Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Guru Hebat, Indonesia Kuat

Hanif PP • Selasa, 25 November 2025 | 08:09 WIB
Ma’ruf Zahran Sabran
Ma’ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran

Tema peringatan Hari Guru, termasuk PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), berada di tengah kondisi yang kurang nyaman. Beberapa kasus yang terjadi di permukaan menggambarkan betapa berat tantangan yang dihadapi oleh para guru dan dunia keguruan, antara idealisme dan realitas di sekolah. Realitas sekolah sangat kompleks, mulai dari masalah perundungan (bullying) yang berakhir dengan ledakan bom di SMAN 72 Jakarta, hingga kasus terbaru yang viral tentang korban bullying di SMPN 19 Tangerang Selatan, berinisial MH (13 tahun). Perundungan yang dilakukan oleh sesama siswa di kelas tersebut berakhir dengan kematian, setelah korban sepekan dirawat di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta.

Belum lagi, persoalan guru yang dilaporkan ke polisi karena menegakkan aturan sekolah, seperti larangan merokok! Kasus guru perempuan yang dijambak dan dipotong rambutnya oleh oknum orang tua murid, karena tidak terima dengan aturan sekolah yang melarang siswa berambut gondrong. Ada pula kasus guru yang dipecat karena menegur siswi yang mengenakan rok mini (rok di atas lutut) di lingkungan sekolah. Atas nama HAM (Hak Asasi Manusia), para guru terluka, pedih, dan perih.

Masalah lainnya adalah kurikulum yang terus berubah, aplikasi yang selalu diperbarui, sehingga membuat waktu tugas guru lebih banyak tersedot di depan laptop untuk membuat banyak laporan. Terkadang laporan tersebut berulang dan kurang menyentuh pembelajaran nyata di kelas. Laporan online yang menumpuk menyebabkan tugas administratif lebih dominan daripada tugas profesi keguruan itu sendiri. Guru sebagai tenaga profesi lebih banyak dipekerjakan oleh tuntutan administratif dan fungsi manajerial, daripada menjalankan peran, tugas pokok, dan fungsi guru itu sendiri. Guru mendidik, mengasuh, mengasih, mengasah, mengajar siswa untuk belajar. Guru melakukan proses membimbing, mengarahkan, mengoreksi, menasehati, dan mendampingi siswa dalam bertumbuh dan berkembang fisik dan psikis. Guru membantu perkembangan intelektual, emosional, dan spiritual siswa.

Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang setiap hari berinteraksi dengan siswa di sekolah. Apakah hubungan mereka sebatas hubungan kepentingan dan relasi transaksional belaka? Celaka jika hubungan tersebut bersifat skala atas-bawah (top-down), di mana keputusan dari atas secara struktural wajib diterapkan pada tingkat bawah tanpa memperhitungkan situasi, memerhatikan kondisi, dan memberikan ruang toleransi. Saatnya dunia pendidikan merubah pendekatannya dari top-down menjadi bottom-up. Dengan demikian, pola sentralisasi pendidikan dan persekolahan mulai dikurangi, namun memerdekakan sekolah dari banyak aturan yang tidak sesuai dengan kondisi sekolah, guru, siswa, dan komite sekolah.

Hari ini, penghormatan tulus diberikan kepada guru hebat, karena perjuangan mereka yang layak disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan, karena dari profesi guru banyak melahirkan profesi lain yang bermanfaat bagi semua manusia. Tanpa tanda jasa, maksudnya adalah niat dan perjuangan yang dilakukan tanpa lelah dan tanpa pamrih.

Guru harus kuat. Apabila profesi guru saja sudah tidak dihargai, bagaimana mungkin manusia dewasa kelak dapat menghargai profesi lain? Padahal, semua profesi lahir dari rahim guru. Namun, jika peran guru terus dipangkas, akhirnya guru akan menjadi mandul atau lemah. Guru yang telah kehilangan taring ibarat macan ompong di sekolah. Para siswa bahkan menertawakan si macan ompong (guru). Akan lahir generasi yang mandul adab, tidak sopan, berbicara sekehendak hati, dan berbuat semaunya. Terus terang, kejadian-kejadian viral belakangan ini banyak membuat guru "berpikir dua kali" untuk menasehati siswa, khawatir mereka tersinggung!

Dulu, siswa disuruh sopan-santun ketika berbicara dengan guru. Kini, dunia terbalik. Hati-hatilah berbicara dengan siswa, karena siswa menjadi sangat berkuasa di sekolah. Bukti nyatanya adalah siswa yang kuat membuli siswa yang lemah. Dihadapkan dengan kenyataan bullying di sekolah, guru hanya terdiam, membatu, dan membisu sejuta bahasa. Jika dicegah, orang tua di rumah akan turun tangan untuk membuli guru. Ternyata, program sekolah tidak didukung oleh rumah! Program sekolah sehat tidak didukung oleh masyarakat. Buktinya, ada anggota (oknum) masyarakat yang merasa terganggu jika diwawancarai oleh siswa. Tugas sekolah tidak mendapat simpati di hati masyarakat. Gagal total siswa mengumpulkan data dan informasi penelitian. Kacau! Tidak ada sinergi antara sekolah, rumah, dan masyarakat.

Sikap siswa terhadap guru sangat bergantung pada keluarga mana mereka berasal dan bagaimana pandangan dunia (worldview) orang tua mereka terhadap guru dan persekolahan. Memang diakui, profesi guru tidak menjanjikan kekayaan. Namun, wajib diketahui oleh semua orang tua siswa bahwa semiskin apapun guru, mereka adalah guru anak-anakmu. Profesi menjadi pendidik telah Tuhan catat di pundak mereka. Meski dalam ketiadaan, mereka tetap tersenyum di kelas, sabar menunggu anak didik untuk belajar bersama, menulis, membaca, tertawa riang, dan bermain bersama.

