Oleh: Meireza Ajeng Pratiwi*
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia menunjukkan tren peningkatan minat terhadap penggunaan skincare sebagai cara merawat kulit, terutama kulit wajah. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan dan keindahan kulit, khususnya wajah yang kerap menjadi representasi diri seseorang.
Namun, tingginya minat terhadap skincare belum diimbangi dengan ketersediaan produk yang memanfaatkan bahan-bahan lokal asli Indonesia. Sebagian besar produk skincare di Tanah Air masih bergantung pada bahan baku impor, mulai dari bahan aktif pencerah, pelembap, hingga anti-aging, banyak di antaranya berasal dari luar negeri.
Padahal, jika kita menoleh ke hutan-hutan tropis Kalimantan Barat, tersimpan berbagai bahan alami bernilai tinggi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan kulit. Bahan-bahan tersebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi sumber daya kecantikan yang alami dan berkelanjutan.
Beberapa spesies tumbuhan khas Kalimantan Barat memiliki potensi bioaktif luar biasa untuk perawatan kulit. Salah satunya adalah tengkawang (Shorea spp.), pohon endemik yang menghasilkan illipe butter. Bahan alami ini sangat diminati di pasar global karena kemampuannya melembapkan kulit serta memperbaiki lapisan pelindung alaminya secara mendalam. Tak heran, illipe butter sering digunakan oleh berbagai merek kosmetik kelas dunia.
Selanjutnya, ada pasak bumi (Eurycoma longifolia). Selama ini dikenal sebagai herbal penambah stamina, ternyata tanaman ini juga kaya akan antioksidan yang mampu melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas dan penuaan dini. Tak kalah menarik, kayu ulin dan beberapa jenis rotan lokal mengandung tanin serta polifenol yang berkhasiat sebagai antiinflamasi alami.
Dari kawasan pesisir, mikroalga dan rumput laut Kalimantan Barat juga menyimpan senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai pelindung UV sekaligus pelembap alami. Kandungan ini menjadikannya bahan potensial untuk formulasi sunscreen dan produk perawatan kulit yang bersifat hydrating.
Sayangnya, potensi besar tersebut belum tergarap secara maksimal. Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan fasilitas teknologi dan sumber daya riset di daerah. Proses ekstraksi, pemurnian, hingga standarisasi bahan aktif alami memerlukan peralatan modern dan keahlian teknis yang masih terbatas di Kalimantan Barat.
Selain itu, kolaborasi antara universitas, lembaga penelitian, pemerintah, dan pelaku industri juga belum optimal. Banyak penelitian yang menghasilkan data menjanjikan, namun berhenti di tahap laboratorium dan belum berlanjut ke tahap komersialisasi. Padahal, sinergi antarpihak sangat penting agar hasil riset tidak hanya berakhir di jurnal, tetapi dapat diwujudkan menjadi produk nyata di rak-rak toko kosmetik lokal maupun nasional.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah perlindungan pengetahuan tradisional masyarakat adat. Sejak lama, masyarakat Dayak dan komunitas pesisir telah mengenal berbagai ramuan alami untuk menjaga kesehatan kulit dan tubuh. Sayangnya, pengetahuan berharga ini banyak yang belum terdokumentasi dan belum dikembangkan menjadi produk modern berbasis kearifan lokal
Peluang Besar Menjadi Pionir Industri Kecantikan Hijau
Kalimantan Barat memiliki peluang besar untuk menjadi pionir “green beauty industry” di Indonesia. Dengan penerapan teknologi hijau seperti ekstraksi pelarut alami, fermentasi mikroba lokal, hingga formulasi nanoemulsi, bahan alami dari Borneo bisa diolah menjadi skincare yang aman, efektif, dan ramah lingkungan.
Perguruan tinggi seperti Universitas Tanjungpura dapat berperan sebagai pusat riset dan inkubasi inovasi. Sementara itu, pemerintah daerah perlu membuka ruang kolaborasi bagi pelaku usaha lokal, UMKM kecantikan, dan investor nasional. Jika semua pihak bersinergi, bukan tidak mungkin Kalimantan Barat akan dikenal bukan hanya karena hutannya yang megah, tetapi juga karena skincare alami khas Borneo yang mendunia.
Merawat Kulit, Merawat Bumi
Mengembangkan skincare dari kekayaan hayati lokal bukan hanya tentang menciptakan produk kecantikan, tetapi juga tentang merawat bumi dan identitas kita sendiri. Ketika bahan lokal diolah dengan bijak dan berkelanjutan, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tapi juga memberdayakan masyarakat sekitar dan memperkuat ekonomi daerah.
Dari hutan ke kulit, dari Kalimantan Barat untuk dunia. Sudah saatnya kecantikan Indonesia tidak lagi bergantung pada bahan impor, tetapi lahir dari tangan dan tanahnya sendiri.**
*Penulis adalah dosen Teknik Kimia Universitas Tanjungpura dan Owner Klinik Pratama Gorjes Glow yang aktif meneliti pengembangan bahan aktif alami dari sumber daya lokal Kalimantan Barat untuk inovasi skincare berkelanjutan.
Editor : Hanif