Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dosa Memanggil Bencana

Hanif PP • Jumat, 12 Desember 2025 | 10:58 WIB
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA

Oleh: Thamrin Usman*

Alam semesta bukanlah sekumpulan benda yang terpisah-pisah, bagai manik-manik yang tercecer di atas kain beludru. Ia adalah sebuah organisme raksasa yang bernafas, sebuah simfoni partikel yang saling bergetar dalam harmoni yang rumit, memantulkan tanda-tanda (ayat) Kemahakuasaan yang Satu. Dalam kosmologi Islam, keterhubungan ini bukanlah metafora belaka, melainkan prinsip fundamental. Maka, pernyataan bahwa segelintir manusia berbuat jahat akan merusak alam semesta, mengenai juga mereka yang berbuat baik, menemukan resonansi yang dalam dalam akidah, syariah, dan tasawuf. Ini adalah cerminan dari sunnatullah hukum Allah di alam yang berlaku adil dan tak memandang pelaku.

Dalam Alquran, prinsip ini dijelaskan dengan gamblang, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41).

Ayat ini menegaskan sebuah hubungan kausal yang tak terbantahkan: kejahatan (kerusakan, kezaliman, fasad) yang dilakukan oleh “tangan manusia” yang bisa jadi dimulai dari segelintir orang pada akhirnya berimbas kepada tatanan alam secara keseluruhan. Banjir, kekeringan, atau wabah yang melanda tidak memilah antara yang zalim dan yang shaleh di level duniawi. Semua merasakan dampaknya, sebagai peringatan dan ujian. Ini adalah konsekuensi dari peran manusia sebagai khalifah (QS Al-Baqarah: 30).

Jika seorang khalifah (wakil) berkhianat dengan merusak wilayah kekuasaannya, maka seluruh rakyat dalam wilayah itu akan merasakan penderitaan. Satu orang yang membabat hutan secara semena-mena atau membuang limbah beracun telah mengkhianati amanah kekhalifahan, dan alam yang murka pun membalasnya kepada semua penghuni.

Pada tataran sosial, Nabi Muhammad SAW menggambarkan prinsip ini dengan perumpaan yang sangat kuat. “Perumpamaan orang-orang yang duduk (berkumpul) di dalam (menjaga) batas-batas Allah dan orang-orang yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang mengundi tempat di dalam sebuah kapal. Lalu sebagian mereka (yang di atas) berkata, ‘Kami tidak akan melubangi (dasar) kapal untuk mengambil air (minum) khusus untuk kami saja.’ Maka jika yang lain (di bawah) membiarkan mereka melakukan itu, niscaya mereka semua akan binasa. Tetapi jika mereka mencegahnya, niscaya mereka semua akan selamat.” (HR Bukhari).

Inilah ilustrasi sempurna tentang bagaimana kejahatan (melubangi kapal) yang dilakukan segelintir orang dengan dalih kebebasan atau kepentingan pribadi akan menenggelamkan seluruh penumpang, termasuk yang saleh dan yang diam. Diamnya orang baik terhadap kemungkaran adalah bagian dari “membiarkan mereka”, yang mengundang kebinasaan kolektif.

Konsep Ummah Wahidah (umat yang satu) menegaskan bahwa tubuh umat bagaikan satu jasad; jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan insomnia (HR Muslim).

Lantas, apakah yang baik hanya pasif menerima takdir? Justru Islam menempatkan tanggung jawab yang lebih berat di pundak yang baik melalui konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Ini adalah mekanisme “sistem kekebalan” ilahiah yang diberikan kepada komunitas beriman.

Allah berfirman, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali ‘Imran: 104).

Tindakan pencegahan terhadap kejahatan bukan hanya hak, tetapi kewajiban yang menentukan keselamatan kolektif. Keberuntungan (al-falah) yang dijanjikan adalah keselamatan dunia-akhirat, baik bagi pelaku amar ma’ruf maupun bagi masyarakat yang diselamatkannya dari kerusakan lebih luas.

Dalam perspektif akhlak dan tasawuf, setiap dosa besar (kejahatan) memiliki dua dimensi kerusakan: zhahir dan batin. Kerusakan zhahir (fisik-ekologis-sosial) dirasakan oleh semua. Sementara kerusakan batin seperti mengeraskan hati, menghilangkan keberkahan (barakah), dan menjauhkan rahmat Allah juga meluas seperti kabut hitam. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan suatu dosa, maka akan muncul noda hitam di hatinya…” (HR Ibn Majah).

Noda-noda hitam kolektif dari segelintir pelaku kejahatan ini, pada skala masyarakat, dapat menutupi cahaya hidayah dan menimbulkan kelangkaan, ketakutan, dan hilangnya ketenteraman, yang dirasakan bahkan oleh ahli ibadah di sudut-sudut masjid.

Kejahatan segelintir orang adalah wujud dari pengingkaran terhadap tauhid, karena ia memutus mata rantai harmoni yang Allah ciptakan. Sebaliknya, kebaikan yang diamalkan dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar adalah upaya merajut kembali jaring-jaring kosmis yang telah dirusak, memulihkan Mizan (keseimbangan) ilahiah di muka bumi.

Pada akhirnya, esensi ini mengajarkan bahwa dalam grand design Allah, tidak ada satu pun dosa yang benar-benar privat, dan tidak ada satu pun kebaikan yang benar-benar steril. Kita semua terhubung dalam pahala dan dosa, dalam kerusakan dan perbaikan, bagai satu tubuh dalam kapal yang sama, mengarungi lautan menuju pantai keabadian. Hanya dengan kesadaran kolektif inilah kita dapat menghindarkan kapal kita dari lubang kehancuran, dan berlayar bersama menuju rida-Nya.**

 

*Penulis adalah Guru Besar Kimia Agroindustri Untan, Ketua Wanhat ICMI Orwil Kalbar, Ketua Hebitren Kalbar.

Editor : Hanif
#Kosmologi #Fundamental #hukum allah #Organisme #islam #alam semesta