Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kajian Manuskrip (Masih) Seksi

Hanif PP • Selasa, 16 Desember 2025 | 11:56 WIB
Khairul Fuad
Khairul Fuad

Oleh: Khairul Fuad*

REALITAS sekarang yang tampak canggih (sophisticated) besar kemungkinan bersumber dari persoalan yang sederhana atau malah sangat sederhana. Bahkan, berawal dari persoalan yang tidak diinginkan sebelumnya sebagai tujuan, atau eksperimen gagal justru menjadi catatan khusus untuk sesuatu yang kini menjadi bagian kehidupan pada umumnya. Misalnya, pemikiran radiks sekarang ini pada dasarnya berasal dari awal yang sederhana, baik berujung sebagai sains sosial  melalui kajian berkelanjutan maupun sains aksakta melalui eksperimen.

Pada gilirannya, berujung kesadaran melalui pembacaan mendalam dari berbagai informasi atau kajian mendalam juga melalui berbagai literatur sebelumnya. Radiksnya lagi, sumbangsih pengetahuan masa-lalu justru inspirasi, bahkan peletak dasar pengetahuan yang sering inheren dengan istilah modern. Sebuah pengetahuan yang memikul label negatif, berdampak kesan kurang mengenakkan, ketinggalan zaman atau irrasional.

Padahal, kemungkinan besar menjadi gerbang memasuki zaman demi zaman sampai zaman sekarang ini. Oleh karena itu, beberapa pihak, seperti para intelektual, me-reset pemikiran sebagai upaya menapaki ulang jejak lalu untuk mempertegas jati-diri dan kemandirian pengetahuan sendiri. Upaya semacam itu menyulutkan istilah bahwa pengetahuan itu dari timur ke barat, bukan sebaliknya, dan dipastikan ambil jalan peta kajian mendalam. Seperti upaya meluruhkan pengaruh kolonialisme melalui pergerakan halus, yaitu penelitian, move on dari ketergantungan atau memaksa politik-etis kembali.

Upaya ambil tindakan di antaranya, kajian manuskrip, sebuah kajian berbasis pada tulisan tangan melalui peta-jalan filologi. Meskipun, seiring perubahan zaman, kajian ini juga merambah pada tulisan cetak yang mengandung informasi berharga. Kajian manuskrip memang bertumpu kepada teks tertulis, tetapi juga berefeks kepada konteks masyarakat tertentu yang melahirkan teks tersebut.

Perlintasan sejarah Indonesia mewariskan situsnya, bernama manuskrip atau naskah di pelbagai wilayahnya. Bahannya sebagai media tulis beragam, meski yang akrab ditemui berbahan kertas dengan berbagai aksara yang digunakan, tidak hanya Arab Melayu (Jawi/Pegon). Termasuk, isi yang tercatat di dalamnya berbagai ragam aspek pengetahuan terkat kehidupan, tidak hanya keagamaan.

Menurut Pudjiastuti (2011), berbagai genre terdapat di dalam manuskrip Nusantara sebagai penanda kultur identitas dari segala pengetahuan terkait kehidupam manusia, seperti sastra, seni, agama dan kepercayaan, teknologi, dan sebagainya. Dengan demikian, manuskrip merupakan tanda dan penanda peradaban Nusantara sebagai tinanda legasi yang perlu dalam ikhtiar peta jalan kajian.

Oleh karena itu, apa yang di dalam manuskrip berpotensi kapitalisasi produk pengetahuan sebagai wujud kontekstualisasi para pendahulu itu luhur, lagi adiluhung sekaligus titik-tolak dan tolok-ukur kebudayaan Nusantara. Sekiranya terbuka meneroka pengetahuan yang masih tersimpan di dalam manuskrip demi mengukuhkan bahwa intelektualitas telah membudaya sebagai sebuah kesadaran kini. Berpeluang juga basis pengetahuan manuskrip terlupakan sebagai parameter menelisik untuk perkembangan kini.   

Peta jalan kajian menjadi niscaya dan menarik terpumpun manuskrip Nusantara yang tersebar di Indonesia, bahkan kemungkinan besar melampaui batas negara. Niscaya sebab bagian khazanah Nusantara memperkukuh eksistensi yang harus didukung pengetahuan mapan (establish) melalui produksi pengetahuan. Menarik yang dimungkinkan sebagai posisi tawar (bargaining-position) atau antitesis terhadap pengetahuan kekinian demi kompatibel etika dan norma sendiri.

Ditambah, koleksi manuskrip Indonesia tergolong masih banyak dan cenderung melimpah. Catatan Perpusnas tahun 2025 ada sekitar 143.259 terdiri 100.770 berada di tanah air dan 42.489 berada di Luar Negeri. Bahkan catatan Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurrahman (1999) terdapat 30 negara yang menyimpan manuskrip berciri Indonesia. Secara kasat mata bisa dibayangkan betapa kaya pengetahuan khazanah Indonesia sekaligus peluang produksi pengetahuan berbasis manuskrip secara kuantitas.

Secara kualitas, perlu upaya mendalam untuk menyikapi melimpahnya manuskrip Indonesia. Misalnya, digitalisasi manuskrip sebagai upaya menjawab tantangan di era disrupsi untuk memudahkan saat kajian sekaligus menghindari distorsi bahannya yang rentan rusak termakan usia. Tentunya, kajian teks manuskrip secara filologis masih tetap upaya signifikan sebagai sebuah jalan produksi pengetahuan demi kepentingan tertentu sesuai isi teks manuskrip, kemungkinan agama, sosial-budaya, teknologi, dan sebagainya.

Sebuah organisasi nirlaba, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) sebagai bahtera, baru saja memiliki nakhoda anyar periode 2025–2029, Agus Iswanto, selama ini telah mengarungi melimpahnya manuskrip melalui berbagai kegiatan, tentu saja riset.

Beranggotakan lapisan masyarakat yang menaruh peduli terhadap eksistensi manuskrip Indonesia sekaligus upaya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manuskrip di tengah masyarakat.  Bahkan, manuskrip merupakan bagian dari asset negara berupa pengetahuan masa lalu yang dapat diproduksi sebagai kapitalisasi manfaat untuk maslahat umat.  

Termasuk, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), lembaga negara relatif anyar hasil gabungan beberapa lembaga riset negara, juga membesut riset-desk melalui Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan. Negara hadir upaya peduli terhadap melimpahnya manuskrip tersebut melalui kajian dengan berbagai pendekatan. Studi lapangan dan studi pustaka semenjak berdiri telah dilehat untuk memperoleh manuskrip di seantero Nusantara dan menelaahnya dari lembaga-lembaga dokumentasi, seperti Perpusnas.

Tidak kalah penting, Kalimantan Barat sebagai lumbung manuskrip masih terbuka kajian dengan berbagai perspektif. Misalnya, manuskrip jual-beli tanah tampaknya terbuka kajian mendalam, setidaknya dari manuskrip tersebut muncul produksi pengetahuan tentang parit sambil mempertegas Kota Pontianak kota seribu parit.

Lanskap parit juga dapat ditelusuri untuk menolak lupa bahwa parit bagian dari tata-kelola pemerintahan Pontianak sekaligus relasi interaksi antarmasyarakatnya saat transaksi tanah berbasis parit sebagai batas tanah. Produksi pengetahuan masa lalu masih tetap terhampar luas sebagai pijakan atau acuan memantik kesadaran kini melalui melimpahnya manuskrip yang (masih) seksi dijajaki melalui jalan peta kajian (riset).**

 

*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).

Editor : Hanif
#pengetahuan modern #Eksperimen Sederhana #kesadaran #Kajian Mendalam