Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Peran Literasi terhadap Penemuan Peluang Pasar Hasil Hutan Bukan Kayu

Hanif PP • Selasa, 9 Desember 2025 | 11:47 WIB
Ilustrasi Hutan
Ilustrasi Hutan

Oleh: Asih Idha Listiyowati*

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) merupakan salah satu sumber daya yang memiliki potensi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan, memperluas peluang usaha komunitas, serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Beberapa literatur menyatakan bahwa HHBK memiliki kemampuan untuk menciptakan perbaikan  dampak ekonomi, sosial, dan ekologis tanpa merusak tutupan hutan. Rosenfeld et al. (2024) menyatakan bahwa HHBK berkontribusi signifikan terhadap local development terutama dalam masyarakat hutan yang memanfaatkan madu hutan, rotan, damar, gaharu, obat-obatan alami, hingga buah hutan sebagai sumber penghidupan

Beberapa penelitian di berbagai negara memperlihatkan bahwa keberhasilan pemanfaatan HHBK tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga pada kapasitas manusia yang mengelolanya.

Research Question

Sejauh mana literasi,  faktor mediasi dan moderasi mempengaruhi proses penemuan peluang pasar  dalam konteks komunitas/kelompok/koperasi HHBK

KerangkaKonseptual

Photo
Photo

Literasi dan Penemuan Peluang (Literacy dan Opportunity Recognition)

Sebagian besar penulis dalam literatur menekankan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca informasi, tetapi merupakan modal intelektual (intellectual capital) yang menjadikan individu mampu memahami perubahan lingkungan dan mengidentifikasi peluang ekonomi.

De Jong et al. menyatakan, “Information literacy enhances individuals’ ability to gather, filter, and interpret signals relevant for opportunity recognition,”. Literasi informasi membantu individu memahami sinyal pasar yang biasanya luput dari perhatian pelaku lain.

Ji & Zhuang (2023) berpendapat, “Digital literacy significantly improves opportunity identification in fast-changing environments.”

Hasan et al. (2023) menekankan, “Financial literacy mitigates individual risk perception and enables identifying profitable opportunities under uncertainty.”

Xie & Lu (2025) memberikan pandangan, “Digital literacy shapes the cognitive ability to search, evaluate, and utilize digital information which directly impacts entrepreneurial opportunity discovery”.

De Koning (2022) menjelaskan, “Entrepreneurial alertness is a metacognitive capability that allows individuals to spot opportunities that others overlook.”  Menunjukkan bahwa alertness adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Selain itu, Hasan et al. (2022) berpendapat, “Cognitive adaptability enables entrepreneurs to recognize opportunities more quickly and respond effectively to environmental changes.”  Menunjukkan bahwa kemampuan adaptasi berpikir adalah penghubung utama antara literasi dan peluang.

Para penulis menyimpulkan bahwa kemampuan mengenali peluang adalah hasil interaksi antara literasi dan kemampuan kognitif. Hasil kajian literatur dapat disimpulkan bahwa literasi finansial, digital, pasar dan kewirausahaan merupakan fondasi kognitif utama yang berperan langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan kemampuan individu untuk mengenali peluang (opportunity recognition) dalam konteks kewirausahaan. Dari literasi akan membentuk multidimensional kapasitas intelektual yang memungkinkan individu memahami informasi, menilai risiko, mengambil keputusan, dan merespons dinamika lingkungan secara adaptif.

Faktor Mediasi

Pengaruh literasi terhadap opportunity recognition adalah tidak berpengaruh secara langsung, melainkan melalui peran mediasi yang bersifat psikologis, perilaku, dan sosial. Mediator yang paling sering muncul terdiri dari self-efficacy, entrepreneurial alertness, cognitive adaptability, behavioral factors, dan social capital.

Faktor Moderasi

Hubungan antara berbagai jenis literasi dan opportunity recognition bersifat tidak konsisten, sebagian signifikan, dan sebagian tidak signifikan. Ketidakkonsistenan ini dijelaskan oleh peran faktor moderasi yang mempengaruhi kekuatan dan arah hubungan.  Disebutkan factor moderasi yang cukup dominan : tingkat pendidikan, gender, infrastruktur sosial dukungan institusional.**


*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura.

Editor : Hanif
#masyarakat pedesaan #pemanfaatan #peningkatan pendapatan #pembangunan berkelanjutan #hasil hutan bukan kayu