Tidak dinafikan, pembelajaran yang menyenangkan, gembira, dan berbobot akan melahirkan siswa yang senyum, ceria, dan tenang. Semangat keceriaan menyebabkan pembelajaran sangat bermakna, cerdas, cerah, efektif, efisien, berhasil guna, dan berdaya guna. Efektif karena baik guru maupun siswa terlibat dalam proses pembelajaran, baik secara fisik maupun psikis. Kebersamaan fisik dan non-fisik siswa memiliki keterhubungan yang erat dan signifikan dalam irama belajar (simetris). Di sinilah kegunaan menghadirkan totalitas (lahir-batin) siswa dalam mencerna bacaan dan tulisan, serta mengungkapkannya kembali sebagai proses latihan dan penerapan secara terus-menerus (practice and drill). Bandingkan jika proses pembelajaran dipenuhi dengan ancaman, umpatan, hujatan, dan caci-maki. Hal ini hanya akan menghasilkan jiwa yang tertutup, lemah, dan ketakutan dalam menyuarakan aspirasi belajar.

Hebat guruku, kuat Indonesia-ku, bangga menjadi siswa-mu. Sebab, profesi guru adalah profesi utama para nabi. Para guru selalu menyampaikan pesan Allah dan Rasul-Nya, mengajak menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Tugas suci dan profesi guru tidak bisa tergantikan oleh tugas dan profesi lain. Tugas guru tidak hanya membaca, tapi juga membacakan. Membacakan ini yang dituntut secara profesional, dengan tenang, lambat, nyaring, pelan, cepat, dengan irama dan intonasi yang sesuai. Orasi yang berubah sesuai situasi, kondisi, materi, metode, media, dan evaluasi.

Mengajar adalah bakat yang diasah melalui pendidikan guru dan keguruan. Artinya, guru tidak cukup mengajar, tetapi juga mengajarkan dengan hikmah kalam Tuhan. Guru bukan sekadar dituntut suci, tetapi juga wajib menyucikan. Menyucikan jiwa siswa adalah tugas yang paling berat. Patut jika tema Hari Guru Nasional adalah *Guru Hebat*. Logikanya, bila guru hebat, Indonesia pasti kuat. Sebaliknya, bila guru lemah, Indonesia pasti lemah. Guru lemah, Indonesia musnah.

Berbahagialah Indonesia yang memiliki banyak guru kuat. Dari gaji yang sedikit, mereka bertahan hidup dan bangga menjadi guru. Guru hebat bukan untuk dirinya sendiri. Guru yang hebat adalah guru yang sanggup menghebatkan orang lain. Guru yang pintar adalah guru yang menjadi jembatan untuk kepintaran orang lain. Guru yang baik akan menjadikan siswa yang baik. Karena mengajar penuh kebaikan, maka yang belajar akan merasakan aura kebaikan. Keberlimpahan kebaikan akan memantik kebahagiaan. Bahagia akan menarik kebahagiaan yang banyak. Mengajar bukan paksaan, belajar bukan ancaman. Dari proses pembelajaran tadi, ilmu akan menjadi amal, amal akan berbuah ikhlas.

Guru hebat adalah guru yang memudahkan materi ajar, sehingga dengan rumus dan kiat, guru memudahkan yang sulit. Bukan mempersulit materi untuk dipahami siswa. Menyederhanakan yang berbelit, mudah diingat sampai hari tua. Dengan ekspresi mengajar yang ditampilkan oleh guru, menjadi kenangan baik yang tak terlupakan selamanya. Ingat, guru tidak sebatas mengajar, tetapi juga mendidik!

*Hidden curriculum* (kurikulum yang tersembunyi) sangat berbekas di jiwa siswa. Guru berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya *digugu dan ditiru*. Dikuti nasehatnya, ditiru perilakunya. Cara guru berbicara dapat melahirkan rasa kagum siswa kepadanya. Karena guru adalah terpelajar, cerdas, bijak, berilmu, berpengetahuan, dan berpengalaman. Sehingga siswa akan meniru seperti diri guru. Misalnya, guru yang menguasai bahasa Arab dan Inggris akan menulari jiwa, bahasa, dan kepribadian siswa.

Hadir guru sejarah yang diminati siswa, nanti dia akan melahirkan sejarawan dan peneliti sejarah. Guru fisika yang hebat akan melahirkan fisikawan. Dampak ikutan adalah Indonesia memiliki fisikawan yang kuat. Guru matematika yang hebat akan menjadikan matematikawan Indonesia kuat. Guru tasawuf yang disukai siswa, kelak akan lahir sufi besar dunia. Jika Allah SWT menghendaki kebaikan seorang hamba, Dia utus seorang guru spiritual yang cerdas secara rabbani (baca Al-Kahfi ayat 17). Belajarlah kepada mereka, mereka yang telah berpengalaman dan berpengetahuan. Guru berkognisi, berkreasi, berkomunikasi, berintegrasi, dan berintuisi.

Akhirnya, peran guru tidak pernah hilang pengaruhnya sampai kapan pun. Siswa yang jujur kepada gurunya akan melahirkan pribadi berbakat kepemimpinan yang jujur, amanah, dan cerdas. Siswa yang culas terhadap gurunya, akan melahirkan pribadi yang dusta dan aniaya.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#aturan #bullying #tantangan besar #Haru Guru Nasional #kekerasan terhadap guru #PGRI 2025