Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
IBU dan para leluhur kita, memilih hidup sederhana. Meski kekayaan menjanjikan untuk hidup mewah, pangkat dan kedudukan mengiming-iming kehidupan berlimpah harta, namun mereka memilih pola hidup sederhana. Sebaliknya, hidup dengan pola berlebihan, bermewah-mewah (mutraf), sangat berbahaya. Sangat besar ancaman bagi kelompok mutrafin, sebagai kelompok kiri (ashabusy-syimal).
Berlebihan dalam hal apapun, pasti tidak baik akhirnya, termasuk dalam ilmu, harta, pangkat, jabatan. Nanti jatuh, khawatir tidak bisa bangun. Bukankah semua atribut tadi menjadi hijab bagi Allah SWT? Ilmu, ibadah, amal yang tidak ikhlas, dipersembahkan kepada siapa itu semua? Kepada Allah, atau kepada yang selain Dia? Siapa yang selain Dia, wajib diketahui untuk dibuang, yakni dalam arti batin. Membenci makhluk karena Allah, mencintai makhluk karena Allah. Berjumpa karena Allah, berpisah karena Allah. Memberi karena Allah, menahan karena Allah. Untuk itu, kenali Allah untuk dipatuhi!
Hidup ini singkat, sinyal bila Dia akan membersihkanmu, maka Dia mendekatimu dengan cara menjauhkanmu dari makhluknya (hiruk-pikuk) duniawi. Jika Dia ingin membersihkan dirimu, disuruh engkau bertobat. Lalu engkau bertaubat dan diampuni semua dosa.
Dosa yang terstruktur, massif, menginstitut (melembaga), kolaborasi antarsindikat kejahatan seperti kartel tambang, regulasi untuk pembabat hutan, penjarah danau, sungai, laut dan seluruh kekayaan dan biotanya. Kejahatan di atas merupakan isu global. Meski aksi lokal, namun bereaksi global. Bagaimana hulu, demikian pula hilirnya. Pembalakan hutan yang terjadi di wilayah barat, akan berdampak di wilayah timur. Maksiat yang dilakukan di puncak, terasa akibat buruknya di pesisir, berupa banjir. Kerusakan alam kawasan timur, mengakibatkan musibah di timur dan di barat. Lebih lagi, mencairnya es di Kutub Utara dan Kutub Selatan sebagai akibat pemanasan global (global warming), gas emisi, dan efek rumah kaca. Fenomena global tersebut menjadi penanda bagi datangnya kiamat secara tiba-tiba. Namun, telah diawali secara berkala dan dalam skala yang kecil (simulasi).
Bulan September, Oktober, November, bahkan Desember merupakan puncak kemarahan bumi. Desember saban tahun, sebagai finalti musibah! BMKG sudah banyak memperingatkan, mengimbau untuk kesiapsiagaan dini. Datang masanya ketika karpet merah tidak bisa lagi digelar. Wisuda tidak dapat lagi dihelat. Perayaan tidak sanggup digawai, dan pesta tidak nampak wajah. Semua bertakziah nasional, berduka semesta.
Disamping faktor fisik yang disebabkan pembalakan hutan, tambang yang dimiliki para cukong sehingga mempunyai bandara tanpa pengawasan negara. Tanpa TNI AU, Polri, Beacukai, Imigrasi, Angkasa Pura dan unsur lain. "Melenggang kangkung" Bandara Morowali seakan berada di negara lain. State within a state (negara di dalam negara). Berkuasa penuh, bebas dari regulasi. Bahkan mereka membuat aturan tersendiri.
Bertobat dari dosa, bertobat dari syirik. Taubat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia adalah pilihan tepat, langkah akurat. Bukan debit air hujan yang salah dari langit, tapi bumi telah dirusak oleh orang-orang "bahlul" (jahil). Tangan yang berlumuran dosa, sampai bumi dan hutan diperkosa, lemah, linglung, kehabisan energi untuk menampung air hujan. Bukti hujan hanya beberapa menit, air menggenangi pemukiman penduduk. Ditambah hutan cagar alam, tidak sanggup lagi sebagai wilayah serapan air hujan. Karena hutan sudah ludes dibabat.
Bumi yang diwariskan oleh Allah SWT dalam keadaan porak-poranda.
Perlu ratusan tahun untuk memulihkan, tidak saja infrastruktur, suprastruktur. Tapi juga mental dari korban terdampak musibah. Trauma berkepanjangan, tidak akan pernah pupus selamanya. Lihatlah korban tsunami Aceh, sampai detik ini. Mereka tidak akan pernah dapat melupakan peristiwa memilukan yang telah merenggut jiwa orang-orang yang mereka sayangi. Traumatis yang membayangi ketakutan mereka saat melihat gelombang laut, terkenang wajah para syuhada dari kalangan keluarga, tetangga, sahabat dan handai taulan, terseret, terkoyak, terhempas, akhirnya wafat. Hanya dalam hitungan lima belas menit, satu provinsi Aceh luluh lantak disapu tsunami dari kota Banda Aceh sampai ujung Sabang.
Terus, solusi taubat adalah yang terbaik, saat nyawa masih dikandung badan. Musibah nasional yang melanda viral di media sosial, konten sedih bersilaturahmi, dan bertakziah susul-menyusul. Desember, Januari, Februari merupakan bulan-bulan kiamat di dunia. Semoga Allah SWT menyelamatkan bangsa Indonesia. Sebagai penulis, saya menyerukan untuk setiap masjid melakukan doa qunut nazilah, di dalam dan di luar salat. Kepada umat lain sebangsa dan setanah air, jangan lupa mendoakan bangsa ini. Saling membahu, membantu, masih banyak pekerjaan rumah bangsa yang harus diselesaikan.
Tidak menyalahkan para pihak, tidak pula mencari kambing hitam, dan tidak mematamatai setiap langkah pejabat atau rakyat. Mulai hari ini, mulai dari diri sendiri (ibda' binafsik) berbenah diri. Jangan sok kuasa, "petantang-petenteng" menjual gelar, pangkat, jabatan, kedudukan. Bukankah profesi akan berakhir dengan pensiun, dan hidup akan berakhir dengan gelar almarhum. Wallahualam.
*Penulis adalah dosen IAIN.
Editor : Hanif