Oleh: Hermansyah*
Di tengah semakin seringnya banjir, longsor, kebakaran hutan, dan krisis air yang melanda berbagai wilayah Nusantara, kita kerap mencari jawaban melalui data, peta, dan laporan ilmiah. Namun, jauh sebelum istilah krisis ekologi dikenal, masyarakat Nusantara telah menyimpan ingatan tentang keseimbangan alam dan tanda-tanda kerusakannya dalam bentuk yang lebih halus dan bertahan lama: pantun. Tradisi lisan ini tidak sekadar merekam keindahan alam, tetapi juga menyimpan pengetahuan tentang hubungan timbal balik antara manusia, lingkungan, dan tatanan sosial.
Air jernih dari hulu,
Mengalir tenang ke hilir rawa;
Pantun lahir dari bisik semalu,
Menyimpan alam dalam bahasa tua.
Pantun seperti inilah yang membuka pintu untuk memahami bahwa ingatan ekologis Nusantara tidak pernah disimpan dalam buku atau peta, melainkan ditenun halus dalam kias, irama, dan metafora empat baris yang diwariskan lintas generasi. Melalui pantun, sungai yang jernih, musim yang berganti, hutan yang tegak, serta flora dan fauna yang hidup berdampingan direkam sebagai memori kolektif yang terus hidup. Pantun bukan sekadar seni tutur, melainkan repositori pengetahuan: arsip hidup yang membimbing cara masyarakat Nusantara, khususnya Melayu, melihat, menamai, dan merawat alam tropika yang menjadi rumah budayanya.
Pantun telah lama menjadi salah satu ekspresi budaya paling khas dalam dunia Melayu. Ia hadir sebagai permainan bahasa yang indah, sarana komunikasi sosial, sekaligus wahana pendidikan moral yang lembut. Namun jika dibaca secara lebih mendalam, pantun menyimpan struktur pengetahuan yang jauh melampaui fungsi estetika. Ia tidak dapat dipahami semata sebagai karya sastra lisan, melainkan sebagai sistem pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman kolektif masyarakat dalam berinteraksi dengan lanskap sekitarnya selama berabad-abad. Setiap pembayang yang menyebut buah, pohon, sungai, angin, burung, ikan, gunung, atau cuaca memuat kode-kode relasional yang menghubungkan manusia dengan ruang hidup yang mereka huni.
Keberlimpahan unsur alam dalam pantun bukanlah pilihan kebetulan atau hiasan semata. Ia mencerminkan kedekatan eksistensial masyarakat dengan lingkungannya. Nama-nama buah seperti delima, rambai, kundur, langsat, duku, kuini, cermai, manggis, nangka, cempedak, dan kedondong, yang sebagian mungkin asing bagi generasi mutakhir—muncul mengikuti pola yang mencerminkan siklus musiman dan ritme ekologis lokal. Pantun seperti:
Buah langsat jatuh berderai,
Jatuh bergolek di tepi paya;
Jangan lekas menurut ramai,
Fikirkan dulu untung ruginya.
Tidak hanya menyampaikan nasihat sosial, tetapi juga merekam hubungan ekologis antara musim buah, kondisi tanah, dan naik-turunnya air paya pada peralihan hujan. Informasi semacam ini hanya sepenuhnya dipahami oleh mereka yang hidup dekat dengan hutan dan ladang. Demikian pula penyebutan tumbuhan seperti pandan, nipah, kelapa, nibung, rumbia, meranti, dan beringin tidak pernah bersifat acak.
Setiap spesies menandai ekosistem tertentu: pandan merujuk wilayah pesisir berpasir, nipah menandai muara dan rawa payau, nibung berkaitan dengan lahan gambut, sementara beringin sering hadir sebagai penanda ruang teduh di pedalaman. Dalam pantun-pantun yang menyebut unsur-unsur ini, masyarakat sesungguhnya sedang mewariskan peta ekologis yang dikodekan dalam bahasa kias.
Tinggi kelapa di tanah pasir,
Nibung tegak di rawa sunyi;
Jaga alam agar tak jadi banjir,
Rusak hutan hilanglah budi.
