Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bukan Amalnya yang Sulit, Istiqamahnya yang Berat

Hanif PP • Jumat, 28 November 2025 | 09:40 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

Oleh: Sholihin HZ*

Ada empat hal yang pasti pernah dilakukan manusia. Setiap kita pasti pernah beramal (kebaikan); setiap kita pasti pernah berbuat salah; setiap kita pasti selalu bertabur nikmat dan setiap kita pasti pernah mendapat musibah.

Empat keniscayaan ini menjadikan hidup kita terasa dinamis. Kadang senyum dilain waktu berduka, pernah tertawa karena bahagia tapi pasti pernah tersungkur sedih atas salah dan dosa. Semua ini ritme dan gelombang kehidupan yang harus dilewati selama ia hidup.

Siapa diantara kita yang tidak pernah berbuat baik? Tentu jawabannya pasti tidak mungkin ada orang yang tidak pernah berbuat baik. Yang ada adalah beragam amal sehingga banyak kebaikan yang bisa dilakukan seorang hamba.

Saudaraku, sesungguhnya ada dua potensi dalam diri manusia yakni potensi kebaikan (taqwaha) dan keburukan (fujuroha) sebagaimana dalam Qs. ASy -Syams: 8, “Lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.”

Dua potensi ini (kebaikan dan keburukan) akan dominan salah satunya tergantung pada kekuatan jiwa dan lingkungan yang melingkupinya. Sederhananya sebuah perbuatan terlaksana tergantung pada niat dan kesempatan (N+K). Sebatas niat tapi tidak/belum ada kesempatan maka ia belum dikatakan terlaksana. Ada kesempatan namun niat tidak ada maka juga tidak terlaksana. Tapi sesungguhnya yang paling utama adalah faktor niat, jika niat sudah ada maka kesempatan bisa diciptakan. Disinilah berlaku pepatah, “Jika mau maka 1000 cara, jika tidak mau 1000 alasan.” Benar sesungguhnya.

Siapapun akan mudah dan bisa melakukan suatu amal, luasnya cakupan kebaikan menjadikan setiap aspek kehidupan kita sebenarnya bisa bertabur pahala. Menurut hemat penulis, kebaikan yang hakiki itu bukan pada wujud kebaikan itu sendiri tapi lebih pada konsistensikan kita dalam melakukan perbuatan itu? Istiqamahkah kita dengan selalu mengerjakan kebaikan itu?

Seseorang bisa dua atau tiga kali duduk utuk menyelesaikan 30 juz Alquran, tapi konsistenkah? Meski hanya 1 juz tetapi rutin dan inilah termasuk kategori yang Allah SWT cintai. Allah SWT menyukai amal rutin meskipun sedikit. Rutinnya ini memiliki nilai bahwa kita ingin hati dan jiwa kita tidak pernah kosong dan lalai dari mengingatnya. Hati yang kosong atau datang sekali-kali kepada Allah tentu akan beda nilainya dengan hamba yang datang setiap menghadap-Nya. Apalagi yang datang kepada Allah hanya kala ia mendapati masalah dan mengadu untuk minta dituntaskan, tentu naif sekali jika demikian adanya.

Seseorang yang beramal dengan dasar ilmu. Kemudian dilakukan dalam kondisi sendiri atau berjamaah, dan menjadi kebiasaan yang terus menerus hingga akhir hayatnya akan dinilai dalam pandangan manusia sebagai orang yang istiqamah, lebih-lebih dalam pandangan Allah sebagai orang yang senantiasa ingin dekat dengan-Nya melalui amal yang istiqamah.

Istiqamah adalah orang yang memiliki keteguhan pendirian dan selalu konsisten dalam perbuatan. Konsep yang ditawarkan Islam adalah menjadikan hamba-hamba Allah sebagai orang yang ‘ahli’ dalam kebaikannya. Seseorang dinamakan ahli jika ia memiliki potensi, kompetensi dan syarat untuk dikatakan seorang yang professional. Ahli berarti kemampuannya khas dan unik yang juag bermakna tidak semua orang bisa memilikinya.

Ahli kebaikan maka ialah pelopor pelaku kebaikan. Ahli Quran bermakna ia adalah seorang yang dekat dengan Alquran (penghafal Quran, memahami hukum-hukum bacaan Alquran, pengamal Alquran). Seorang ahli zikir karena hati dan lisannya tidak lepas dari zikir (mengingat Allah dengan ucapan, lisan dan perbuatan).**

 

*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak.

Editor : Hanif
#Kesalahan #musibah #manusia #Nikmat #Kebaikan #perjalanan #Istiqamah #amal