Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mirror Image atas HMI

Hanif PP • Rabu, 29 Oktober 2025 | 11:33 WIB
Eka Hendry Ar
Eka Hendry Ar

Oleh: Eka Hendry Ar*

INI istilah lama untuk menggambarkan imej atau citra yang terpantul, tetapi terbalik, seperti gambar yang terlihat di cermin.  Satu gambaran yang tidak merepresentasikan substansi secara tepat. Misalnya, menggambarkan citra tentang Islam berdasarkan pandangan terhadap agama yang lain. Seolah-olah Islam sama seperti yang ada pada agama tersebut.  Boleh jadi ada yang sama, namun sebenarnya perbedaannya mendasar.  Hari Minggu adalah hari kebaktian, dianggap sama seperti hari Jumat sebagai hari saiyidul ayam (penghulu dari hari-hari). Memang sama-sama hari peribadatan, namun dibalik itu sebenarnya ada perbedaan substansi dalam makna.

Pandangan yang cenderung pukul rata ini seringkali dijumpai dalam masyarakat. Salah satu penyebabnya, karena minimnya pengetahuan kita terhadap pihak lain. Dalam konteks ini, kita akan melihat bagaimana HMI sebagai organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia, dalam pusaran mirror image tersebut. 

Tidak banyak barangkali orang yang tahu seperti apa sebenarnya HMI. HMI mungkin disamakan dengan organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi pada ormas atau parpol tertentu. Sehingga, kultur dan watak organisasi dianggap memiliki persamaan dengan organisasi-organisasi tersebut. Dimana ada geneologi ideologi dan kultur yang sama dengan  organisasi induknya.

Sementara HMI lahir dari rahim kaum terpelajar yang dari awal menegaskan diri sebagai organisasi kemahasiswaan yang independen. Bukan "anak" Masyumi, bukan "anak" NU, bukan pula "anak" ideologi PNI. Bukan juga pewaris gen Muhammadiyah, NU, Persis ataupun Sarekat Islam.  Meskipun ada upaya-upaya para tokoh di masa lalu "menarik-narik" HMI ke dalam organisasi atau partai tertentu.

Namun, para tokoh HMI dari awal berkomitmen, HMI berdikari diatas kaki keyakinan dan cita-cita perjuangannya sendiri. Kalaupun harus menyatakan garis nasabnya, maka ayah dan ibu kandung HMI adalah negara dan bangsa Indonesia. HMI adalah anak-anak bangsa. Mereka secara kultur dan ideologi bisa saja tumbuh dari dan dalam berbagai tradisi keagamaan. Atau dari latar ideologi dan orientasi politik yang beragam, namun mereka kemudian dibentuk dalam kawah candradimuka pengkaderan dengan berpedoman pada nilai-nilai dasar perjuangan dan dicetak sebagaimana misi HMI yaitu sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Pendirian politiknya jelas tergambar dalam prinsip independensi organisatoris dan etis. Independensi organisatoris, HMI sebagai organisasi tidak dibenarkan dukung mendukung dalam politik praktis. Sedangkan independensi etis, artinya HMI hanya boleh berpihak kepada nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Setiap nilai kebenaran dan keadilan adalah "teman" HMI, dan sebaliknya setiap ketidak  benaran dan ketidak adilan adalah musuh HMI.

Prinsip ini dipegang teguh oleh para kader, sampai kemudian mereka melepaskan statusnya sebagai HMI dan menjadi alumni. Transformasi dari HMI menjadi KAHMI merupakan proses pematangan dan kebijaksanaan. Beberapa tali kewajiban mulai terlepas, seperti prinsip independensi.  KAHMI tidak ada batasan usia independensi, terutama independensi organisatoris. Meskipun  independensi etis semestinya tetap dipegang teguh.

Menjadi KAHMI berarti menjadi lebih matang dan dewasa. Maka mereka dapat menentukan pilihannya, baik profesi, afiliasi politik dan termasuk hak dukung mendukung. Uniknya, meskipun kemudian meskipun dunianya berbeda semua KAHMI masih terikat kuat dalam ikatan solidaritas mekanik sebagai keluarga besar HMI.  KAHMI menjadi payung atau atap besar tempat berteduh dan berkumpul pada alumni HMI, tidak perduli apapun latar belakang mereka saat ini.

