Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menanam Pohon, Mengembalikan Keseimbangan Bumi

Hanif PP • Jumat, 28 November 2025 | 09:38 WIB
Prof. Dr. Hermansyah, M.Ag
Prof. Dr. Hermansyah, M.Ag

Oleh: Hermansyah*

Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia, 28 November, kembali hadir di tengah meningkatnya bencana hidrometeorologis di berbagai daerah. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Sumatera dilanda banjir bandang, longsor, dan cuaca ekstrem yang memaksa ribuan warga mengungsi. Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen bencana di Indonesia setiap tahun adalah bencana hidrometeorologis, seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem, jenis bencana yang sangat dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

Tren ini memperlihatkan bahwa kondisi ekologis kita semakin rapuh. Indonesia yang dahulu disebut paru-paru dunia kini menghadapi tekanan besar. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa laju deforestasi tahun 2013–2023 memang menurun, namun luas hutan yang telah hilang selama tiga dekade terakhir mencapai lebih dari 24 juta hektare. Di banyak daerah, termasuk di Kalimantan dan Sumatera, hilangnya tutupan hutan berbanding lurus dengan meningkatnya risiko banjir dan longsor. Daerah aliran sungai (DAS) yang rusak membuat air hujan tidak mampu lagi meresap ke tanah, menghasilkan aliran permukaan yang ekstrem dalam waktu singkat.

 

Kerusakan yang Berbuah Bencana

Musibah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini di Sumatera menjadi cermin telanjang atas kerentanan ekologis kita. Ketika hujan lebat turun dalam durasi singkat, banyak DAS tidak lagi mampu menahan laju air. KLHK mencatat lebih dari 60 persen DAS di Indonesia berada dalam kondisi kritis, terutama di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan bukan sekadar curah hujan tinggi, melainkan akumulasi kerusakan ekologis yang berlangsung lama.

Kerugian akibat bencana pun tidak kecil. BNPB mencatat angka kerugian ekonomi akibat bencana hidrometeorologis di Indonesia mencapai lebih dari Rp22 triliun per tahun, belum termasuk korban jiwa dan hilangnya mata pencaharian. Angka ini menunjukkan bahwa biaya kerusakan lingkungan jauh lebih besar dibandingkan investasi dalam upaya pencegahan seperti reboisasi, restorasi lahan kritis, dan penguatan tata ruang.

 

Pohon sebagai Fondasi Ekosistem

Dalam situasi ekologis yang memburuk, peran pohon menjadi lebih vital. Pohon bukan hanya penghias lanskap, melainkan infrastruktur ekologis yang menjaga keseimbangan alam. Penelitian Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa satu hektare hutan dapat menahan hingga 200 ton air, membantu mencegah limpasan permukaan yang memicu banjir. Akar pohon memperkuat struktur tanah, mengurangi risiko longsor, dan meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hingga 60 persen lebih baik dibandingkan lahan terbuka.

Selain manfaat hidrologis, hutan juga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Indonesia menempati posisi kelima negara dengan cadangan karbon terbesar di dunia. Namun potensi ini hanya berarti jika tutupan hutan benar-benar terjaga. Saat ini, kontribusi sektor kehutanan dan penggunaan lahan masih menjadi penyumbang emisi terbesar dalam inventaris gas rumah kaca nasional.

 

Menanam Pohon Tidak Boleh Menjadi Seremoni

Setiap tahun, Hari Menanam Pohon Indonesia dirayakan dengan kegiatan simbolik yang meriah. Namun, terdapat jarak besar antara seremoni dan efektivitas. Banyak bibit yang ditanam dalam acara resmi tidak bertahan lama karena kurangnya perawatan pascapenanaman. Padahal, KLHK memperkirakan Indonesia memiliki lebih dari 14 juta hektare lahan kritis yang membutuhkan rehabilitasi, angka yang jauh lebih besar dari jumlah bibit yang ditanam setiap tahun secara seremonial.

Perlu disadari bahwa menanam pohon hanyalah awal. Keberhasilannya bergantung pada pemeliharaan, keterlibatan masyarakat, dan kesesuaian spesies dengan ekosistem. Penguatan program rehabilitasi berbasis komunitas serta pemberdayaan masyarakat adat menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Banyak komunitas lokal terbukti lebih efektif menjaga kawasan hutan karena memiliki ikatan kultural dan ekonomi langsung dengan ekosistem yang mereka rawat.

 

Urgensi Restorasi Ekosistem

Restorasi ekologis harus menjadi agenda nasional yang tidak bisa ditunda. Pemerintah perlu memperkuat komitmen mengurangi emisi karbon, menata ulang izin pemanfaatan lahan, serta memperketat pengawasan terhadap aktivitas industri ekstraktif. Perusahaan-perusahaan yang bergantung pada sumber daya alam harus menerapkan pengelolaan berkelanjutan yang terukur, bukan sekadar mencantumkan slogan ramah lingkungan dalam laporan tahunan.

Indonesia memiliki target ambisius untuk mencapai net-zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Target itu mustahil dicapai tanpa perlindungan hutan dan restorasi lahan kritis. Rehabilitasi mangrove, hutan gambut, dan kawasan hutan lindung harus dipercepat dan direncanakan secara ilmiah, bukan sekadar program proyek jangka pendek.

 

Menanam Harapan

Bencana di Sumatera adalah peringatan keras bahwa kita tidak lagi memiliki ruang untuk menunda perbaikan ekologi. Alam telah menunjukkan batas kesabarannya. Menanam pohon, sebuah tindakan sederhana, merupakan langkah strategis untuk memperbaiki daya dukung lingkungan, mengurangi risiko bencana, dan menjaga masa depan generasi mendatang.

Setiap pohon yang kita tanam adalah harapan, dan setiap pohon yang ditebang tanpa kendali adalah ancaman bagi kehidupan. Hari Menanam Pohon Indonesia harus menjadi momentum nasional untuk beralih dari seremoni menuju aksi nyata yang berkelanjutan. Menjaga bumi berarti menjaga masa depan, dan masa depan itu dimulai dari satu pohon.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#menanggulangi #kerusakan hutan #bencana hidrometeorologis #Momentum penting #hari menanam pohon indonesia