Oleh: Wiwik Setiyorini, S.Ag., M.AP*
Umar bin Abdul Aziz adalah Khalifah ke 8 Dinasti Bani Umayah yang memerintah pada tahun 717M hingga wafatnya pada tahun 720M. Meskipun masa pemerintahannya singkat hanya memimpin kurang lebih tiga tahun, ia dikenal sebagai figur pemimpin yang menonjol karena keadilannya, kesederhanaannya dan integritas moralnya yang mengingatkan masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, oleh karena itu ia dijuluki “Umar II” atau “Khulafaur Rasyidin Kelima”.
Umar bin Abdul Aziz dikenang dan dikenal sebagai sosok teladan penuh kesederhanaan, keadilan, dan ketakwaan. Kepemimpinan yang singkat namun berdampak besar menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana integritas dan kesederhanaan seseorang pemimpin dapat mentransformasi sebuah negara.
Sebelum menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemuda yang hidup berkecukupan. Namun, saat amanah kekhalifahan diletakan dipundaknya, terjadi perubahan drastis dalam gaya hidup.
Langkah pertamanya yang paling ikonik adalah menolak kemewahan istana. Ia segera mematikan lampu minyak mahal yang disediakan dan meminta diganti dengan lampu yang dibiayai dengan harta pribadinya, karena khawatir menggunakan harta rakyat (baitul mal) untuk urusan pribadinya.
Ketika bekerja di malam hari mengurus urusan negara, Umar bin Abdul Aziz menggunakan lampu yang minyaknya berasal dari kas negara. Namun, ketika ada kerabat yang datang dan mereka mulai membicarakan urisan pribadi dan keluarga, segera memadamkan lampu tersebut. Demikian pula ketika anaknya sendiri yang akan belajar yang saat itu memerlukan penerangan, saat itu juga Umar memadamkan lampu yang menyala saat itu, dan menggantinya dengan lampu milik pribadi.
Seketika itu juga sang anak bertanya, “Kenapa lampu dimatikan, Ayah ?”
“Lampu yang kita gunakan minyaknya berasal dari kas negara,” jawab Umar.
Hal ini menunjukkan kehati hatian beliau dalam menggunakan uang negara bahkan untuk hal yang terkecil. Selanjutnya, Umar mengumpulkan semua perhiasan dan harta benda yang diberikan kepada keluarganya dengan cara yang tidak sah, baik itu dari ayahnya maupun dari khalifah sebelumnya. Dia pun mengembalikannya ke baitul mal. Ia bahkan menjual harta pribadinya untuk memastikan ia hidup setara dengan rakyatnya.
Istri Umar, Fatimah Binti Abdul Malik adalah putri khalifah sebelumnya dan terbiasa hidup mewah. Setelah Umar diangkat menjadi khalifah, ia dihadapkan suatu pilihan yang sulit.
Umar berkata pada istrinya. “Wahai Fatimah, engkau telah menegtahui beban yang menimpaku, Aku menanggung tanggung jawab umat Muhammad. Jika engkau ingin tetap bersamaku, engkau harus hidup sederhana. Jika engkau memilih kemewahan, kita berpisah saja.”
Fatimah memilih meninggalkan semua kemewahan demi mendampimgi suaminya. Fatimah memiliki perhiasan permata yang sangat berharga yang biasa dikenakannya. Atas permintaan suaminya, Fatimah mengumpulkan semua perhiasan tersebut dan mengembalikannya ke baitul mal (kas negara) sebagai wujud pengabdiannya kepada rakyat.
Satu kisah yang sangat terkenal dari Umar akan pakaian yang digunakannya sebagai seorang pemimpin. Suatu hari, Umar terlambat datang untuk menjadi khatib Salat Jumat. Ketika itu ada seorang jemaah bertanya mengapa khalifah datang terlambat. Beliau menjawab “Saya terlambat karena sedang menunggu gamis (baju panjang) saya yang baru dicuci agar kering. Saya tidak punya pakaian lain untuk dipakai berkhutbah.”
Hingga pada akhir hayatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak mewariskan harta untuk anak-anaknya. Kesederhanaannya juga terlihat dari apa yang ditinggalkannya. Saat menjelang wafat, Umar ditanya tentang wasiat harta yang akan ditinggalkan untuk anak-anaknya. Dia menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa untuk mereka. Jika anak-anakku orang yang saleh, Allahlah yang akan mengurusnya dan mencukupkan mereka. Dan jika mereka tidak saleh, aku tidak akan meninggalkan harta haram yang akan membuat mereka masuk neraka.”
Dari sepenggal kisah kesederhanaan Khafilah Umar bin Abdul Aziz memberikan pelajaran bagi kita, kesederhanaan adalah wujud integritas yang menciptakan jarak antara kekuasaan. Keserakahan pribadi dan kesederhanaan pribadi pemimpin adalah pondasi kepercayaan publik. Ketika pemimpin tidak serakah, sumber daya negara dapat dialihkan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat yang merata. Kekuasaan adalah amanah yang mengharuskan pengorbanan dan kesederhanaan, bukan kesempatan untuk menikmati kemewahan. Inilah teladan yang dapat kita petik dari kisah-kisah kesederhanaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.**
*Penulis adalah Kepala MTsN 2 Melawi.
Editor : Hanif