Dimana letak uniknya, yang sering disalah pahami oleh banyak kalangan. Pertama, sebagai organisasi yang independen, maka sejatinya tidak ada kekuatan yang bisa menghegemoni ataupun mengkooptasi HMI. Hatta, para seniornya (KAHMI) sendiri. Lumrah terjadi, pertentangan terjadi dalam lintasan yang plural. Pertentangan bisa terjadi antar komisariat, antar komisariat dan cabang, cabang dan Badko, Badko dan PB, dan bahkan antar HMI dan KAHMI. HMI punya mekanisme dan kapasitas instrinsik untuk menyelesaikan setiap pertentangan internalnya secara mandiri. Jangan bermimpi bisa menyeragamkan HMI, baik dalam pemikiran, internalisasi religius dan pendirian politiknya.

Nilai-nilai dasar perjuangan (NDP) HMI memang didesain untuk memerdekakan kadernya menjadi kader kosmopolitan. Konsekwensinya maka perbedaan dan pertentangan bukanlah hal mewah di HMI, bahkan sebaliknya itu adalah fenomena biasa dan lumrah. HMI saling kritik, HMI mengkritik kanda-yunda nya di KAHMI, atau sebaliknya Kanda/Yunda mengkritik para Dinda HMI, merupakan suatu yang biasa dan normal saja. Bukan suatu yang buruk, dan bukan juga hal yang luar biasa. Ini dinamika yang biasa saja dan bahkan menurut saya "sehat" bagi organisasi modern. Kita akan heran dan bertanya-tanya manakala HMI atau KAHMI seperti grup paduan suara. Karena jati diri HMI dan KAHMI adalah pluralitas, bukan penyeragaman. Karena bagi HMI, dialektika dan budaya kritik merupakan upaya untuk menjaga mekanisme check and balance. Ini adalah manifestasi dari praktek high politic ala HMI.

Kedua, geneologi dari kader HMI adalah nasab intelektual, petarung dan ikatan jamaah. Kader sejati HMI dapat dipastikan mereka mestinya seorang intelektual, atau paling tidak terpelajar. Karena setiap jenjang pengkaderan di HMI memiliki aksentuasi terhadap kompetensi intelektual.  Kader juga dibentuk menjadi pejuang yang tangguh dan berintegritas. Karena  modal dasar sebagai kader adalah intelektualitas dan integritas. Kemudian jama'ah, adalah gen yang melekat di dalam aliran darah kader HMI, sebagai manifestasi dari solidaritas mekanik.

Makanya, meskipun para alumni berjuang di "medan pertempuran" yang berbeda-beda, namun mereka senantiasa terikat dalam ikatan solidaritas mekanik tersebut.  Laksana satu tubuh yang bila satu bagian terganggu, maka bagian tubuh yang lain turut merasakan akibatnya. Ini yang kemudian melahirkan apa yang disebut energi HMI connection. Ini adalah manifestasi dari bershaf-shaf dalam jama'ah dan perjuangan.  Prinsip saling membesarkan, saling menopang, saling mendukung biasanya menjadi elan vital koneksi tersebut. Meskipun kadang, konsep ini menjadi "beban" tersendiri bagi HMI atau KAHMI.

Ketiga, tidak bisa membaca HMI dan KAHMI seperti membaca organisasi yang merupakan underbow dari organisasi besar di atasnya. Pasti anda akan salah mengerti. HMI mungkin rentan berkonflik (fragile), namun HMI juga memiliki kapasitas untuk secara berdikari menyesaikan sendiri persoalannya. Jadi naif, jika orang di luar HMI menilai HMI terpecah, hanya sekadar berkaca kepada panggung muka (the front stage) politik internal. Atau berharap dapat memecah belah HMI, anda pasti keliru besar.

Kader HMI lihai membuat konflik, namun piawai juga menemukan formula resolusinya. Jadi jangan khawatir jika terjadi manuver atau aksi  -reaksi politis, itu bukan terompet kiamat bagi HMI. Sebaliknya itu pertanda HMI masih sehat dan masih berdiri digjaya. HMI bertahan meskipun dihantam badai. Otokritik paling keras sekalipun dengan lantang diproklamirkan, “Bubarkan HMI, jika HMI tidak lagi mampu berkontribusi bagi umat dan bangsa.”

Namun, karena otokritik yang paling tajam itu malah yang merawat eksistensi HMI hingga hari ini.  Jadi jangan bermimpi HMI akan rubuh, sekiranya semua orang menilai buruk terhadapnya. Energi terbesar HMI dan KAHMI adalah amanat perjuangannya, nilai-nilai dasar Perjuangan yang di pegang dan kultur kritik dan otokritik yang terus terpelihara. Jadi, hendaknya jangan membaca fenomena HMI dan KAHMI dengan pendekatan mirror image. Karena pasti Anda akan kecele. **

 

*Penulis adalah Kabid PAO KAHMI Kalbar.

Editor : Hanif
#PNI #terbalik #ideologi #image #citra #hmi #mirror #masyumi #Substansi