia memerlukan keteguhan moral dan keberanian untuk tetap berpegang pada nilai ketika tekanan datang dari berbagai arah.

Makna sejati melawan perundungan bukanlah dengan membalas, melainkan dengan tetap berpikir jernih dan berbuat baik. Melawan perundungan berarti menolak ikut terbawa arus kebencian dan memilih jalur dialog yang beradab. Pemimpin muda mana pun, termasuk Ainul Yakin, dapat menjadi simbol semangat itu. Bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia berusaha menjaga ruang publik agar tetap sehat dan produktif bagi semua.

Budaya perundungan terhadap tokoh muda seperti ini berpotensi merusak fondasi sosial masyarakat. Kritik dan perbedaan pendapat tentu diperlukan sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Namun ketika kritik berubah menjadi penghinaan, dan diskusi menjadi serangan pribadi, yang lahir bukanlah kemajuan, melainkan luka sosial yang menggerogoti rasa saling percaya.

Penjaga Ukhuwah

Pemuda Islam yang seharusnya menjadi penjaga ukhuwah justru terpecah oleh narasi kebencian yang tumbuh subur di ruang digital. Ini bukan sekadar soal etika komunikasi, tetapi juga tentang tanggung jawab moral untuk menjaga kemanusiaan di era algoritma.

Karena itu, melawan perundungan berarti mengembalikan kemanusiaan dalam percakapan publik, membangun empati di atas perbedaan, dan menghidupkan kembali semangat persaudaraan yang menjadi inti ajaran Islam. Dalam pandangan strategis, situasi ini memerlukan respons lebih serius dari organisasi kepemudaan Islam di Indonesia.

Muhammadiyah, Ansor, dan berbagai organisasi lainnya memiliki tanggung jawab besar untuk membangun sistem perlindungan sosial bagi anggotanya di ranah digital. Mereka perlu menjadi garda terdepan dalam menegakkan literasi digital yang berlandaskan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Perbedaan pandangan antarorganisasi tidak seharusnya menimbulkan permusuhan, melainkan menjadi ladang kolaborasi untuk memperkuat peran Islam sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Melawan perundungan bukan hanya urusan personal, tetapi gerakan bersama untuk menjaga agar ruang publik menjadi tempat tumbuhnya ide, bukan dendam.

Kepemimpinan pemuda yang mengedepankan keterbukaan dan komunikasi lintas kelompok perlu dijadikan contoh bagi generasi berikutnya. Mereka menunjukkan bahwa menjadi pemimpin muda tidak harus keras dan konfrontatif, tetapi justru harus mengandalkan dialog dan empati. Kepemimpinan semacam ini adalah jawaban atas tantangan zaman yang menuntut kemampuan bernegosiasi dengan realitas tanpa kehilangan idealisme.

Ketika dunia maya dipenuhi ujaran kebencian, figur-figur seperti Ainul Yakin dan banyak pemuda lain yang memilih jalan tenang menunjukkan bahwa perlawanan terhadap perundungan dapat dilakukan tanpa kebencian, cukup dengan konsistensi dan ketulusan.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak pemuda yang berjiwa kebangsaan, berani berpikir merdeka, namun tetap berpijak pada nilai keislaman yang meneduhkan. Pemuda yang tidak larut dalam polarisasi, tetapi hadir sebagai jembatan penghubung antarperbedaan. Mereka inilah yang akan memulihkan etika publik dan memperkuat demokrasi dengan semangat persaudaraan.

Sebab sejatinya, kekuatan bangsa ini tidak terletak pada keseragaman pandangan, tetapi pada kemampuan untuk saling menghormati dan bekerja bersama demi tujuan yang lebih besar.

Budaya Dialog

Dalam konteks inilah penting untuk menumbuhkan kembali budaya dialog yang sehat di kalangan generasi muda. Ruang digital harus dikembalikan fungsinya sebagai arena bertukar gagasan, bukan medan tempur yang mematikan karakter.

Pendidikan literasi media mesti menjadi bagian dari gerakan kepemudaan Islam agar setiap pemuda memahami tanggung jawab moral dari setiap kata yang ia tulis. Di era ketika satu unggahan bisa melukai ribuan hati, tanggung jawab etis menjadi ukuran sejati dari kedewasaan beragama dan berbangsa.

Melawan perundungan berarti mengajarkan generasi muda agar tidak takut berbeda, namun juga tidak tergoda untuk menyakiti. Ke depan, langkah strategis yang dapat dilakukan adalah memperkuat sinergi antarorganisasi kepemudaan Islam melalui forum lintas ideologi yang menekankan persamaan misi kebangsaan.

Dialog yang difasilitasi dengan semangat ukhuwah akan mencegah perpecahan dan membangun rasa saling percaya. Pemerintah, lembaga keagamaan, dan komunitas digital juga perlu hadir menciptakan ekosistem komunikasi yang aman, di mana kritik tetap bisa disampaikan tanpa mengorbankan martabat manusia.

Ruang publik yang sehat adalah tanggung jawab bersama, dan melawan perundungan merupakan bagian dari upaya menjaga marwah kebangsaan. Pada akhirnya, yang diperjuangkan bukan hanya pembelaan terhadap satu individu, melainkan pemulihan terhadap nilai-nilai dasar yang membentuk peradaban bangsa ini.

Melawan perundungan berarti menegakkan kembali adab dalam kehidupan berbangsa, memulihkan martabat dialog, serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap perbedaan adalah kesempatan untuk belajar. Negeri ini memerlukan pemuda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berjiwa besar. Pemuda yang percaya bahwa menjadi beradab adalah bentuk tertinggi dari keberanian, dan menghormati sesama adalah wujud paling nyata dari cinta kepada tanah air. **

 

*) Penulis adalah Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

Editor : Hanif
#Perundungan #fenomena #tantangan #pemuda indonesia #moral #digital #Nilai Kebangsaan