Oleh: Sholihin HZ*
Berbagai karakter manusia disekitar kita menjadi cerminan betapa perlunya kematangan emosional dalam melakoninya. Ragamnya ulah tingkah orang lain sesungguhnya banyak memberi pelajaran pada kita. Pepatah bijak menyebutkan bahwa setiap orang yang datang kepada kita sesungguhnya mengajarkan setidaknya dua hal. Pertama, ia menceritakan kisahnya sehingga bisa menjadi motivasi. Kedua, ia datang dengan keluh kesahnya dan betapa kita perlu berpikir solutif.
Lingkungan dalam arti luas memiliki pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan seseorang. Lingkungan bisa bermakna orang tua dan keluarga. Lingkungan bisa bermakna apa yang dibacanya dan ditontonnya. Lingkungan bisa berarti apa yang digelutinya sehari-hari. Lingkungan juga berarti orang-orang di sekelilingnya. Lingkungan adalah aspek di luar dirinya yang mempengaruhi sikap, tindak dan cara berpikirnya.
Terpolanya cara berpikir yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku selalu berawal dari lingkungan yang mendominasinya. Salah satu karakter manusia adalah butuh kala perlu dan ditinggalkan kala hajat sudah tersampaikan. Betapa Allah SWT memberikan nikmat bisa bangun disubuh hari, beraktivitas dengan penuh kesegaran ternyata ia melupakan bahwa ada Zat yang membangunkannya dari tidur panjangnya dan menyegarkannya kembali. Tetapi Dia tetap curahkan nikmat kepada hamba tersebut.
Betapa manusia sesungguhnya sangat butuh pada Allah SWT, tetapi makhluknya hanya datang kepada-Nya kala ia perlu. Manusia bahkan sujud dan menangis dihadapan-Nya kala manusia memiliki utang yang banyak, manusia hanya munajat kala ia dalam kesempitan. Bukankah ini yang juga kita lakukan pada sesama kita, pertemanan dan kunjungan hanya kala kita perlu? Ada yang pertanyaan yang mendasar, siapakah manusia yang tidak memiliki hajat? Semuanya pasti memiliki keperluan. Keperluan mengadakan akikah, hajat melangsung pernikahan putera-puterinya, hajat pekerjaan dan berbagai hajat lainnya. Kalau nyatanya kita pasti memiliki hajat maka saat itu pulalah kita memerlukan orang lain.
Saudaraku, jangan pernah merasa hidup sendiri, jangan pernah merasa bisa menyelesaikan urusan sendiri, siapapun pasti butuh orang lain. Rasulullah saw dalam pesan bijaknya menyebutkan: “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya (HR. Muslim).”
“Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya (HR. Bukhari).”
Pernyataan Rasulullah SAW di atas menunjukkan bahwa termasuk kebaikan adalah membantu hajat orang lain. Tapi jangan lupa, hukum sosial berlaku di masyarakat, jika seseorang ringan tangan, membantu memenuhi hajat saudaranya, hadir kala diundang, maka orang lain juga digerakkan Allah SWT untuk membantunya. Sesungguhnya inilah hukum masyarakat yang paling berat.
Mufassir Indonesia, Prof. Quraisy Syihab memberikan pemaknaan yang lebih luas dari term menjalin hubungan vertikal dan horizontal. Quraish Shihab menilai bahwa dalam kaitannya dengan konsep menjaga hubungan baik, ajaran Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia saja. Menurutnya, Islam tidak hanya hablum min Allah dan hablum minannas, tetapi juga mengatur hubungan dengan alam. Beliau berpendapat bahwa problem manusia saat ini, di seluruh dunia, adalah hubungannya yang buruk dengan alam. Bahkan, menurut Quraish Shihab, menjaga hubungan baik itu juga termasuk hubungan dengan hewan (dan tumbuhan) dan hubungan dengan diri sendiri.
Perlunya menjaga komunikasi ke lingkungan akan memberikan efek bahwa hidup adalah terjalinnya komunikasi yang harmonis tidak hanya dengan makhluk bernama manusia tapi lintas alam dan jenis makhluk lainnya. Bijaknya hidup adalah bahwa ketika kita perlu dengan siapapun maka jalinlah kedekatan itu kapanpun dan dimanapun. Keseimbangan hidup terjadi adanya saling memahami baik dengan diri sendiri, diri dan orang lain, maupun diri dan alam sekitar.**
*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak.
Editor : Hanif