Pantun ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang lanskap diterjemahkan menjadi norma etis. Menjaga alam tidak dipisahkan dari menjaga budi, karena kerusakan lingkungan dipahami sebagai cermin keretakan moral.
Gunung Palung puncaknya tinggi,
Kabut pagi menutup lembah;
Kalau budi menjadi perigi,
Airnya bening menghapus resah.
Di sini, bentang alam berfungsi sebagai metafora sekaligus kerangka berpikir: kejernihan air dan kejernihan budi berada dalam satu tatanan nilai yang sama.
Sungai dan air, unsur sentral dalam kehidupan masyarakat Melayu yang hidup di sepanjang jalur sungai, pesisir, dan kepulauan, kerap menjadi simbol perjalanan hidup sekaligus penanda dinamika ekologis. Banyak pantun memotret air jernih di hulu, air keruh di hilir, ombak kecil di tepi pantai, dan gelombang besar saat angin musim berganti. Semua ini bukan sekadar metafora puitik, melainkan hasil pengamatan empiris yang diwariskan. Sebuah pantun klasik menyatakan:
Air hulu jangan dikotori,
Tempat seluang beranak pinak;
Bercakap santun tanda bijak,
Berbuat baik menuai hormat.
Pantun ini menyiratkan pemahaman dasar bahwa kualitas air ditentukan oleh kondisi hulunya, sebuah prinsip ekologis yang telah dikenal jauh sebelum ilmu hidrologi modern berkembang. Pantun juga berfungsi sebagai mekanisme pengatur perilaku lingkungan. Pesan-pesan tentang menjaga sungai, menebang pohon dengan bijak, dan menghormati ruang hidup makhluk lain disampaikan melalui kiasan yang halus.
Ikan seluang, yang sensitif terhadap pencemaran, dijadikan indikator ekologis sekaligus alat pendidikan moral. Hubungan sebab-akibat antara perilaku manusia dan keberlangsungan hidup makhluk lain disampaikan tanpa nada menggurui.
Tebang jati jangan sembarang,
Tanah runtuh menimpa paya;
Bekal hidup jangan dikurang,
Rendah hati sepanjang nyawa.
Pantun ini menunjukkan pemahaman tentang hubungan antara penebangan hutan, struktur tanah, dan risiko erosi. Norma ekologis ditegakkan bukan melalui aturan tertulis, melainkan melalui etika budaya yang diinternalisasi. Dalam kerangka ini, pantun juga membangun kosmologi relasional: alam tidak dipandang terpisah dari manusia, melainkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang saling memengaruhi.
Burung Enggang terbang ke rimba,
Pohon ulin tegak berdiri.
Negeri miskin rakyat sengsara
Jika pemimpin mementingkan diri.
Pantun ini menautkan tatanan sosial dengan keteraturan alam. Burung enggang dan pohon ulin tampil sebagai simbol kekuatan yang hanya bermakna jika berada dalam relasi yang seimbang. Enggang melambangkan kepemimpinan yang berwawasan dan menjaga harmoni, sementara ulin merepresentasikan keteguhan nilai dan fondasi sosial. Ketika pemimpin menyimpang dari prinsip tersebut, penderitaan rakyat dipahami sebagai tanda rusaknya keseimbangan yang lebih luas.
Dengan demikian, pantun merupakan sistem pengetahuan yang mencatat, mengingatkan, menata, dan menggerakkan. Krisis lingkungan tidak hanya menandai hilangnya hutan atau rusaknya sungai, tetapi juga terputusnya hubungan emosional dan kognitif antara manusia dan alam. Jika pantun adalah buku alam yang ditulis oleh leluhur, maka tugas generasi kini adalah memastikan teks itu tetap dapat dibaca. Menjaga pantun berarti menjaga cara pandang; menjaga cara pandang berarti menjaga alam agar kehidupan tetap berdenyut dan bermakna. Melalui seluruh dimensi ini, pantun tampil sebagai sistem pengetahuan ekologis yang utuh: ia mencatat, mengingatkan, menata, dan menggerakkan manusia dalam hubungannya dengan alam. Selamat Hari Pantun.**
*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.
Editor : Hanif