Oleh: Eka Hendry Ar*
Bu De jamu, demikian biasa kami memanggil beliau. Bu De adalah bakul jamu yang senantiasa jualan jamu di lingkungan kampus. Satu hari dua kali beliau berjualan, jadwalnya pagi dan sore. Pagi beliau biasa duduk di pelataran gedung Fakultas Pendidikan, dan sore beliau “nyantai” di bawah pohon di depan gedung Biro AUAK. Bu De menjual berbagai jenis jamu, mulai dari kunyit asam manis hingga samiloto pahit, jamu sehat sampai jamu kuat. Maksudnya, kuat kerja, kuat makan, hingga kuat beribadah.
Saking sering dan lama beliau berjualan di lingkungan kampus, beliau sudah seperti “keluarga” dari “civitas akademika” IAIN Pontianak. Beliau tidak hanya “dekat” dengan para dosen aan pegawai, akan tetapi juga “akrab” dengan adek-adek mahasiswa. Barangkali beliau hampir mengenal semua dosen dan pegawai di Kampus. Beliau juga terlihat mengenal para mahasiswa, dan bercengkrama dengan mereka dengan sangat cair. Sayangnya, akreditasi program studi dan institusi belum memasukkan variabel kontribusi masyarakat terhadap kesehatan kampus. Jika ada variabel tersebut, maka IAIN Pontianak, tentu tidak akan kesulitan memenuhi variabel tersebut. Secara langsung dan tidak langsung, Bu De menjadi bagian dari variabel yang berkontribusi terhadap kesehatan civitas akademika IAIN Pontianak, terutama kesehatan jasmani.
Bu De Jamu kini menjadi semiotika kesehatan di kampus kami. Secara simbolik menjadi isyarat bahwa, dunia pendidikan memang membutuhkan variabel kesehatan. Tentu saja kesehatan dalam artian yang luas, seperti kesehatan fisik, kesehatan manajemen, kesehatan paradigma pendidikan, kesehatan operasional pendidikan dan kesehatan relasi sosial antara civitas akademika. Termasuk kesehatan dompet (kesejahteraan pegawai dan dosen). Untuk mewujudkan institusi pendidikan yang sehat kita membutuhkan pemenuhan kebutuhan pokok 4 sehat dan 5 sempurna. Baru kemudian ditambah dengan suplemen, seperti vitamin dan jamu tradisional.
Keberadaan Bu De Jamu, ibarat suplemen tradisional dan kearifan lokal yang menambah daya tahan dan kekebalan (indurance and immunity) tubuh institusi pendidikan dalam menghadapi berbagai “virus akademik dan Non-Akademik”, yang dapat menimbulkan beberapa dampak. Pertama, “rendah darah” etos akademik sehingga mengurangi gairah kompetisi dan berprestasi. Kedua, “hipertensi” hubungan sosial, yaitu hubungan yang kurang mesra, kurang humanis, irrasional, terlalu emosional dan eksklusif, sehingga menganggu suasana kerja. Ketiga, tingginya “kolesterol” komunikasi. Akibatnya ada “organ-organ tubuh” yang berhenti berfungsi, sebagai akibat aluran darah dan fungsi syaraf komunikasi dipenuhi dengan lemak-lemak jahat yang menghambat kelancaran komunikasi dan kerjasama diantara sesama civitas akademika. Termasuk antara pimpinan dan bawahan, antara dosen dan mahasiwa, dan antara pimpinan dengan pimpinan organisasi mahasiswa (ormawa). Keempat, “Stroke” kreativitas dan inovasi. Kampus kehilangan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, sehingga kemampuan kreatif dan inovatifnya berhenti atau paling tidak jalan di tempat (involutif). Sebagai akibat dari akumulasi dari “hipertensi dan kolesterol tinggi” yang terus dibiarkan.
Hal ini terjadi karena asupan makanan akademik dan non akademik yang kurang sehat, terlalu banyak mengkonsumsi “lemak jahat” seperti hanya rutinitas, malas, eksklusif, kurang pergaulan akademik (introvert akademik) dan cepat puas diri. Kemudian kurang olah raga (kurang gerakan dinamis) seperti mengakses perkembangan ilmu, membaca jurnal, membaca buku, meneliti dan membangun komunikasi dengan akademisi lainnya. Kemudian, juga karena tingkat stress yang tinggi akibat tekanan kewajiban administratif yang lebih besar ketimbang kewajiban akademik. Belum lagi ditambah “beban kesejahteraan” yang lebih bersifat privat.
Sebenarnya masih banyak virus-virus akademik dan non akademik yang potensial menyerang tubuh institusi pendidikan. Manakala virus-virus ini tidak dihalau atau dilawan, maka ia akan mengerogoti institusi pendidikan, dan pada akhirnya akan melemahkan fungsinya. Pada gilirannya, implikasi sistemisnya akan berdampak terhadap keseluruhan kualitas penyelenggaraan dan out put pendidikan.
Oleh karena itu, jika ingin institusi pendidikan ini menjadi lebih sehat, maka selain membutuhkan asupan 4 sehat 5 sempurna, kita juga membutuhkan asupan-asupan suplemen lainnya seperti vitamin dan jamu tradisional Bu De. Adapun asupan empat sehat tersebut yaitu visi kepemimpinan yang jelas tentang quo vadis arah IAIN Pontianak ke depan, komitmen dan tanggung jawab semua pimpinan (dari pimpinan teratas hingga jabatan paling bawah) untuk bersama-sama mewujudkan visi kepemimpinan, dukungan finansial (budgeting) terhadap skala prioritas yang menjadi breakdown dari visi kepemimpinan, dan strategi dan taktis dengan blue print yang jelas dan terukur untuk dapat diimplementasikan. Kemudian disempurnakan (lima sempurna) dengan budaya kerja yang bergairah, merit system, jelas reward dan punishment, inkslusif, good governance dan humanis.
Dengan demikian, tubuh institusi pendidikan akan lebih sehat, lebih imun dan memiliki mekanisme penyembuhan sendiri (intrinsic recovery atau self-healing). Karena organisasi pendidikan yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah “sakit”. Namun, tubuh organisasi yang sehat adalah organisasi pendidikan yang mampu menemukan obat dan menyembuhkan sendiri setiap “penyakit” yang mereka hadapi.
Bentuk penyembuhan tersebut antara lain dengan menjaga keseimbangan internal (homeostasis) antara kesehatan jasmani dan rohani, antara beban kerja dan reward yang diperoleh, antara keseriusan dan kesantaian. Kemudian metabolisme dengan cara mengubah asupan empat sehat dan lima sempurna menjadi “ledakan energi” berprestasi atau meminjam istilah psikolog David McClelland, need for achievement (N-Ach). Kemudian menguatnya sistem imun, sehingga tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada. Menghadapi dan menyelesaikan masalah, bukan menghindari masalah. Kemudian kemampuan regenerasi yaitu memperbaharui dan peremajaan sel-sel dari tubuh organisasi yang sudah rusak sebagai akibat dari cidera atau penuaan. Semoga dengan jamu Bu De, institusi pendidikan kita bertambah sehat se sehat-sehatnya. **
*Penulis adalah dosen FTIK IAIN Pontianak.
Editor : Hanif